RUMAH (PEREDAM) MALAS
Oleh:
Hilda Nur Wulandari
Apa
yang kamu lakukan jika malas datang? Jika semangat untuk meraih mimpi semakin
redup. Saat rasa jenuh lebih tinggi dibanding bayangan meraih apa yang
diharapkan. Hmm.. for you all yang butuh semangat, semoga kisah ini bisa jadi
sirine dan penambah semangatmu. Yuk, mulai membaca!!
“Tugas lagi, tugas
lagi. Gak ada apa hari tanpa tugas,” celoteh Renna di tengah tumpukan tugas
kuliahnya. Ia merebahkan badannya di
kursi, meregangkan otot dari penatnya mengerjakan laporan PKL (Praktik Kerja
Lapangan), tugas mata kuliah Manajemen Perubahan, dan Filsafat Ilmu. Mahasiswi
semester tujuh, jurusan Manajemen ini benar-benar merasa dikejar deadline.
Belum lagi tinggal sebulan semester tujuh berakhir, tapi ia belum bisa daftar sidang PKL. “Gimana cara mulai ngerjain skripsi, laporan PKL aja gak kelar-kelar, hufh.,” keluhnya. Di awal semester ini ia berniat ingin sembari menyusun proposal penelitian, tapi apa boleh buat. Ia harus fokus dahulu di tugas-tugas ini, agar nilai IP nya naik. “Sayang juga kalau proposal jadi, tapi nilai mata kuliah semester ini jelek-jelek,” pikirnya. Tugas-tugas masih bisa ia kejar untuk diselesaikan. Namun, laporan PKL tak kunjung usai. Masuk awal bulan Januari, sempat juga Renna ingin putus asa.
Belum lagi tinggal sebulan semester tujuh berakhir, tapi ia belum bisa daftar sidang PKL. “Gimana cara mulai ngerjain skripsi, laporan PKL aja gak kelar-kelar, hufh.,” keluhnya. Di awal semester ini ia berniat ingin sembari menyusun proposal penelitian, tapi apa boleh buat. Ia harus fokus dahulu di tugas-tugas ini, agar nilai IP nya naik. “Sayang juga kalau proposal jadi, tapi nilai mata kuliah semester ini jelek-jelek,” pikirnya. Tugas-tugas masih bisa ia kejar untuk diselesaikan. Namun, laporan PKL tak kunjung usai. Masuk awal bulan Januari, sempat juga Renna ingin putus asa.
“Cha, masih bisa gak ya
sidang PKL semester ini?”, tanya Renna pada Icha.
Teman sekelasnya ini
sudah terlebih dahulu sidang PKL Desember lalu. Sebagian besar kawannya juga
sudah maju sidang. Tinggal Rennadan satu kawannya saja yang belum sidang PKL. Masih
banyak revisi yang harus ia selesaikan, ditambah lagi dosen pembimbingnya belum
bisa ditemui. Makin khawatir saja ia karena bulan ini sudah masuk pekan UAS.
Biasanya dosen cenderung jarang ke kampus, padahal ia belum mendapat ACC dosen
pembimbingnya untuk bisa daftar sidang PKL.
“Ren, aku denger
katanya Pak Dodi lagi sakit. Bed rest
seminggu deh kayanya,” kata Wita.
“Hah, innalillahi, serius? Gimana ya, gak bisa
sidang ni kita?”
Setelah mendengar
berita itu, sampai rumah, langsung saja Renna menyimpan berkas PKLnya di
lemari. Ia merebahkan dirinya di tempat tidur, lemas.
“Padahal tinggal ACC,
ada aja masalah. Bodo amat ah,” batinnya.
Setelah itu, Renna
benar-benar melupakan sidang PKLnya. Ia malah sibuk mengajar dan kuliah seperti
biasa.
Di lembaga bimbel
(bimbingan belajar), tempat Renna mengajar, ia mendapat teman baru, Dita
namanya. Baru dua pekan mereka menjadi rekan kerja, tapi Renna langsung bisa
akrab dengan Dita. Seringkali waktu luang di lembaga bimbel menjadi tempat
diskusi mereka.
“Ren, menurut kamu
syukur itu apa? Dita buka wacana saat 30 menit sebelum masuk kelas.
“Berterima kasih atas
nikmat yang Allah berikan,” jawab Renna sekenanya.
“Caranya?”
“Ya, setahu aku sih
dengan bilang Alhamdulillah, memanfaatkan yang Allah kasih dengan
sebaik-baiknya, dan tidak mudah mengalah pada keadaan.”
“Kalau kita tidak puas dengan
yang kita dapetin, itu tanda tidak berrsyukur bukan ya?”
“Hmm, gak juga sih,
menurut aku, syukur itu selesai jika kita sudah melakukan yang tadi aku bilang,
setelah itu kita terus berusaha menjadi yang lebih baik esok hari.”
“Jadi, syukur itu bukan
cukup dengan kondisi saat ini lantas tidak meningkatkan kemampuan?”
