Menuju Generasi Qurani
#Kajian DSD (Dewan Syariah Daerah)❤
Sabtu, 28 Mei 2016
Menuju Generasi Qur'ani
Muwajjih:
Ust. Abdul Syukur, MA
Ust. Muhammad Anas, Lc
Bismillahirrohmanirrohim.
Alhamdulillah ala kulli hal. Marhaban Ya Ramadhan. Marhaban Ya Syahrul Qur'an. Semoga Allah sampaikan kita pada bulan suci Ramadhan tahun ini.
Kali ini kajian DSD mengangkat tema "Cinta Al-Quran". Mengingat sebentar lagi kita pun akan kedatangan tamu agung. Bulan yang dirindukan siapa saja yang merindukan. Bulan Ramadhan. Bulan turunnya Al-Quran.
Al-Quran, inilah kalamullah yang harus dijadikan sebagai manhaj kehidupan. Didalamnya terdapat berbagai hukum, ilmu pengetahuan, serta kisah para Nabi dan pendahulu. Bahkan, menjadikan Al-Quran sebagai satu-satunya jalan adalah syarat mutlak agar menjadi kembali kepada kejayaan islam. Demikian, pembicara I, Ust. Abdul Syukur menerangkan pentingnya Al-Quran.
Al-Quran juga menjadi sumber bagi para orang tua dalam mengajarkan adab terhadap anak. Tujuannya, agar anak memiliki karakter Qurani. Jika anak melakukan kesalahan, tegurlah ia. Jangan biarkan ia menganggap biasa kesalahannya, karena kelak ia akan meremehkan hal itu. Ajarkan anak berakhlak Qurani, dekat dengan Al-Quran, membaca, menghafal, dan mentadabburi ayat-ayat Al-Quran. Bersama keluarga menuju generasi Qurani.
Ya, sebagaimana para sahabat mencontohkan, mereka tak hanya membaca Al-Quran, melainkan juga memahami esensi dari setiap ayat yang dibaca. Mereka baca berulang-ulang ayat tersebut, menghayati, bahkan tak jarang yang menitikkan air mata tatkala mendengar ayat Al-Quran dibacakan.
Ketika kita membaca Al-Quran mintalah kepada Allah. Al-Quran akan menjadi obat bagi setiap hati. Ketika Al-Quran menjadi bacaan rutin setiap hari, ia akan membasahi relung hati kita, seperti batu yang tersiram air, lama-lama akan menjadi bolong. Bahkan Al-Quran lebih dahsyat dari air. Ia akan menghidupkan jiwa para pembaca dan pendengarnya. Semoga Allah limpahkan rahmatNya bagi orang-orang yang selalu berinteraksi dengan Al-Quran.
Masih penjelasan dari pembicara I, bahwa Al-Quran menjadikan hidup ini menjadi mudah. Dalam surat Toha: 124 dikatakan, "Dan siapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sungguh, dia akan, menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami mengumpulkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta."
Demikian, gambaran dari Allah tentang orang-orang yang jauh dari Al-Quran. Hidupnya akan sempit dan sulit.
Fadhilah Al-Quran
Agar cinta terhadap Al-Quran semakin kuat, kita pun perlu kiranya memahami keutamaan-keutamaannya.
Begitu banyak keutamaan Al-Quran yang bisa kita dapatkan dari berbagai hadist shahih. Inilah yang disampaikan oleh pembicara II, Ust. Muhammad Anas. Diantaranya: Al-Quran bisa menjadi syafaat di hari kiamat. Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:"Bacalah selalu Al-Qur'an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti untuk memberi syafa'at kepada para pembacanya". (HR. Muslim).
Al-Quran juga menjadi standar sebaik-baiknya manusia. Imam Bukhari meriwayatkan, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”
Keutamaan lainnya, ingatlah sabda Rasulullah SAW, "Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur'an ialah ibarat buah utrujjah, baunya harum dan enak rasanya, sedangkan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an adalah ibarat buah kurma, tidak berbau tapi manis rasanya. Adapun perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur'an ialah bagaikan wewangian, baunya harum tapi pahit rasanya, sedangkan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur'an adalah bagaikan buah hanzolah, tidak berbau lagi pahit rasanya". (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Itulah sedikit keutamaan Al-Quran, lainnya bisa ditemukan di berbagai bacaan dan kajian keQuranan
Tanya Jawab
Dalam kajian DSD Sabtu lalu, tersimpulkan pula berbagai pertanyaan tentang Al-Quran beserta jawaban dari para muwajjih.
