Kesatuan Juang dalam Dakwah
Oleh: Hilda Nur Wulandari
Berbagai macam gerakan
yang mengusung semangat dakwah terus bergema di setiap belahan bumi hingga
detik ini. Pada hakikatnya, masing-masing gerakan mempunyai visi sama. Tak
lain, dalam rangka menegakkan syariat islam di muka bumi ini. Namun, aneka
ragam gerakan yang muncul tersebut seringkali tersulut konflik dan perbedaan
persepsi dalam menghadapi suatu permasalahan. Jika pada awalnya konflik
tersebut hanya mengganggu sebagian kecil pegiat dakwah bukan tidak mungkin jika
masalah tak terselesaikan dengan segera, pada akhirnya akan merugikan keutuhan
umat secara keseluruhan.
Dalam buku yang
ditulisnya, Fathi Yakan secara garis besar menggambarkan bagaimana fenomena
kehancuran bangunan dakwah terjadi akibat kesalahan para pegiat didalamnya.
Berbagai penyebab konflik bisa terjadi karena beberapa hal seperti hilangnya
mana’ah i’tiqadiyah (imunitas keimanan) dan tidak tegaknya bangunan di atas
fondasi pemikiran dan prinsip yang benar dan kukuh; rekruitmen hanya
memperhatikan aspek kuantitas; “tergadai” pihak luar, baik sesama organisasi
maupun oleh negara; tergesa dalam keinginan meraih kemenangan; munculnya
pusat-pusat kekuatan, aliran dan sayap-sayap gerakan dalam tubuh organisasi;
campur tangan pihak luar; dan lemah atau bahkan tiadanya kesadaran politik
dalam gerakan dakwah.
Fenomena-fenomena yang
terjadi dalam gerakan dakwah di negara-negara islam pun seringkali menjadi
penyebab kehancuran bangunan dakwah yang telah tersusun rapi. Fenomena tersebut adalah muncunya beragam
aliran gerakan yang memiliki pemikiran yang berbeda-beda, terkadang muncul
dengan gerakan yang tidak sesuai syariat, mengutamakan kepentingan golongan
saja, melupakan tujuan dasarnya, seperti halnya fanatisme tercela yang mana
lebih loyal kepada lembaga, adanya golongan yang etnosentris dan stereotip terhadap
golongan lain, menganggap bid’ah apa yang dikerjakan jamaah lain dengan tidak
berdasar pada landasan yang shahih, atau bagaimana suatu haraki berfatwa atau
berintrepretasi tanpa landasan syar’i, serta berani melakukan takfir sesama
muslim padahal jelas itu tidak dibenarkan.
Keporak-porandakan
negeri islam pun dijabarkan dalam bab tersendiri oleh penulis berupa penyebab
dari hal itu, seperti orientasi massal (banyak Sumber Daya Manusia) tapi
mengabaikan pembinaan SDM yang ada, lebih mengandalkan pada slogan tanpa paham
substansi pergerakan, kuantitas yang berlebih tapi tidak diiringi dengan
kualitas yang baik, orientasi pada kemiliteran yang tak diiringi kekuatan iman,
akhlak, sadar politik yang mana mereka berani merampas hak orang dengan
semena-mena bahkan untuk memenuhi kepentingannya sendiri, terlalu terbukanya
anggota suatu haraki ke publik sehingga memudahkan mereka ‘membaca’ dan
menghancurkan gerakan dakwah.
Selain itu,
masalah-masalah dalam negara-negara islam saat ini bisa berupa tidak
dimilikinya kesadaran berpolitik dalam setiap entitasnya, mencari jalan pintas
(tergesa) dalam mengadakan perubahan dalam diri gerakan, lemahnya tarbiyah
(pendidikan) para anggota sehingga mengurangi ketakwaan dan sifat wara’ mereka
dalam kerja dakwah, membudayanya ghibah dan namimah, lunturnya kepercayaan
terhadap pemimpin, dan dalam suatu golongan saling berebut kekuasaan. Akan
tetapi, tak semestinya kita suudzon terhadap saudara kita baik yang ada dalam
satu haraki maupun berbeda haraki.
Permasalahan-permasalahan
di atas perlu kita sikapi dengan bijak bahwa segala niat dalam gerakan dakwah
semata-mata kita tujukan pada Allah. Landasan takwa terhadap Allah menjadi hal
yang penting dijaga agar apa yang kita lakukan tidak sia-sia. Dalam menjaga
ketakwaan, kita perlu menntarbiyah ruhiyah kita dengan ilmu pengetahuan dan mendalaminya
serta mengimplementasikannya dalam tindakan nyata. Contoh: ihsan dalam
beribadah dan kontinyu dalam zikrullah. Dengan takwa itulah menjadi benteng, penentu
keberhasilan aktivitas dan menerangi pola pikir, serta menjauhi diri dari
kemaksiatan dan syubhat.
Selain itu, cara
menjauhkan diri dari suudzan terhadap haraki lain adalah dengan mengukuhkan
ukhuwah karena Allah, membangun fondasi saling wasiat dalam kebenaran, syura,
menjalin hubungan dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang, tegakkan landasan
sukarela dalam bekerja, sungguh dalam menjaga nilai-nilai syariat dan dakwah,
bangunlah penguasaan dan pemahaman, rancanglah strategi dan organisasi
sebaik-baiknya, serta memperhatikan kelengkapan dan keseimbangan antara aspek
satu dengan lainnya.
Pada hakikatnya
gerakan-gerakan dakwah mestilah bersatu untuk melawan musuh yang sebenarnya.
Mereka yang memusuhi Allah dan RasulNya. Perbedaan furu’ tak perlu menjadi
sumber konflik yang meruntuhkan persatuan umat. Jika ada yang menyimpang
hendaklah diingatkan. Tak perlu merasa yang lebih baik dari yang lain, sebab
penilaian terbaik hanyalah ada dalam pandangan Allah. Wallahu a’lam bishawab.
Penulis:
Fathi Yakan
Tahun
terbit: 2003
Penerbit:
Era Intermedia
Tebal:
140 halaman


Komentar
Posting Komentar