Sepuluh Prinsip Dalam Berdakwah


Sepuluh Prinsip Dalam Berdakwah
Oleh Hilda Nur Wulandari

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgweJZiuImHM34l9cpQ-EeJgcQndN0aVKrTCYprYtMxcCZkNyVeoBsiYhfRsNhTaJEOyE-kgSTQnQTDtznW6Nhhfc5FEJi6zry0BHMmFmB531GAVQfp4pTmp-3aBUyKCGYkEFWeu6sqKrN4/s320/ukd-untukmu-kader-dakwah.jpgJudul                : Untukmu Kader Dakwah
Penulis             : Rahmat Abdullah
Tebal               : 17,2 cm  dan x + 109 halaman
Penerbit           : Pustaka Da´watuna
Tahun              : Cetakan IV, September 2005



Kata dakwah tidak semudah mengucap, ribuan rintangan selalu bersamanya. Apalagi melihat zaman ini yang sungguh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kita dapat melihat umat muslim di mana-mana, tapi kesadaran mereka akan nasib agamanya kelak, sungguh memprihatinkan. Ini pulalah yang perlu kita renungkan dan mengapa dakwah menjadi jalan yang perlu dilalui. Para ulama sudah sejak dahulu memikirkan hal ini, mereka pun telah berupaya mempertahankan agama Allah hingga saat ini. Kemurniannya pun perlu dijaga agar segala yang diamalkan tidak sia-sia. Ust. Rahmat Abdullah menggambarkan kecintaannya terhadap dakwah dengan sebuah syair yang sangat apik:

Memang Seperti Itulah Dakwah



Memang seperti itulah dakwah
Dakwah adalah cinta
Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu

Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu.
Berjalan, duduk, dan tidurmu..
Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah.
Tentang umat yg kau cintai..

Lagi-lagi memang seperti itu.
Dakwah.
Menyedot saripati energimu.
Sampai tulang belulangmu.
Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu.
Tubuh yg luluh lantak diseret-seret.
Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari..
..............................................
Dakwah bukannya tidak melelahkan.
Bukannya tidak membosankan.
Dakwah bukannya tidak menyakitkan.
Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak!
Justru kelelahan.
Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya.


Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih tragis.
Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani
Justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi, akhirnya menjadi adaptasi.
Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah.
Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman.
Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit.
Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka.
Hingga hasrat untuk mengeluh tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar.
Saat Rasulullah wafat, ia histeris.
Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk.
Bukannya tidak cinta pada abu Bakar.
Tapi saking seringnya ditinggalkan, hal itu sudah menjadi kewajaran.
Dan menjadi semacam tonik bagi iman..
Karena itu kamu tahu.
Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore.
Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu.

Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah.
Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar.
Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar.
Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, ya Allah, berilah dia petunjuk.

Jasadnya dikoyak beban dakwah.
Tapi iman di hatinya memancarkan cinta.
Mengajak kita untuk terus berlari.

Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.

Sumber:

Potongan syair di atas memberi gambaran tentang perjuangan dakwah yang begitu berat tapi karena cinta semua itu dapat dilalui. Cinta seorang hamba kepada Sang Khalik mengalahkan segala beban yang terasa. Manusia memang tak kan luput dari rasa malas, bosan yang tak lain adalah fitrahnya tetapi Allah akan memberinya rahmat jika ia beriman kepadaNya. Syair ini menjadi penyemangat bagi seorang da´i maupun para aktivis dakwah. Melalui syair ini, Ust. Rahmat Abdullah ingin menyampaikan seperti apa perjuangan dakwah itu. Ini tidak bicara mengenai ruang dan waktu, karna Islam adalah universal dan dakwah memiliki jalan yang panjang. Dimana kita berada, disitulah kita bisa berdakwah sekecil dan sedikit apapun itu.

