Titian Kehidupan (Cerpen)
Suatu hari aku
bertemu dengan kawan baru di tempat yang juga baru. Masa itu tak pernah
terfikirkan dalam benakku sebelumnya. Di hari penantianku menuju masa transisi.
Usia tak kan ada yang tahu kapan kan terhenti. Kecuali si Pencipta waktu itu
sendiri. Saat itu aku tak kenal mereka. Aku datang ke tempat baru itu hanya
dengan bermodal kemauan dan sedikit otak encer. Hmm.. Apa ya yang kufikirkan
saat itu hingga aku bisa sampai di tempat yang diidamkan oleh sebagian orang
sebayaku. Sedikit mengingat saat sebelum aku disana, memang bukan hal yang
mudah. Namun, dimana ada kemauan pasti ada jalan. Ya, karena keyakinan itu, aku
jadi tak pernah lelah untuk maju.. Terus berusaha walau tak sedikit ujian yang
kuhadapi.
Kini usaha dan
doa itu membuahkan hasil. Allah memang Maha tahu. Aku bersyukur padaNya.
TanpaNya, tak mungkin aku mampu bertahan.
Hari penantian
itu tiba, setelah beberapa hari menunggu kepastian, aku menuju papan pengumuman
mencari namaku. Ku lihat perlahan dari ujung ke ujung. Aku terkesan dengan
nilai-nilai terbaik pada kertas yang ditempel di papan itu. Wow.. banyak
sungguh pesaingku demi mendapat sebuah kursi di sana. Hingga aku melihat sebuah
tulisan “Citra Pertiwi,” Alhamdulillah
namaku tertera di antara ratusan nama di papan. Tak henti-hentinya ku panjatkan
rasa syukur padaNya. Tak puas sampai di sana, aku berfikir, mungkinkah aku
mampu mempertahankan semua ini hingga akhir.
Hari demi hari,
waktu kian menunjukkan proses panjang, entah dalam pertambahan atau pengurangan
sisa umurku. Dunia seakan memberi tahu siapa dirinya. Perlahan tetapi pasti. Aku
mulai mengenal tentang banyak hal. Namun, masih terbatas dalam perspektifku. Kini
aku memasuki usia yang orang bilang paling ditunggu-tunggu. Masa remaja,
transisi dari anak menjadi dewasa, baik secara fisik atau pemikiran. Pernah
kudengar di masa ini pikiran seseorang akan menjadi labil, serba ingin tahu,
dan lainnya. Oleh sebab itu, aku jadi lebih berhati-hati setiap melangkah ke
hal baru.
Kini, aku sudah
separuh jalan menuju dunia kampus. Tak seperti harapanku dulu semasa SMP,
dimana inginku jadi seorang dokter. Ya cita-cita ini banyak digemari oleh
seusiaku kala itu. Namun, ku tahu kehendak Tuhan lah yang menentukan. Saat kenaikan
kelas dua SMA, aku tak masuk IPA. Mungkin memang ini yang terbaik, fikirku
menenangkan. Kehidupanku mulai berubah
sejak saat itu. Aku menjadi sosok yang ´terpaksa´ hiperaktif, suka keluar
kelas, bahkan sering mengabaikan tugas. Kalau aku analisis, penyebabnya ya isi
kelas baruku itu. Bayangkan saja, baru beberapa hari di kelas, sudah membuat
seorang guru tak mau mengajar. Beliau tak tahan mendengar kegaduhan kelas kami
katanya.
Maklum mayoritas
siswa di kelasku memang berlatar belakang ´anak bandel´ kata sebagian guru.
“Hufh, aku ga betah deh lama-lama disini.” Aku dan beberapa teman yang
sependapat awalnya ingin sekali mengajukan diri untuk pindah. Ogah cari masalah
sama guru, tapi dalam hal ini aku ga ikut-ikutan loh.. tapi tetep aja kena
getahnya. Waktu masih terus berjalan. Makin lama kami saling mengenal satu sama
lain. Satu semester terlewati, aku mulai mengerti bahwa mereka sebenarnya siswa
yang baik. Hanya saja cara mengekspresikan diri mereka berbeda dari sebagian
lain.
