Personifikasi

Pagi itu, memang tak biasa. Karena memang aku sedang tidak berada di tempat biasa. Terbebas dari kegiatan rutin, mengatur jadwal, dan kesibukan lain yang cukup menyita waktuku. "SELAMAT PAGI," teriakku lantang. Ku kepakkan kedua tanganku, ku hirup udara pagi sedalam-dalamnya. Hening. Lantai keramik itu dingin. Terasa sekali saat aku menyentuh lantai teras rumah. Aku terduduk. Di kejauhan, asri pegunungan tak dapat mengalihkan pandanganku. Namun, tak selama yang kukira, suara gemericik air memecah sunyi. Entah dari mana asalnya dan rasa ingin tahu, melangkahkan kakiku mendekat ke sumber suara. Siapa sangka, keriuhan air itu berasal dari sela-sela akar tanaman. Terus mengalir menuju ke dalam tanah. 

"Tanaman yang cantik, teruslah tumbuh dan berkembang. Sebarkan unsur O2 di sekitarmu. Tempat ini akan selalu sejuk jika kamu bahagia," bisikku di antara tanaman yang tumbuh di taman depan teras. "Dan kamu, air yang jernih, mengalirlah sampai lelah itu lelah mengikutimu. Basahilah akar-akar tanaman dan rerumputan. Ok," kuacungkan dua ibu jariku, tersenyum sendiri dan memang tak ada siapapun di tempat ini, selain aku. Kakak baru kembali nanti sore, ibu dan ayah tak ikut. Mereka masih ada pekerjaan di Jakarta.

Mungkin bagi orang lain, hal itu aneh. Namun, tidak untukku. Nuansa alam nan syahdu ini momen bagiku. Mengakrabkan diri dengan lingkungan abiotik dan biotik di sekeliling. Apalagi di atas sana. Sinar mentari memancarkan keindahan langit biru dan putihnya awan. "Lihat, awan itu tersenyum padaku," aku berbisik pada dedaunan. Lengkung garis bak senyum yang tak bisa kulupa. Keharmonisan alam itu yang jadi inspirasiku menjalani kehidupan.

"Sahabat alamku, aku tinggal dulu ya, aku ingin ke kebun. Tetaplah kalian menjadi ekosistem yang bersinergi. I love you all."

Bergegasku menuju belakang rumah. Sebuah kebun yang ditumbuhi beraneka sayur dan buah ada di sini. Baskom besar di sudut pintu belakang, ku angkat. Aku akan memetik sayur dan buah yang telah masak. Beberapa wortel yang telah ranum dari bawah tanah, kukumpulkan. Segera akan kuberikan pada kelinci-kelinci putih di kandang. Si induk kelinci dan anak-anaknya telah menunggu sarapan pagi. "Ayo, saatnya makan," ucapku riang. Induk kelinci beserta ketiga anaknya menghampiri, seakan menjawab pertanyaanku.

Ah, semua itu baru saja usai. Aku tidak akan lama di sini. Dunia realita akan segera datang. Tiga hari di tempat ini sungguh merelaksasikan tubuhku. 

Akan tetapi, tidak ada lagi burung-burung kecil, kucing belang, dan kelinci yang selalu asyik diajak berkejar-kejaran di kebun nanti. Kakak telah kembali bersama suaminya. Esoknya pun aku harus kembali kuliah. Sejenak, hari-hari kemarin mampu hilangkan penat dan jernihkan pikiranku. Kini, ingatan akan ujian hidup lagi-lagi berterbangan di pikiran. Namun, bukan berarti aku menyerah. Dalam keyakinan yang penuh, aku pasti mampu menghadapi segalanya dengan caraku. Inspirasiku tak kan tetap ada, ia akan terus menguatkan aku.

"Ghea, ayo nanti kamu terlambat kereta sore ini," Alia memanggilku dari dalam. Kakakku satu-satunya ini, Aku akan kembali ke kota. Kehidupan keras, katanya, akan terus menghantuiku di kota besar ini. Dari stasiun bogor, aku menaiki kereta commuter line. Kakakku dan suaminya mengantarkanku sampai peron. "Daah. aku akan merindukan kalian"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Film Sang Murabbi

Urgensi Jama’atul Muslimin tuk Tegakkan Islam

Ta'liful Qulub: Sahabat Dunia Akhirat