Pemikiran Prinsip yang Sepuluh

Prinsip-prinsip yang diterangkan Rahmat Abdullah dalam buku ini merujuk pada pemikiran dan pengalaman Imam Syahid Hasan Al Banna. Kesepuluh prinsip atau pilar yang merupakan komitmen seorang da´i itu diantaranya adalah al-fahmu, al-ikhlash, al-amal, al-jihad, at-tadhhiyah, ath-tha´ah, ats-tsabat, at-tajarrud, al-ukhuwwah, dan ats-tsiqah. Prinsip- prinsip ini menurut penulis sangat essensial untuk menumbuhkan kesadaran dalam memahami dakwah secara lebih luas.

Al-Fahmu. Kefahaman diperoleh dari dimilikinya ilmu. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu nafi´(ilmu yang bermanfaat) karena seluruh kata ilmu dalam Al Quran dan hadist maksudnya ilmu nafi´(menurut Ibnu Athaillah) yang mana membuat si penuntut ilmu menjadi rendah hati, sensitif, dan sungguh-sungguh bukan menjadikan ilmu sebagai beban tanggung jawab dan penyesalan, karena berhenti pada jidal (debat), mubahah (kebanggaan), dan alat untuk menarik keuntungan dunia. Menuntut ilmu sedari dulu telah menjadi tradisi bagi para ulama, mereka bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, ada yang rela menjadi musafir berbulan-bulan demi mencari satu hadist singkat atau menjadi penulis produktif agar tulisannya dapat dibaca orang banyak. Dengan dimilikinya ilmu, seseorang menjadi luas wawasannya, sehingga hidupnya selalu diiringi dengan hal yang baik, serta ia memiliki kefahaman yang semestinya ia miliki.

Al-ikhlas -segala ucapan, perbuatan, dan perjuangan selalu ditujukan dan dimaksudkan hanya kepada Allah serta memohon ridhaNya semata juga kebaikan ganjaranNya-. Buku ini menjelaskan bahwa hati seorang mukmin harus selalu dipenuhi dengan 3 hal, yaitu ikhlas beramal karena Allah, tulus terhadap para pemimpin, dan setia kepada jamaah Muslimin, karena doa mereka meliput dari belakang mereka. (HR Ahmad, Ibnu Majah, Hakim, Abu Daud, dan Tirmidzi). Hasan Al Bashri menyatakan dalam berdakwah diperlukan sikap ikhlas agar mendapat pahala dari Allah. Seorang alim yang hatinya bersih digambarkan seperti gelas kristal yang bening dan bersih, memancar ilmunya. Sebaliknya jika hatinya tak bersih -tidak ikhlas- tutur kata dan kehadirannya menjerumuskan ke jurang sengsara, segala yang diperbuat tidak akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bahkan menjerumuskan kepada hal yang buruk.

Seorang yang ikhlas, tak lepas dari kejujuran. Jujur, tidak hanya berarti bicara benar melainkan juga dalam hatinya jujur kepada Allah. Hakikat shidq adalah jujur dalam keadaan apapun. Contoh orang yang tidak ikhlas: Bal´am. Awalnya, ia adalah seorang yang alim dan kurang mampu pada zamannya Nabi Musa, tapi ia tergoda oleh harta yang dijanjikan oleh Fir´aun. Ia cenderung mengikuti hawa nafsu, berdusta kepada ayat-ayat Allah. Hubungan ikhlas dan shidq, orang mukhlis tidak riya´, orang shidq tidak kagum diri. Contoh orang yang jujur: Ka´ab. Suatu hari ia  tertinggal tak ikut perang. Setelah pasukan perang kembali, Ka´ab meminta utuk dihukum karena tak ikut berperang. Intinya, dalam prinsip kedua ini, seorang yang hendak beramal, seharusnya tak memperdulikan pandangan orang terhadapnya dan hanya takut kepada Allah serta merasa bahwa Allah yang pantas menilainya.