Pernah ku dengar
dari seorang guru. Ada banyak cara yang bisa dilakukan seseorang untuk
mengekspresikan perasaan sedih, bahagia, marah, dan lain-lain. Mulai dari teriak-teriak, bercerita dengan
orang lain, menyendiri, atau hanya dengan tersenyum. Beliau mengatakan semua
itu bisa terjadi karena setiap manusia memiliki cara berbeda dalam hidupnya.
Ada orang yang ketika senang, teriak-teriak, karena mungkin ia senang menyetel
musik keras. Lingkungan tempat tinggalnya gaduh, dekat jalan raya, dsb. Ada
juga yang ketika bahagia hanya tersenyum. Ketika sedih menyendiri atau menangis
sejadi-jadinya. Mungkin ia terbiasa menyetel musik jazz, lagu sedih, atau ia
memiliki kebiasaan tertentu di rumah, dll. Aku fikir tak bisa menyalahkan
begitu saja kenakalan setiap anak. Karakter itu kan terbentuk seiring dengan
apa yang dilihat dan didengar si anak.
***
Di semester dua,
aku mulai membaur dengan kawan-kawanku di kelas dua ips 1 itu. Terkadang aku
menjadi seperti mereka, entah saat bersikap, berbicara, atau lainnya. Aku yang
tadinya ga pernah datang ke sekolah terlambat jadi terbiasa bangun kesiangan
dan sampai sekolah saat bel berbunyi. Tugas dikerjain pas di sekolah dan
waktunya dikumpulin. Kacau deh pokoknya. Aku jadi teringat saat membaca artikel
di sebuah koran ternama, menurut seorang penulis novel, masa remaja adalah
masa-masa paling sulit dalam kehidupan manusia, “Selain indah dan penuh warna
masa remaja itu paling sulit. Ada yang berhasil melewatinya, ada yang tidak.”
Mulanya aku
sempat bingung menghadapi semua yang terjadi. Seperti itulah jadinya. Aku
seperti terbawa dalam dunia yang tak seharusnya aku di sana. Beruntung, aku
masih dalam lindunganNya. Aku dipertemukan kembali dengan teman yang baik saat
kelas satu. Darinya aku berkenalan dengan orang-orang baik. Aku mengerti kini
tentang suatu yang baik dan buruk. Mulailah aku dekat dengan yang berakhlak
baik dan mengurangi interaksi dengan yang berakhlak kurang baik.
Inilah pilihan, kusadari
itu. Alhamdulillah, sejak bergaul dengan
mereka, aku merasa lebih nyaman dan aman. Aku menjalani hari seperti biasa,
dunia rasanya jadi berbeda. Hmm.. lebih menyenangkan. Aku masih berteman dengan
kawan di kelasku tapi aku senang ke kelas lain saat istirahat. Akan tetapi,
yang namanya hidup pasti selalu ada masalah dan tentunya pilihan. Satu selesai
muncul lagi yang baru.
Di masa itu,
banyak ku manfaatkan waktu untuk berorganisasi. Hingga aku sempat izin beberapa
kali untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Banyak kenangan yang ku dapat saat
bersama dengan teman satu organisasi. Aku belajar berbagai hal, aku pergi ke
tempat-tempat baru, mengenal karakter berbeda, dan masih banyak lagi. Namun,
kesibukanku tersebut, malah membuat nilai raportku menurun. Aku cukup sedih dan
kecewa serta tak mau mengulanginya.
Satu semester
terlewati, kini aku naik ke tingkat selanjutnya. Di kelas tiga, aku bertemu
beberapa kawan baru yang tidak pernah kujumpai dulu. Disinilah aku bertemu
dengan seseorang yang ´menjadi tambatan hati´. Kata orang dimana ada pertemuan
pasti akan ada perpisahan. Karena itu aku ingin jadikan segalanya berkesan.
Sebelumnya, aku tak pernah bertemu dengannya tapi namanya sungguh tak asing
bagiku.
