Cinta...
Oleh: Hilda Nur Wulandari
Pernah sampai padaku kata-kata ini, ‘Bahwa dakwah adalah cinta’
Pernah sampai padaku kata-kata ini, ‘Bahwa dakwah adalah cinta’
Dakwah.. Sejak kapan aku mengenal kata ini?? Ah, rasanya aku tak bisa mengingatnya. Hanya yang aku sadar, belakangan ini aku tengah akrab bersama dengannya. Ia sahabat yang baik. Paling baik bahkan, yang membuat aku semakin dekat dengan Rabbku. Syukur, aku bisa bertemu dengannya. Jika secara zahir, seringkali aku berada di lingkungan yang tak biasa, tapi justru di sanalah aku menyadari betul apa arti dakwah, dan mengapa dakwah menjadi sebuah kewajiban bagi setiap muslim yang beriman. Ya, aku mulai mencintainya dan berharap bisa terus mencintainya.
Bagiku, dakwah mengajarkan banyak hal. Ia mendidikku untuk tegar dalam menghadapi setiap ujian dan tantangan hidup. Ia mengajarkan arti hidup dan bagaimana empati kita pada yang lain. Ia melatih kesabaran dan keikhlasan dalam diri. Ia membuatku paham akan pentingnya menjadi teladan dan bagaimana tawazun dalam setiap aktivitas. Ia juga mengajarkanku bagaimana memprioritaskan yang benar. Itulah dakwah.
Ada satu hal yang menurutku paling mendasari kerja-kerja dakwah. Membina dan dibina. Mulai dari penjagaan ruhiyah, ilmu dan pengetahuan yang manhaji, dan karakter yang harus terbangun, semua itu mestinya terangkum melalui aktivitas membina dan dibina.
Membina adalah amanah yang paling berharga. Ada keteladanan yang mesti diberi, ada cinta yang selalu membersamai, ada doa yang selalu terlantunkan, lebih banyaknya kesabaran dan keikhlasan yang mesti tertancap kuat dalam diri.
Demikian juga dengan dibina. Bagaimana bisa membina jika kita tidak terbina? Rasanya bakal ngawur, membina hanya jadi pertemuan-pertemuan biasa, tidak ada arah dan tujuan, bahkan menghilangkan keberlajutan manhaj dakwah itu sendiri. Jadi, jika kita ingin membina, maka kita pun harus terbina. Begitu pun sebaliknya, ketika kita terbina, maka kita pun harusnya membina. Ini sudah aturan mainnya. Jika satu tak ada, maka kerja dakwah jadi tak maksimal.
Dakwah itu menjaga
Astaghfirullahaladhim. Mungkin benar, itu cara Allah menjagaku. Menjaga dari ketidaktahuanku, dari aktivitas yang kurang bermanfaat. Allah Maha Baik. Hanya rasa syukur dan berusaha menjalani hidup ini sesuai dengan pintaNya yang bisa kulakukan atas semua anugerah yang Ia berikan, atau yang benar Ia titipkan padaku.
Jika dikatakan dakwah ini menghabiskan seluruh waktu, jiwa, harta, pikiran kita, mungkin ada benarnya, tapi tidak seluruhnya benar, karena dakwah adalah energi, bagi setiap da’i (manusia) agar tetap bisa bermanfaat bagi sekitar, agar tetap terjaga keimanannya. Dakwah adalah asupan diri menjadi lebih baik di mata Allah. Tidak ada yang sia-sia jika benar niat dan caranya. Karena ridho Allah saja itu sudah cukup membuat mereka yang yakin, bahagia dalam menjalani kehidupan yang fana ini.
Sejatinya perjalanan ini masih panjang. Selama ruh ini masih bersemayam dalam tubuh, maka selama itu dakwah berharap dapat terus kugenggam. Terus menjadi sahabat terbaik, saat apapun terjadi. Karena dengannya lah aku merasa ridho Allah dekat. Pun, mengingatkanku akan Rasulullah. Akan segala perjuangan beliau menegakkan risalahNya. Dan membuatku semakin rindu berjumpa dengan beliau.
Bagi semua, yang pernah mengenalkanku pada dakwah ilallah, yang dengan sabar menjawab semua pertanyaanku, semoga ridho Allah senantiasa dekat dengan kalian. Aamiin.
Komentar
Posting Komentar