Buah dari ilmu dan ikhlas adalah amal. Al-amal yang dimaksud oleh penulis, yaitu amal sholih. Sholih tak hanya berarti baik seperti yang diketahui oleh orang kebanyakan. Sholih berarti serasi antara amal dan sasaran, tuntunan yang mana mengisi waktu dan ruang. Dakwah atau amal merupakan kerja yang amat mulia. Syarat yang harus dipenuhi saat beramal, yaitu ikhlas was showab (benar) sesuai hadist dan tidak dusta. Jangan sampai karena tak punya ilmu, walaupun niatnya baik, amal yang dilakukan menjadi sia-sia atau malah akan lebih banyak bahayanya daripada manfaatnya, sebagaimana amal tanpa niat menjadi anaa (kelelahan), niat tanpa ikhlas, menjadi habaa (sia-sia), dan ikhlas tanpa tahqiq (realisasi) menjadi ghutsaa (buih). Namun perlu diperhatikan juga beberapa hama yang dapat menghapus pahala amal, antara lain; riya´ (ingin dilihat), ujub (kagum diri), sum´ah (ingin populer), dan mann (ingin diberi/imbalan). Dalam prinsip ini menekankan bahwa seorang da´i harus siap dengan risiko. Ketika seseorang ikhlas dan terbiasa berdakwah, ia akan menyenangi dakwah. Perlu diingat juga semua ini tidak terjadi secara instan, tapi perlu waktu (proses).

Dakwah tak kan hidup dan berkembang kecuali dengan jihad. Prinsip selanjutnya adalah Al-Jihad. Allah SWT berfirman “Dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad” (QS Al-Hajj:78). Perjuangan di jalan Allah terdapat beberapa macam dan tingkatan. Jihad yang paling bawah adalah ingkar hati, di tengah-tengah yaitu jihad lisan, pena, tangan, berkata benar pada penguasa tirani, dan yang paling tinggi dengan jihad qital (perang). Dalam berdakwah memang perlu perjuangan yang masanya tak terhenti hingga hari kiamat. Apalagi melihat kondisi sekarang dimana banyak kemungkaran yang semakin merajalela. Namun, dalam pelaksanaannya, jihad tidak bisa dilakukan dengan sembarangan, seperti yang diperbuat oleh oknum-oknum yang membawa nama islam dalam melakukan bom bunuh diri. Hal itu memang masih perdebatan antara boleh tidaknya dilakukan, yang perlu diingat bahwa jika orang-orang kafir tidak memusuhi orang iman maka janganlah disakiti atau dibunuh.

At-Tadhhiyah. Prinsip kelima dalam berdakwah ini diartikan sebagai pengorbanan jiwa raga, harta, dan waktu serta segala sesuatu dalam rangka mencapai tujuan. Penulis mengatakan tiada kata jihad di dunia tanpa adanya rasa pengorbanan. Pengorbanan yang dilakukan adalah pengorbanan yang ditujukan hanya untuk Allah, menuju pada pembebasan yang melawan kemungkaran. Seseorang yang beriman tapi tidak berjihad dan berkorban diumpamakan seperti burung unta yang merasa telah aman karena berhasil menyembunyikan kepalanya pada gundukan pasir. Maksudnya, ia rajin beribadah tapi melupakan tugas jihad lisan mencegah kemungkaran di masyarakat, yang merupakan tuntutan Allah. Hal ini bisa saja berujung pada penyesalan. Sebab pernah suatu ketika Allah menurunkan adzab pada suatu negeri, padahal didalamnya tinggal seorang solih. Hal ini dikarenakan ia tak pernah amar ma´ruf nahi munkar pada masyarakat sekitarnya.

At-Thoah. Ketaatan disini adalah yang ditujukan pada Allah, RasulNya, dan sesama orang beriman yang mengajak kepada kebaikan (amar ma’ruf nahi munkar), serta pada pemimpin yang tidak maksiat. Seseorang bisa dikatakan taat saat ia bisa berlapang dada dan mampu menahan keinginan pribadinya dalam situasi ia diamanahkan oleh pemimpin yang berlandaskan syar’i. Taat merupakan buah loyalitas yang memunculkan kekuatan daya ubah yang luar biasa. Contoh: saat turunnya perintah berjilbab, perempuan-perempuan Madinah spontan mencari apa saja yang bisa menutupi sisa bagian tubuh mereka. Ada juga, saat turunnya larangan meminum khamr, penduduk Madinah langsung menumpahkan khamr-khamr ke luar sehingga tercipta sebuah parit dengan aliran khamr. Dengan ketaatan yang dimiliki, kita bisa mengubah apa saja yang batil.

