Pinggir Kota (Part 1)
Tuhan, salah apa aku?
Mengapa aku tak bisa merasakan kebahagiaan bersama keluarga?
Tidak adilkah Engkau padaku?
Tidak!
Saksikanlah,
Masih ada canda, tawa di antara kita
Menyelinap di antara getirnya hidup
Sekali lagi, ku mohon..
Hidup ini bukan untuk diratapi
Bangkitlah, sayang
Hari cerah menanti
Mengapa aku tak bisa merasakan kebahagiaan bersama keluarga?
Tidak adilkah Engkau padaku?
Tidak!
Saksikanlah,
Masih ada canda, tawa di antara kita
Menyelinap di antara getirnya hidup
Sekali lagi, ku mohon..
Hidup ini bukan untuk diratapi
Bangkitlah, sayang
Hari cerah menanti
Ia akan setia menunggumu
Hingga suatu hari nanti engkau siap
(Hilda)
September 2012
Inilah minggu kedua kegiatan belajar dimulai. Sebuah gang sempit, tak jauh dari jalan raya, tampak rumah sederhana dengan halaman cukup luas untuk dua atau tiga mobil. Tak ada pagar yang menjaga keamanan rumah ini. Tampak beberapa anak bermain di halaman, ada juga yang duduk-duduk sambil mengobrol. Penjual bubur kacang hijau pun terlihat menunggu pembeli. Di sekeliling, sampah berserakan. Halaman tak di sapu dan barang-barang tak terpakai dibiarkan tergeletak.
Inilah minggu kedua kegiatan belajar dimulai. Sebuah gang sempit, tak jauh dari jalan raya, tampak rumah sederhana dengan halaman cukup luas untuk dua atau tiga mobil. Tak ada pagar yang menjaga keamanan rumah ini. Tampak beberapa anak bermain di halaman, ada juga yang duduk-duduk sambil mengobrol. Penjual bubur kacang hijau pun terlihat menunggu pembeli. Di sekeliling, sampah berserakan. Halaman tak di sapu dan barang-barang tak terpakai dibiarkan tergeletak.
Pagi itu, langit cukup bersahabat. Tiada mendung tiada panas. Cahaya mentari mengintip isi rumah. Mencari tahu apa yang ada di dalam. Lengang hanya itu yang tampak. Aktivitas sebentar lagi dimulai. Para tutor -pengajar kelas- bersiap mencari tempat yang nyaman untuk membuat kelas dadakan. Papan tulis, penghapus dan spidol tak lupa diperiksa kelengkapannya. Hari ini enam tutor membagi tugas mengajar anak-anak berdasarkan jenjang pendidikan.
Belasan anak dari yang belum sekolah hingga SMP sibuk mencari posisi yang sesuai berdasarkan pembagian kelas. Mereka semua ingin mendapat tempat. Riuh sesaat. Tak lama mereka duduk dengan rapi, terkecuali usia pra sekolah. Mereka gaduh. Berebut meja. Tarik-menarik pensil, kertas gambar, atau apapun yang ada di dekatnya. Sang tutor dengan sigap melerai. Perlu kerja keras ekstra dalam menangani bocah-bocah ini. Salah menyikapi bisa berakibat fatal. Untunglah, si tutor mampu menangani. Semua tenang dan siap belajar.
***
"Inul, bu guru udah datang," teriak Nisa. Ia bersama salah satu guru, ke rumah para murid yang tinggal di samping panti. Dari satu rumah ke rumah lainnya mereka memanggil dan mengajak anak-anak belajar di panti. "Ayo belajar di panti. Jangan lupa bawa buku." tegas bu guru. Mereka akhirnya membawa beberapa anak-anak ke panti. Mereka segera mengambil meja belajar dan menyiapkan alat tulis.
Beraneka pelajaran bisa mereka dapatkan setiap hari Minggu. Jika biasanya di Minggu pagi mereka masih memeluk guling, lain halnya dengan sekarang. Tutor datang, mereka bergegas. Jika ada yang masih tidur, mereka segera bangun, mandi atau sekadar mencuci muka dan sikat gigi. Murid yang tinggal di panti, dibangunkan semua. Tidak ada anak yang masih tidur. Jika saatnya belajar tiba, mereka mulai belajar.
(bersambung)
***
"Inul, bu guru udah datang," teriak Nisa. Ia bersama salah satu guru, ke rumah para murid yang tinggal di samping panti. Dari satu rumah ke rumah lainnya mereka memanggil dan mengajak anak-anak belajar di panti. "Ayo belajar di panti. Jangan lupa bawa buku." tegas bu guru. Mereka akhirnya membawa beberapa anak-anak ke panti. Mereka segera mengambil meja belajar dan menyiapkan alat tulis.
Beraneka pelajaran bisa mereka dapatkan setiap hari Minggu. Jika biasanya di Minggu pagi mereka masih memeluk guling, lain halnya dengan sekarang. Tutor datang, mereka bergegas. Jika ada yang masih tidur, mereka segera bangun, mandi atau sekadar mencuci muka dan sikat gigi. Murid yang tinggal di panti, dibangunkan semua. Tidak ada anak yang masih tidur. Jika saatnya belajar tiba, mereka mulai belajar.
(bersambung)
Komentar
Posting Komentar