“Terus, aku juga sering
bingung, banyak orang bilang bahwa kalau kita mendapat ujian, maka saatnya
untuk bersabar, lalu sabar itu apa berarti menyerah pada keadaan, dan diam saat dihina misalnya?”
“Gak gitu Dita. Sabar
itu terus bergerak, bukan diam. Itu kata Bu Asma Nadia, waktu aku pernah datang
di launching bedah buku terbarunya, saat ujian datang, kita harus berpikir dan
bertindak apa yang mesti dilakukan untuk menemukan solusinya. Kalau diam saja
itu mah pasrah.
“Artinya?”
“Ya, terus aja berjuang
semaksimal mungkin, gak usah peduliin rintangan yang menghadang, sampai titik
darah penghabisan. Yakin aja sama Allah. Bahwa Allah akan memberikan yang
terbaik.”
“Wiih, bijak bener kamu
Ren.” Lantas keduanya tertawa. Sekilas, Renna jadi ingat laporan PKL nya yang ia
simpan. Mudah ya untuk nasihatin orang, tapi kalau nyemangatin diri sendiri
susah banget.
Beberapa kali, Renna
juga harus mendengar celotehan anak-anak tentang ujian dan kesabaran. Ia jadi malu
sendiri. Mungkin ini teguran dari Alllah.
“Kenapa aku sudah
menyerah begitu saja, padahal semester ini belum benar-benar berakhir, waktu
bayaran juga masih dua pekan lagi. Kenapa aku gak berjuang lebih keras?”
Seminggu kemudian ia
mencoba mencari lagi laporan PKLnya dan bertanya kepada kawan-kawan
seangkatannya tentang masih bisa atau tidaknya sidang PKL semester ini.
Singkat cerita, ada
seorang teman memberi tahu Renna dan Wita.“Ren, Wit, kalian coba deh minta ACC
Bu Sinta, katanya bisa diatasnamakan untuk ACC sidang PKL.” “Alhamdulillah, ok,
makasih ya infonya,” jawab Renna penuh semangat.
Kali ini ia yakin masih
ada jalan untuk menyelesaikan ini dan ternyata Allah selalu Maha Baik.
Keesokannya, Renna mencoba mengirim Short Message Service (SMS) ke Dosen Pembimbing (DP) PKLnya
untuk meminta beliau memeriksa laporan PKL nya dan akan ia kirim by email. Kemudian, Renna meminta izin
untuk mengatasnamakan ACC sidang ke dosen lain jika beliau belum bisa ke
kampus. Alhamdulillah, permohonannya disetujui oleh DPnya tersebut. Kemudian,
ia mengirim SMS kepada Bu Sinta, sesuai dengan info dari temannya.
Alhamdulillah bisa. Segera saja, ia dan
Wita menemui Bu Sinta untuk ACC. Kemudian mereka segera daftar sidang PKL dan
dua hari kemudian maju sidang.
Sayangnya, usai sidang
PKL,, ada lagi yang lebih mengkhawatirkan. Memasuki semester delapan Renna
sempat gelagapan. Bagaimana tidak, ia tak memiliki persiapan apa-apa untuk
menyelesaikan tugas akhirnya. Hendak memulai dari mana juga tidak terbayang
sedikitpun. Ia mencoba bertemu dosen pembimbing skripsinya, tapi malah tambah
bingung, karena belum punya tema masalah apa yang ingin diangkat dan di mana
obyek penelitiannya. Kalau sudah begini yang terlintas di pikirannya melarikan
diri, entah ke perpustakaan, tempat mengajar (bimbel), masjid, atau sekretariat lembaga yang diikuti di kampus. Niatnya
sekadar jalan-jalan, bukan memikirkan kelanjutan skripsi. Kadang-kadang ngobrol dengan orang-orang sekitar,
diskusi ringan, tentang apa saja. Sampai suatu ketika, di dalam obrolan itu, ia
merasa menemukan masalah peneltian. “Kayanya bisa tuh, dijadiin judul skripsi.”
REMINDER
Hampir empat bulan,
Renna berkutat dengan tugas akhirnya. Namun, belum ada perkembangan yang
signifikan. Masalah, teori, dan jurnal sudah ia dapatkan, tapi fakta lapangan
masih terlalu sedikit. Ia masih harus mengumpulkan data, dan populasi dari
obyek penelitiannya. Hingga menjelang akhir semester, ia harus rela untuk
mencari obyek penelitian baru, karena yang sebelumnya tidak bisa diteliti
karena sampel terlampau heterogen. Masuk semester baru, ia mencari link perusahaan
atau lembaga yang bisa diteliti. Beberapa tempat ia coba, tapi nihil. Entah,
karena tidak mau terlihat ada masalah, tidak mau memberikan data, atau tidak
ada jawaban dari proposal yang telah dikirimnya. “Rasanya pengen nyerah aja
deh,” keluhnya.