Prinsip ketujuh adalah at-tsabat. Setelah taat dimiliki, kita harus meneguhkan hati dalam berdakwah karena akan banyak rintangan yang mesti dihadapi didalamnya. Langkah-langkah yang dapat meneguhkan antara lain mu’ayasyah (berinteraksi) dan terjun langsung di dunia para Rasul dan pewaris Rasul. Seorang yang teguh harus bisa melatih kesabarannya, sehingga ia tidak tergoda jika ada sogok, suap, kolusi, penyalahgunaan kekuasaan, fitnah, dan lain-lain. Karena itu niatannya pun harus terjaga dan senantiasa bersih.

Prinsip selanjutnya adalah at-tajarrud (totalitas). Seseorang yang telah memilih jihad dan dakwah sebagai jalan hidupnya, mesti berusaha untuk menjadi totalitas didalamnya. Totalitas, berarti seluruh hayatnya ia pergunakan untuk jalan ini, jauh dari keinginan akan kesenangan dunia. Kita bisa belajar tentang totalitas melalui peristiwa sejarah terdahulu, seperti Salman Al Farisi yang mengusulkan taktik pertahanan Khandaq, benteng galian yang biasa dibuat bangsanya di tanah Persia.

Persaudaraan (al-ukhuwah). Dalam berdakwah, secara praktiknya akan mempertemukan kita dengan orang-orang seiman. Maka itu, kita perlu memiliki sikap ukhuwah yang berarti bertautnya hati dan jiwa dengan ikatan aqidah. Dalam ukhuwah ini, ada tingkatan-tingkatan tersendiri. Yang tertinggi ialah itsar dimana seseorang dapat mendahulukan kepentingan saudaranya, dibanding kepentingannya. Sikap ukhuwah akan menguatkan satu dengan yang lainnya.

Prinsip terakhir dalam dakwah ialah Ats-Tsiqah (kemantapan). Kemantapan yang dimaksud penulis adalah kemantapan dari seorang pengikut terhadap yang diikuti (pemimpin). Dalam berdakwah mesti ada pemimpin yang mampu mengarahkan ke arah yang tepat agar dakwah tidak salah sasaran. Tsiqah ini pun berpijak pada Allah tidak berhenti pada seorang pemimpin. Ketika tsiqah kepada Allah tercipta, maka tidak ada lagi keragu-raguan yang menghalangi seorang da´i untuk menjalani dakwah. Maka itu, dakwah ini disebut dakwah ruhiyah, dimana ia merangkum akal dan hati lebih dulu daripada gerak dan jasad. Ia juga punya pusat kendali, yaitu Allah yang akan merukunkan seluruh elemen saat harta kekayaan dunia tak mampu merukunkan hati mereka (QS Al-Anfal: 63).

Itulah sedikit penjelasan dari setiap prinsip yang didapat penulis dari apa yang dipelajarinya dan bisa menjadi landasan dalam berdakwah. Perjuangan Ust. Rahmat Abdullah dalam menjalani dakwah selama hayatnya hingga melalui buku ini tak lain adalah agar para generasi selanjutnya tetap berpegang teguh pada alquran dan hadist serta dapat memahami makna dan pengaplikasian dakwah. Bagi para kader dakwah secara khusus, yang menjadi objek dari tulisan ini perlu memahami dan mengkaji tentang prinsip yang sepuluh ini. Pesan dari Hasan Al Banna, pemikiran seorang manusia itu tidak bersifat mutlak maka ambillah yang bermanfaat dan buanglah mudharatnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Film Sang Murabbi

Ta'liful Qulub: Sahabat Dunia Akhirat

Pesan