Sepuluh Prinsip Dalam Berdakwah
Sepuluh Prinsip Dalam Berdakwah
Oleh Hilda Nur
Wulandari
Penulis :
Rahmat Abdullah
Tebal :
17,2 cm dan x + 109 halaman
Penerbit :
Pustaka Da´watuna
Tahun :
Cetakan IV, September 2005
Jalan dakwah itu panjang dan jauh jangkauannya serta banyak
rintangannya. Tapi semua itu adalah cara untuk mencapai tujuan dan ada nilai
tambah berupa pahala dan balasan yang besar serta menarik. (Hasan Al Banna)
Dakwah menjadi
bahasan yang diusung dalam buku ini. Buku yang merupakan kompilasi dari
tulisan-tulisan Ust. Rahmat Abdullah dalam sebuah majalah islami ´Tarbawi´. Isi
buku ini membahas secara terperinci pilar-pilar komitmen seorang da´i dalam
menjalani dakwah dengan bahasa yang lugas. Penulis yang juga seorang murabbi ini selama hidupnya sangat aktif
di berbagai bidang, mulai dari mengisi ceramah di televisi dan radio, mengisi
rubrik di beberapa majalah islam, serta menulis buku. Begitu besar kecintaannya
terhadap dakwah hingga setiap waktu, tenaga, dan fikirannya ia berikan untuk
kegiatan dakwah. Inspirasinya tumbuh dari sejumlah tokoh-tokoh islam, layaknya
Hasan Al Banna seorang pejuang islam di Mesir, Sayyid Qutub, dan tokoh nasional
seperti H.O.S. Cokroaminoto, dan M. Natsir serta guru yang dikaguminya, K.H.
Abdullah Syafi´i. Kata-kata di atas merupakan kata-kata Hasan Al Banna,
menggambarkan perjuangan dakwah yang tak akan terhenti hingga ajal menjemput,
tidak mudah, tapi disanalah akan diperoleh kenikmatan yang tiada tara kelak di
hari penentuan.
Kata dakwah tidak semudah mengucap, ribuan rintangan
selalu bersamanya. Apalagi melihat zaman ini yang sungguh berbeda dari
tahun-tahun sebelumnya, kita dapat melihat umat muslim di mana-mana, tapi
kesadaran mereka akan nasib agamanya kelak, sungguh memprihatinkan. Ini pulalah
yang perlu kita renungkan dan mengapa dakwah menjadi jalan yang perlu dilalui.
Para ulama sudah sejak dahulu memikirkan hal ini, mereka pun telah berupaya
mempertahankan agama Allah hingga saat ini. Kemurniannya pun perlu dijaga agar
segala yang diamalkan tidak sia-sia. Ust. Rahmat Abdullah menggambarkan
kecintaannya terhadap dakwah dengan sebuah syair yang sangat apik:
Memang
Seperti Itulah Dakwah
Memang seperti
itulah dakwah
Dakwah adalah
cinta
Dan cinta akan
meminta semuanya dari dirimu
Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu.
Berjalan,
duduk, dan tidurmu..
Bahkan di
tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah.
Tentang umat
yg kau cintai..
Lagi-lagi memang seperti itu.
Dakwah.
Menyedot
saripati energimu.
Sampai tulang belulangmu.
Sampai tulang belulangmu.
Sampai daging
terakhir yg menempel di tubuh rentamu.
Tubuh yg luluh lantak diseret-seret.
Tubuh yg luluh lantak diseret-seret.
Tubuh yang
hancur lebur dipaksa berlari..
..............................................
Dakwah bukannya tidak melelahkan.
..............................................
Dakwah bukannya tidak melelahkan.
Bukannya tidak
membosankan.
Dakwah bukannya tidak menyakitkan.
Dakwah bukannya tidak menyakitkan.
Bahkan juga para
pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.
Tidak!
Justru
kelelahan.
Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya.
Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya.
Satu kisah
heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih tragis.
Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani
Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani
Justru karena
rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi, akhirnya menjadi
adaptasi.
Kalau iman dan
godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah.
Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman.
Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman.
Lalu terus
berkobar dalam dada.
Begitu pula rasa sakit.
Hingga luka
tak kau rasa lagi sebagai luka.
Hingga hasrat
untuk mengeluh tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu
cantik.
Begitupun Umar.
Begitupun Umar.
Saat
Rasulullah wafat, ia histeris.
Saat Abu Bakar
wafat, ia tidak lagi mengamuk.
Bukannya tidak
cinta pada abu Bakar.
Tapi saking
seringnya ditinggalkan, hal itu sudah menjadi kewajaran.