1. Menjadikan Al-Quran sebagai penghidupan?
Ust. Abdul Syukur: yang tidak boleh adalah mengambil upah dari bacaan Al-Quran. Contoh: para qori yang sering diundang dalam suatu acara dan dibayar.
Kalau mengajarkan Al-Quran diporbolehkan. Dalam hadist Bukhori disebutkan, rizqi yang paling afdhol adalah mengajarkan Al-Quran. Seperti yang dilakukan Mush'ab bin Umair, saat baiat aqabah 1, tahun 11 kenabian, beliau ditugaskan Rasulullah ke Yatsrib untuk mengajarkan Al-Quran dan pengetahuan islam, hingga beliau tidak sempat mencari rezeki, dan orang-orang kemudian yang tahu tentang kondisi ini, memberikan upah atas jasanya mengajarkan. Demikian juga dengan menjual mushaf Al-Quran, ini diperbolehkan mendapat upah sebab merupakan hasil produksi untuk kegiatan perdagangan.
2. Waktu membaca Al-Quran 1 hari 1 juz?
Ust. M. Anas: membaca Al-Quran bisa pagi, siang, atau sore. Bisa cash (1 kali baca langsung 1 juz), bisa angsur (dibagi-bagi, setengah-setengah juz). Kuatkan azzam agar bisa menyelesaikan ODOJ, dan tidak dilakukan terlalu menggebu-gebu ataupun terlalu meremehkan.
Agar tetap semangat tilawah:
A. Senantiasa mengupgrade motivasi kita bertilawah
B. Punya halaqoh quran
C. Punya koleksi kisah orang-orang yang konsisten dalam membaca Al-Quran
3. Baca Al-Quran karena keutamaan tertentu?
Ust. M. Anas: tidak apa-apa, ada karakter orang yang melakukan sesuatu karena ada keuntungan tertentu atau karena takut adzab Allah.
4. Ikut odoj?
Ust. Abdul Syukur: odoj itu hanya pemantik (harus ada berhentinya) Tilawah=shodaqoh, mengumumkan tilawah=mengumumkan shodaqoh
5. Dalam satu hari apakah harus membaca, menghafal, membaca terjemahan? Menghafal, murajaah berbeda dengan tilawah. Jadi, diatur saja waktunya. Dalam membaca Al-Quran bukan hanya dilihat dari banyaknya ayat yang dibaca, tapi juga banyaknya waktu yang kita sediakan untuk Al-Quran. Orang yang baca Al-Qurannya cepat, baca 1 juz dalam waktu setengah jam, masih lebih baik orang yang baca 1 juz dalam waktu 1 jam.
Dirangkum oleh: Hilda Nur Wulandari
Sabtu, 28 Mei 2016
Menuju Generasi Qur'ani
Muwajjih:
Ust. Abdul Syukur, MA
Ust. Muhammad Anas, Lc
Bismillahirrohmanirrohim.
Alhamdulillah ala kulli hal. Marhaban Ya Ramadhan. Marhaban Ya Syahrul Qur'an. Semoga Allah sampaikan kita pada bulan suci Ramadhan tahun ini.
Kali ini kajian DSD mengangkat tema "Cinta Al-Quran". Mengingat sebentar lagi kita pun akan kedatangan tamu agung. Bulan yang dirindukan siapa saja yang merindukan. Bulan Ramadhan. Bulan turunnya Al-Quran.
Al-Quran, inilah kalamullah yang harus dijadikan sebagai manhaj kehidupan. Didalamnya terdapat berbagai hukum, ilmu pengetahuan, serta kisah para Nabi dan pendahulu. Bahkan, menjadikan Al-Quran sebagai satu-satunya jalan adalah syarat mutlak agar menjadi kembali kepada kejayaan islam. Demikian, pembicara I, Ust. Abdul Syukur menerangkan pentingnya Al-Quran.
Al-Quran juga menjadi sumber bagi para orang tua dalam mengajarkan adab terhadap anak. Tujuannya, agar anak memiliki karakter Qurani. Jika anak melakukan kesalahan, tegurlah ia. Jangan biarkan ia menganggap biasa kesalahannya, karena kelak ia akan meremehkan hal itu. Ajarkan anak berakhlak Qurani, dekat dengan Al-Quran, membaca, menghafal, dan mentadabburi ayat-ayat Al-Quran. Bersama keluarga menuju generasi Qurani.
Ya, sebagaimana para sahabat mencontohkan, mereka tak hanya membaca Al-Quran, melainkan juga memahami esensi dari setiap ayat yang dibaca. Mereka baca berulang-ulang ayat tersebut, menghayati, bahkan tak jarang yang menitikkan air mata tatkala mendengar ayat Al-Quran dibacakan.