Sempat ia kehilangan
semangat untuk menyelesaikan tugas akhirnya, karena tidak tahu harus bagaimana
agar bisa segera sidang dan lulus. Sesekali, ia refreshing melihat sekeliling, berkontemplasi diri. Hingga ia
menyadari bahwa tidak semua orang bisa kuliah, juga melihat pengamen di jalan,
tidur di pinggir jalan, meminta-minta, serta ia kadang mengajak ngobrol kawan-kawannya tentang hidup dan
mimpi di masa depan untuk sekadar mensyukuri nikmat Allah. Semua itu menjadi
benih semangat Renna untuk tetap berjuang melanjutkan hidup, berjuang menyelesaikan
tugas akhir, melalui setiap ujian, dan mengalahkan rasa malas. “Kalau di Ranah
Tiga Warna bilang kalau sedang malas menulis, datang saja ke rumah malas,
mungkin ini caraku menciptakan rumah (peredam) malas,” ujar Renna
mengingat-ingat buku yang baru selesai dibacanya itu.
Rumah (peredam) malas,
ada di sekitar Renna. Di pinggir-pinggir jalan, tempat mereka yang kurang
beruntung tinggal. Jika malas datang, selalu Renna lewati saat pulang dari
kampus. Jika ada rezeki, Renna menyisihkannya untuk mereka, dengan membelikan
roti, air mineral, atau makanan dan minuman lainnya. Ia kurang suka jika
memberikan uang, karena khawatir digunakan untuk hal yang kurang berguna.
Setelah berpikir
panjang, Renna merasa tak boleh menyerah
begitu saja di akhir akademiknya ini. Ia masih memiliki banyak waktu untuk
menyelesaikan skripsinya. “Kalau gak semester ini, ya semester depan, atau
semester depannya lagi, sampai jatahnya habis,” ujar Renna dalam hati.. “Berjuang
untuk bisa menuntut ilmu di perguruan tinggi, masa berakhir dengan predikat Tidak
Lulus (TL). Aku gak bersyukur banget. Ini kan nikmat Allah juga. Mungkin amanah
masih ada, tapi gak harus nyuekin
akademik kan? We must balance in our roles,
everywhere.”
Ia pun sadar, banyak
yang akan kecewa jika ia menyerah, terutama kedua orang tuanya. “Kini dan kapan
saja, saat aku stagnan pada pengerjaan tugas akhir, menghadapi masalah di rumah,
amanah, dan lainnya, aku akan berusaha mencari hikmah di sekitarku, perbanyak
silaturahmi dan diskusi, serta tetap aktif dalam melakukan kebaikan dan menolong
agama Allah, dan ke rumah (peredam) malas. Allah pasti bantu,” yakin Renna.
Siapa
saja, sepertinya perlu memiliki rumah malas yang bisa membangkitkan semangat
karena penyesalan itu adanya di akhir, katanya begitu.
-SELESAI-

Halo, nama saya Mia Aris.S. Saya ingin menggunakan media ini untuk mengingatkan semua pencari pinjaman sangat berhati-hati karena ada penipuan di mana-mana. Beberapa bulan yang lalu saya tegang finansial, dan putus asa, saya telah scammed oleh beberapa pemberi pinjaman online. Saya hampir kehilangan harapan sampai seorang teman saya merujuk saya ke pemberi pinjaman sangat handal disebut Ibu Cynthia yang meminjamkan pinjaman tanpa jaminan dari Rp800.000.000 (800 JUTA ) dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tekanan atau stres dengan tingkat bunga hanya 2%. Saya sangat terkejut ketika saya memeriksa saldo rekening bank saya dan menemukan bahwa jumlah i diterapkan untuk dikirim langsung ke rekening saya tanpa penundaan. Karena aku berjanji padanya bahwa aku akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi, jika Anda membutuhkan pinjaman dalam bentuk apapun, silahkan hubungi dia melalui emailnya: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com
BalasHapusAnda juga dapat menghubungi saya di email saya ladymia383@gmail.com.
Sekarang, semua yang saya lakukan adalah mencoba untuk bertemu dengan pembayaran pinjaman saya bahwa saya kirim langsung ke rekening bulanan.
Halo, nama saya Mia Aris.S. Saya ingin menggunakan media ini untuk mengingatkan semua pencari pinjaman sangat berhati-hati karena ada penipuan di mana-mana. Beberapa bulan yang lalu saya tegang finansial, dan putus asa, saya telah scammed oleh beberapa pemberi pinjaman online. Saya hampir kehilangan harapan sampai seorang teman saya merujuk saya ke pemberi pinjaman sangat handal disebut Ibu Cynthia yang meminjamkan pinjaman tanpa jaminan dari Rp800.000.000 (800 JUTA ) dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tekanan atau stres dengan tingkat bunga hanya 2%. Saya sangat terkejut ketika saya memeriksa saldo rekening bank saya dan menemukan bahwa jumlah i diterapkan untuk dikirim langsung ke rekening saya tanpa penundaan. Karena aku berjanji padanya bahwa aku akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi, jika Anda membutuhkan pinjaman dalam bentuk apapun, silahkan hubungi dia melalui emailnya: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com
BalasHapusAnda juga dapat menghubungi saya di email saya ladymia383@gmail.com.
Sekarang, semua yang saya lakukan adalah mencoba untuk bertemu dengan pembayaran pinjaman saya bahwa saya kirim langsung ke rekening bulanan.