Dan menjadi
semacam tonik bagi iman..
Karena itu
kamu tahu.
Pejuang yg
heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore.
Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu.
Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu.
Karena mereka
jarang disakiti di jalan Allah.
Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar.
Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar.
Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, ya Allah, berilah dia petunjuk.
Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar.
Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar.
Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, ya Allah, berilah dia petunjuk.
Sungguh Engkau
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak.
Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak.
Jasadnya
dikoyak beban dakwah.
Tapi iman di
hatinya memancarkan cinta.
Mengajak kita
untuk terus berlari.
Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.
Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.
Sumber:
Potongan syair di atas memberi gambaran tentang
perjuangan dakwah yang begitu berat tapi karena cinta semua itu dapat dilalui.
Cinta seorang hamba kepada Sang Khalik mengalahkan segala beban yang terasa.
Manusia memang tak kan luput dari rasa malas, bosan yang tak lain adalah
fitrahnya tetapi Allah akan memberinya rahmat jika ia beriman kepadaNya. Syair
ini menjadi penyemangat bagi seorang da´i maupun para aktivis dakwah. Melalui
syair ini, Ust. Rahmat Abdullah ingin menyampaikan seperti apa perjuangan
dakwah itu. Ini tidak bicara mengenai ruang dan waktu, karna Islam adalah
universal dan dakwah memiliki jalan yang panjang. Dimana kita berada, disitulah
kita bisa berdakwah sekecil dan sedikit apapun itu.
Pemikiran
Prinsip yang Sepuluh
Prinsip-prinsip yang diterangkan Rahmat Abdullah dalam
buku ini merujuk pada pemikiran dan pengalaman Imam Syahid Hasan Al Banna.
Kesepuluh prinsip atau pilar yang merupakan komitmen seorang da´i itu
diantaranya adalah al-fahmu, al-ikhlash, al-amal, al-jihad, at-tadhhiyah,
ath-tha´ah, ats-tsabat, at-tajarrud, al-ukhuwwah, dan ats-tsiqah. Prinsip-
prinsip ini menurut penulis sangat essensial untuk menumbuhkan kesadaran dalam
memahami dakwah secara lebih luas.
Al-Fahmu. Kefahaman
diperoleh dari dimilikinya ilmu. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu nafi´(ilmu yang
bermanfaat) karena seluruh kata ilmu dalam Al Quran dan hadist maksudnya ilmu
nafi´(menurut Ibnu Athaillah) yang mana membuat si penuntut ilmu menjadi rendah
hati, sensitif, dan sungguh-sungguh bukan menjadikan ilmu sebagai beban
tanggung jawab dan penyesalan, karena berhenti pada jidal (debat), mubahah (kebanggaan), dan alat untuk menarik
keuntungan dunia. Menuntut ilmu sedari dulu telah menjadi tradisi bagi para
ulama, mereka bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, ada yang rela menjadi
musafir berbulan-bulan demi mencari satu hadist singkat atau menjadi penulis
produktif agar tulisannya dapat dibaca orang banyak. Dengan dimilikinya ilmu,
seseorang menjadi luas wawasannya, sehingga hidupnya selalu diiringi dengan hal
yang baik, serta ia memiliki kefahaman yang semestinya ia miliki.
Al-ikhlas -segala
ucapan, perbuatan, dan perjuangan selalu ditujukan dan dimaksudkan hanya kepada
Allah serta memohon ridhaNya semata juga kebaikan ganjaranNya-. Buku ini
menjelaskan bahwa hati seorang mukmin harus selalu dipenuhi dengan 3 hal, yaitu
ikhlas beramal karena Allah, tulus terhadap para pemimpin, dan setia kepada
jamaah Muslimin, karena doa mereka meliput dari belakang mereka. (HR Ahmad,
Ibnu Majah, Hakim, Abu Daud, dan Tirmidzi). Hasan Al Bashri menyatakan dalam
berdakwah diperlukan sikap ikhlas agar mendapat pahala dari Allah. Seorang alim
yang hatinya bersih digambarkan seperti gelas kristal yang bening dan bersih,
memancar ilmunya. Sebaliknya jika hatinya tak bersih -tidak ikhlas- tutur kata
dan kehadirannya menjerumuskan ke jurang sengsara, segala yang diperbuat tidak
akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bahkan menjerumuskan kepada hal yang
buruk.
