Sebuah Empiris: Belajar Mendidik
Mendidik
bagiku merupakan tugas setiap yang terdidik dan ladang amal menyampaikan ilmu
yang telah kita dapat.
Bermula dari ajakan
seorang teman, aku sampai di dunia ini. Di semester lima perkuliahan
itu aku diajak mendaftar ke sebuah lembaga bimbingan belajar. Curriculum
Vitae (CV) dan surat lamaran kerja kukirim ke alamat email lembaga
tersebut. Ternyata, lamaranku diterima dan aku diminta datang untuk seleksi
selanjutnya yakni tes tertulis dan interview. Alhamdulillah, aku lolos tes
tersebut dan mulai mengajar keesokan harinya. Rasa khawatir kesulitan mengajar
murid-murid beraneka karakter sempat muncul dalam benak. Namun, keyakinan dan
dorongan dari teman pengajar lainnya memicu semangatku untuk mencoba
berani.
Di awal aku mengajar, tak
jarang aku harus menghadapi berbagai masalah. Ketika aku mengajar di kelas dua
hingga empat SD misalnya, hampir setiap pertemuan selalu timbul keributan,
berkelahi, tak mau belajar, dll. Akan tetapi, semakin lama aku mulai mengerti
bagaimana menghadapinya. Aku mulai mencari tahu bagaimana karakter seusia-usia
mereka, kesukaan mereka, dan bagaimana mendidiknya. Buku-buku psikologi,
psikologi perkembangan, pendidikan, permainan edukatif mulai menjadi topik
menarik yang senang kubaca. Aku pun banyak belajar dari pengajar-pengajar lain.
Seiring dengan itu, aku bisa mendamaikan kelas dan membuatnya menjadi
menyenangkan.
Sejak aku mengenal dunia
anak-anak itulah, aku senang mendidik. Ketagihan ku pikir. Banyak empiris yang
aku dapatkan dalam memahami berbagai karakter anak manusia. Perlahan aku mulai
mengerti bagaimana ilmu mendidik dan kejiwaan bisa menyentuh hati-hati setiap
anak didik, bagaimana perbedaan karakter tak menjadi penghalang untuk mereka
bisa menjadi pandai, serta memberi semangat mereka untuk sedia belajar,
membaca, menulis, dan aktif.
Pernah
kubaca, Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan umumnya berarti daya
upaya untuk memajukan budi pekerti (karakter, kekuatan bathin), pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan
masyarakatnya. Kombinasi ini tak jauh berbeda dengan Ibnu Sina bahwa pendidikan
harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ke
arah perkembangannya yang sempurna (insan kamil), yaitu perkembangan
fisik, intelektual, dan budi pekerti. Maka, seperti itulah aku berharap bisa
mengembangkan anak didik untuk mengoptimalkan kemampuan mereka dan berusaha
menjadi insan kamil yang tak hanya pintar secara akademik tapi juga berbudi
pekerti yang baik.
Pendidikan: I’m in love
Sepertinya aku berjodoh
dengan dunia pendidikan ini. Pengalamanku mengajar di Lembaga dan Pelatihan
Bimbingan Belajar (LPBB) Bintang Solusi Mandiri Cabang Johar Baru, membawaku ke
sejumlah tempat belajar lainnya seperti Pondok Kreativitas (Pokas), Panti
Asuhan Yayasan Murni Jaya, Lembaga Bimbingan Belajar gratis Komunitas Pemuda
Harapan (KPH) hingga mengajar private.
Tempat baru, tantangan
baru. Jika di awal aku harus menghadapi murid di berbagai jenjang kelas, sekarang
lingkungan belajar yang berbeda menambah tantangan untukku. Terkadang juga
dalam satu kelas, aku harus mengajar berbagai tingkat usia, dengan pembelajaran
yang berbeda karena keterbatasan tenaga pengajar.
Selain mengajar keilmuan,
aku pun tengah belajar mengajar mengaji. Kau ingat sebuah hadist yang
menyatakan,
عثمان رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه
وسلّم قال عَنْ:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ
وَعَلَّمَهُ.
(رواه البخاري والترمذي)
Dari Utsman r.a, dari Rasulullah saw bersabda:
”Sebaik-baik
kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya”.
(HR.
al-Bukhari dan al-Tirmizi
Aku amat senang saat
mendapat amanah ini dan sekaligus merasa khawatir tidak bisa menjalankan amanah
sebab mengajarkan alquran butuh pemahaman yang baik. Mukhlis Lillah. Insyaallah
bisa, semangat.
Namun, tak dapat
dipungkiri, keaktifanku di berbagai tempat mengajar sering kali membuatku
kesulitan mengatur waktu. Aku mesti belajar menyelaraskan waktu agar bisa
menjalani semuanya dengan seimbang, antara kuliah, mengajar, organisasi,
dakwah, keluarga, dan mengaji. Seiring berjalannya waktu ketika aku mendapat
masalah, aku mesti segera belajar memperbaiki
hingga bisa melalui semua dengan baik. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit
segalanya berangsur membaik karena aku yakin segalanya mungkin.
Mendidik bagiku bukanlah
sebuah pekerjaan asal. Perlu perencanaan yang matang mengenai apa yang akan
kita sampaikan, bagaimana menjelaskan, dan untuk apa penjelasan itu. Kita
mendidik seorang anak manusia agar ia bisa menjadi manusia yang utuh dan biisa
menggunakan potensinya sebagai manusia secara optimal. Bahkan, seorang pendidik
perlu memiliki kepekaan dan ruh yang baik agar apa yang disampaikan meresap
dalam diri anak didik. Mendidik bagiku merupakan tugas bagi setiap yang
terdidik dan merupakan ladang amal untuk menyampaikan ilmu yang telah kita
dapat.
Juga, mendidik merupakan
persiapan bagiku untuk menghadapi dunia di episode selanjutnya. Syukur atas
segala nikmat yang Allah berikan. Aku berharap keberkahan sampai padaku dan
keluargaku. Pekerjaan ini bukan serta merta kejar setoran, cari uang semata,
dan hal materi lainnya. Bagiku ini kesempatan yang tidak bisa disia-siakan
karena banyak manfaat yang bisa kuraih dari dunia pendidikan. Aku belajar
banyak. Aku berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa memperbaiki
cara mengajarku sehingga semua muridku paham apa yang aku sampaikan dan
bermanfaat bagi semua. Amin.
![]() |
| Murid di Bimbel Solusi, kelas 3 SD |
![]() |
| Berkunjung ke rumah Nisa, kelas PAUD |
![]() |
| Murid di Solusi, kelas 4 SD |
| Tenaga Pengajar di Solusi |
![]() |
| Murid PAUD di Yayasan Murni Jaya, Cilincing |
Doc. Penulis




Komentar
Posting Komentar