Déjà vu

Sebuah perjalanan waktu tak pernah ada yang tahu. Entah, apa yang dimaksud dengan déjà vu itu? Apakah takdir selalu berulang, terkadang kita menjadi objek, terkadang juga menjadi subjek. Ya, dalam peran yang berbeda. Jika hari ini, orang lain yang mengalami, aku jadi penyebabnya, dan aku tak memikirkan apa yang dirasakan oleh orang tersebut, saat ini aku yang mengalaminya dan aku merasakan hal yang sama. Saat itulah aku baru mengerti apa yang dimaksudkan orang lain itu. Seketikasaat aku merasakan semua ini.
Jauh sekali, tak pernah terpikir bahwa
aku akan mengalami berbagai peristiwa yang tersimpan rapi dalam memori
otakku. Namun, Si Penciptaku tahu bahwa aku akan mengalami semua ini.
Bahkan apa yang hendak aku tuliskan ini. Hidupku sudah memiliki arahnya.
Aku telah memiliki takdir. Aku tak bisa memaksakan orang lain menjalani
takdir sepertiku. Dan aku tak bisa dipaksa menjalani takdir seperti
orang lain. Karna masing-masing memiliki takdirnya dan semua itu telah
tertulis.
Kini, keadaan berulang itu mungkin sedang sangat
terasa dalam diriku. Aku bisa merasakan hati orang lain. Saat aku
mengalami peristiwa yang sama dengan orang lain itu. Entah siapa saja
orangnya. Terkadang keakuan menguasai diriku hingga aku tak menyangka
bahwa hal itu menyakiti orang lain, saat itulah mereka bilang aku jahat.
Aku mengerti konsepnya. Aku jahat ketika aku menyakiti meskipun aku
tidak merasakan menyakiti siapapun.
Dalam kondisi
ketidaksadaran, semua tampak biasa saja. Padahal, mungkin saja
perbuatanku salah, di saat orangmenganggapnya begitu. Demikian juga,
perbuatanku benar saat orang menganggapnyabegitu. Benar salahnya
tergantung di mana keberadaanku dan pola yang terbangun di tempat yang
aku pijak.
Aku bisa jadi mereka dan mereka bisa jadi aku.
Satu persatu jawabannya akan segera bisa aku temukan. Orang lain itu
adalah aku saat ini dan mungkin saja, aku adalah orang lain suatu saat
nanti.
Komentar
Posting Komentar