Seorang yang ikhlas, tak lepas dari kejujuran. Jujur,
tidak hanya berarti bicara benar melainkan juga dalam hatinya jujur kepada
Allah. Hakikat shidq adalah jujur dalam keadaan apapun. Contoh orang yang tidak
ikhlas: Bal´am. Awalnya, ia adalah seorang yang alim dan kurang mampu pada
zamannya Nabi Musa, tapi ia tergoda oleh harta yang dijanjikan oleh Fir´aun. Ia
cenderung mengikuti hawa nafsu, berdusta kepada ayat-ayat Allah. Hubungan
ikhlas dan shidq, orang mukhlis tidak riya´, orang shidq tidak kagum diri.
Contoh orang yang jujur: Ka´ab. Suatu hari ia
tertinggal tak ikut perang. Setelah pasukan perang kembali, Ka´ab
meminta utuk dihukum karena tak ikut berperang. Intinya, dalam prinsip kedua ini,
seorang yang hendak beramal, seharusnya tak memperdulikan pandangan orang
terhadapnya dan hanya takut kepada Allah serta merasa bahwa Allah yang pantas
menilainya.
Buah dari ilmu dan ikhlas adalah amal. Al-amal
yang dimaksud oleh penulis, yaitu amal sholih. Sholih tak hanya berarti baik
seperti yang diketahui oleh orang kebanyakan. Sholih berarti serasi antara amal
dan sasaran, tuntunan yang mana mengisi waktu dan ruang. Dakwah atau amal
merupakan kerja yang amat mulia. Syarat yang harus dipenuhi saat beramal, yaitu
ikhlas was showab (benar) sesuai hadist dan tidak dusta. Jangan sampai karena
tak punya ilmu, walaupun niatnya baik, amal yang dilakukan menjadi sia-sia atau
malah akan lebih banyak bahayanya daripada manfaatnya, sebagaimana amal tanpa
niat menjadi anaa (kelelahan), niat tanpa ikhlas, menjadi habaa (sia-sia), dan
ikhlas tanpa tahqiq (realisasi) menjadi ghutsaa (buih). Namun perlu
diperhatikan juga beberapa hama yang dapat menghapus pahala amal, antara lain;
riya´ (ingin dilihat), ujub (kagum diri), sum´ah (ingin populer), dan mann
(ingin diberi/imbalan). Dalam prinsip ini menekankan bahwa seorang da´i harus
siap dengan risiko. Ketika seseorang ikhlas dan terbiasa berdakwah, ia akan
menyenangi dakwah. Perlu diingat juga semua ini tidak terjadi secara instan,
tapi perlu waktu (proses).
Dakwah tak kan hidup dan berkembang kecuali dengan jihad.
Prinsip selanjutnya adalah Al-Jihad. Allah SWT berfirman “Dan
berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad” (QS Al-Hajj:78).
Perjuangan di jalan Allah terdapat beberapa macam dan tingkatan. Jihad yang
paling bawah adalah ingkar hati, di tengah-tengah yaitu jihad lisan, pena,
tangan, berkata benar pada penguasa tirani, dan yang paling tinggi dengan jihad
qital (perang). Dalam berdakwah memang perlu perjuangan yang masanya tak
terhenti hingga hari kiamat. Apalagi melihat kondisi sekarang dimana banyak
kemungkaran yang semakin merajalela. Namun, dalam pelaksanaannya, jihad tidak
bisa dilakukan dengan sembarangan, seperti yang diperbuat oleh oknum-oknum yang
membawa nama islam dalam melakukan bom bunuh diri. Hal itu memang masih
perdebatan antara boleh tidaknya dilakukan, yang perlu diingat bahwa jika
orang-orang kafir tidak memusuhi orang iman maka janganlah disakiti atau
dibunuh.
At-Tadhhiyah. Prinsip
kelima dalam berdakwah ini diartikan sebagai pengorbanan jiwa raga, harta, dan
waktu serta segala sesuatu dalam rangka mencapai tujuan. Penulis mengatakan
tiada kata jihad di dunia tanpa adanya rasa pengorbanan. Pengorbanan yang
dilakukan adalah pengorbanan yang ditujukan hanya untuk Allah, menuju pada
pembebasan yang melawan kemungkaran. Seseorang yang beriman tapi tidak berjihad
dan berkorban diumpamakan seperti burung unta yang merasa telah aman karena
berhasil menyembunyikan kepalanya pada gundukan pasir. Maksudnya, ia rajin
beribadah tapi melupakan tugas jihad lisan mencegah kemungkaran di masyarakat,
yang merupakan tuntutan Allah. Hal ini bisa saja berujung pada penyesalan.
Sebab pernah suatu ketika Allah menurunkan adzab pada suatu negeri, padahal didalamnya
tinggal seorang solih. Hal ini dikarenakan ia tak pernah amar ma´ruf nahi
munkar pada masyarakat sekitarnya.