“Adhi Rahman
Putera.” Atau sering dipanggil ´Adi´ ini sering diceritakan oleh adik kelas
yang kebetulan tinggal dekat rumahku. Setiap berpapasan pulang dari sekolah,
kami selalu bercerita tentang teman di kelas masing-masing. Ia pernah berulang
kali menceritakan tentang ketua organisasi yang digelutinya. Katanya si namanya
Adi. Waktu itu aku sama sekali ga pernah denger tuh sama yang namanya Adi. Ia
bersikukuh mengatakan ada tapi ia sendiri ga tau di kelas mana. Lalu, katanya
si Adi sekelas sama aku sekarang. Setahuku si hanya ada satu nama itu di kelas.
Saat aku menyadari hal itu, diam-diam aku senang, dialah tambatan hatiku. Aku
juga ga ngerti kenapa harus dia.
Ujian ini lebih
membahayakan dari yang sudah-sudah. Setiap hari aku harus ketemu dia.
Sebenarnya ingin sekali bersikap biasa saja, tapi apa boleh buat. Untuk
beberapa kali kami dijadikan satu kelompok dalam mata pelajaran tertentu hingga
seiring berjalannya waktu, aku jadi lebih mengenalnya. Awalnya memang
menyenangkan, tapi justru ini yang aku takutkan.
Di akhir
semester tiba-tiba ia menderita sakit parah yang mengharuskannya dirawat di
rumah sakit. Ia sempat cerita bahwa ia memiliki penyakit dan terkadang akan
kambuh. Pada semester lalu saja ia sering absen di kelas karena sakit. Sempat
aku dan beberapa teman sekelas menjenguk ke rumahnya. Dan ini untuk kesekian
kalinya penyakit itu muncul lagi. Aku sering mengingatkannya untuk jaga
kesehatan, jangan terlalu kecapaian, dll tapi memang dasarnya bandel, yaudah
gini deh jadinya.
Selama beberapa
minggu ia menginap di rumah sakit. Aku jelas khawatir. Aku mengenal keluarganya
begitu juga sebaliknya. Aku sangat takut saat itu. Apalagi saat ku dengar vonis
dari dokter bahwa hidupnya tak akan lama lagi. Aku ikhlas akan semua yang mungkin
terjadi. Akhirnya, kesehatannya pulih kembali di minggu keeempat ia di rumah
sakit. Namun, selama beberapa waktu ia masih harus di rumah hingga akhirnya ke
sekolah seperti biasa. Aku masih ingat hari-hari di kelas tanpanya, kosong,,
selalu kurasakan kehampaan yang sama saat dia tak ada. Ya begitulah, namanya
juga remaja.
Bulan berikutnya,
ia telah masuk kelas kembali. Kehampaan itu pun hilang secepat kilat. Waktu
terus berjalan, hingga suatu ketika saat akhir sekolah, menjelang ujian
nasional, dia drop lagi. Kondisinya jauh lebih buruk dari sebelumnya. Aku
sangat takut.. ya hal yang aku takutkan pun terjadi. Ia dipanggil yang Kuasa
sehari sebelum ujian nasional. Aku sangat sedih, entah semua ini terlalu cepat
bagiku. Kepergiannya meninggalkan banyak kenangan. Sempat ku marah padaNya.
Kenapa ini yang Kau takdirkan untukku. Di akhir sekolah, saat pengumuman
kelulusan, aku merasa begitu sedih.. begitu banyak hal yang kulalui di masa
ini. Sahabat-sahabatku selalu menenangkanku jika aku mulai bersedih. Mereka
selalu ada saat kapanpun baik ku minta atau tidak. Aku mencintai mereka
karenaMu, Ya Robb. Jaga mereka kapanpun, dimanapun, saat aku tak ada di dekat
mereka.
Proses ini sungguh
berharga bagiku. Ujian-ujian itu membuatku lebih tangguh menjalani hidup. Prestasiku
di masa ini lebih dari nilai-nilai di buku besar berlogo sekolahku. Aku
benar-benar belajar tentang hidup, tentang cinta, sahabat, dan dunia yang fana
ini. Aku pun telah mengenal diriku seiring ku mengenal Penciptaku. Terima kasih
untuk semuanya ya Tuhanku, keluarga, dan orang-orang selalu mendukungku. Aku
bukan siap-siapa tanpa kalian. Ku harap setelah ini aku mampu jadi pribadi yang
lebih baik dan kuat. Amin.
Komentar
Posting Komentar