At-Thoah. Ketaatan
disini adalah yang ditujukan pada Allah, RasulNya, dan sesama orang beriman
yang mengajak kepada kebaikan (amar ma’ruf nahi munkar), serta pada pemimpin
yang tidak maksiat. Seseorang bisa dikatakan taat saat ia bisa berlapang dada
dan mampu menahan keinginan pribadinya dalam situasi ia diamanahkan oleh
pemimpin yang berlandaskan syar’i. Taat merupakan buah loyalitas yang
memunculkan kekuatan daya ubah yang luar biasa. Contoh: saat turunnya perintah
berjilbab, perempuan-perempuan Madinah spontan mencari apa saja yang bisa
menutupi sisa bagian tubuh mereka. Ada juga, saat turunnya larangan meminum
khamr, penduduk Madinah langsung menumpahkan khamr-khamr ke luar sehingga
tercipta sebuah parit dengan aliran khamr. Dengan ketaatan yang dimiliki, kita
bisa mengubah apa saja yang batil.
Prinsip ketujuh adalah at-tsabat. Setelah taat
dimiliki, kita harus meneguhkan hati dalam berdakwah karena akan banyak
rintangan yang mesti dihadapi didalamnya. Langkah-langkah yang dapat meneguhkan
antara lain mu’ayasyah (berinteraksi) dan terjun langsung di dunia para Rasul
dan pewaris Rasul. Seorang yang teguh harus bisa melatih kesabarannya, sehingga
ia tidak tergoda jika ada sogok, suap, kolusi, penyalahgunaan kekuasaan,
fitnah, dan lain-lain. Karena itu niatannya pun harus terjaga dan senantiasa
bersih.
Prinsip selanjutnya adalah at-tajarrud
(totalitas). Seseorang yang telah memilih jihad dan dakwah sebagai jalan
hidupnya, mesti berusaha untuk menjadi totalitas didalamnya. Totalitas, berarti
seluruh hayatnya ia pergunakan untuk jalan ini, jauh dari keinginan akan
kesenangan dunia. Kita bisa belajar tentang totalitas melalui peristiwa sejarah
terdahulu, seperti Salman Al Farisi yang mengusulkan taktik pertahanan Khandaq,
benteng galian yang biasa dibuat bangsanya di tanah Persia.
Persaudaraan (al-ukhuwah). Dalam berdakwah, secara
praktiknya akan mempertemukan kita dengan orang-orang seiman. Maka itu, kita
perlu memiliki sikap ukhuwah yang berarti bertautnya hati dan jiwa dengan
ikatan aqidah. Dalam ukhuwah ini, ada tingkatan-tingkatan tersendiri. Yang
tertinggi ialah itsar dimana seseorang dapat mendahulukan kepentingan
saudaranya, dibanding kepentingannya. Sikap ukhuwah akan menguatkan satu dengan
yang lainnya.
Prinsip terakhir dalam dakwah ialah Ats-Tsiqah
(kemantapan). Kemantapan yang dimaksud penulis adalah kemantapan dari seorang
pengikut terhadap yang diikuti (pemimpin). Dalam berdakwah mesti ada pemimpin
yang mampu mengarahkan ke arah yang tepat agar dakwah tidak salah sasaran.
Tsiqah ini pun berpijak pada Allah tidak berhenti pada seorang pemimpin. Ketika
tsiqah kepada Allah tercipta, maka tidak ada lagi keragu-raguan yang menghalangi
seorang da´i untuk menjalani dakwah. Maka itu, dakwah ini disebut dakwah
ruhiyah, dimana ia merangkum akal dan hati lebih dulu daripada gerak dan jasad.
Ia juga punya pusat kendali, yaitu Allah yang akan merukunkan seluruh elemen
saat harta kekayaan dunia tak mampu merukunkan hati mereka (QS Al-Anfal: 63).
Itulah sedikit penjelasan dari setiap prinsip yang
didapat penulis dari apa yang dipelajarinya dan bisa menjadi landasan dalam
berdakwah. Perjuangan Ust. Rahmat Abdullah dalam menjalani dakwah selama
hayatnya hingga melalui buku ini tak lain adalah agar para generasi selanjutnya
tetap berpegang teguh pada alquran dan hadist serta dapat memahami makna dan
pengaplikasian dakwah. Bagi para kader dakwah secara khusus, yang menjadi objek
dari tulisan ini perlu memahami dan mengkaji tentang prinsip yang sepuluh ini. Pesan
dari Hasan Al Banna, pemikiran seorang manusia itu tidak bersifat mutlak maka
ambillah yang bermanfaat dan buanglah mudharatnya.

Komentar
Posting Komentar