Ketika kita membaca Al-Quran mintalah kepada Allah. Al-Quran akan menjadi obat bagi setiap hati. Ketika Al-Quran menjadi bacaan rutin setiap hari, ia akan membasahi relung hati kita, seperti batu yang tersiram air, lama-lama akan menjadi bolong. Bahkan Al-Quran lebih dahsyat dari air. Ia akan menghidupkan jiwa para pembaca dan pendengarnya. Semoga Allah limpahkan rahmatNya bagi orang-orang yang selalu berinteraksi dengan Al-Quran.
Masih penjelasan dari pembicara I, bahwa Al-Quran menjadikan hidup ini menjadi mudah. Dalam surat Toha: 124 dikatakan, "Dan siapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sungguh, dia akan, menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami mengumpulkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta."
Demikian, gambaran dari Allah tentang orang-orang yang jauh dari Al-Quran. Hidupnya akan sempit dan sulit.
Fadhilah Al-Quran
Agar cinta terhadap Al-Quran semakin kuat, kita pun perlu kiranya memahami keutamaan-keutamaannya.
Begitu banyak keutamaan Al-Quran yang bisa kita dapatkan dari berbagai hadist shahih. Inilah yang disampaikan oleh pembicara II, Ust. Muhammad Anas. Diantaranya: Al-Quran bisa menjadi syafaat di hari kiamat. Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:"Bacalah selalu Al-Qur'an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti untuk memberi syafa'at kepada para pembacanya". (HR. Muslim).
Al-Quran juga menjadi standar sebaik-baiknya manusia. Imam Bukhari meriwayatkan, "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”
Keutamaan lainnya, ingatlah sabda Rasulullah SAW, "Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur'an ialah ibarat buah utrujjah, baunya harum dan enak rasanya, sedangkan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an adalah ibarat buah kurma, tidak berbau tapi manis rasanya. Adapun perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur'an ialah bagaikan wewangian, baunya harum tapi pahit rasanya, sedangkan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur'an adalah bagaikan buah hanzolah, tidak berbau lagi pahit rasanya". (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Itulah sedikit keutamaan Al-Quran, lainnya bisa ditemukan di berbagai bacaan dan kajian keQuranan
Tanya Jawab
Dalam kajian DSD Sabtu lalu, tersimpulkan pula berbagai pertanyaan tentang Al-Quran beserta jawaban dari para muwajjih.
1. Menjadikan Al-Quran sebagai penghidupan?
Ust. Abdul Syukur: yang tidak boleh adalah mengambil upah dari bacaan Al-Quran. Contoh: para qori yang sering diundang dalam suatu acara dan dibayar.
Kalau mengajarkan Al-Quran diporbolehkan. Dalam hadist Bukhori disebutkan, rizqi yang paling afdhol adalah mengajarkan Al-Quran. Seperti yang dilakukan Mush'ab bin Umair, saat baiat aqabah 1, tahun 11 kenabian, beliau ditugaskan Rasulullah ke Yatsrib untuk mengajarkan Al-Quran dan pengetahuan islam, hingga beliau tidak sempat mencari rezeki, dan orang-orang kemudian yang tahu tentang kondisi ini, memberikan upah atas jasanya mengajarkan. Demikian juga dengan menjual mushaf Al-Quran, ini diperbolehkan mendapat upah sebab merupakan hasil produksi untuk kegiatan perdagangan.
2. Waktu membaca Al-Quran 1 hari 1 juz?
Ust. M. Anas: membaca Al-Quran bisa pagi, siang, atau sore. Bisa cash (1 kali baca langsung 1 juz), bisa angsur (dibagi-bagi, setengah-setengah juz). Kuatkan azzam agar bisa menyelesaikan ODOJ, dan tidak dilakukan terlalu menggebu-gebu ataupun terlalu meremehkan.
Agar tetap semangat tilawah:
A. Senantiasa mengupgrade motivasi kita bertilawah
B. Punya halaqoh quran
C. Punya koleksi kisah orang-orang yang konsisten dalam membaca Al-Quran
3. Baca Al-Quran karena keutamaan tertentu?
Ust. M. Anas: tidak apa-apa, ada karakter orang yang melakukan sesuatu karena ada keuntungan tertentu atau karena takut adzab Allah.
4. Ikut odoj?
Ust. Abdul Syukur: odoj itu hanya pemantik (harus ada berhentinya) Tilawah=shodaqoh, mengumumkan tilawah=mengumumkan shodaqoh
5. Dalam satu hari apakah harus membaca, menghafal, membaca terjemahan? Menghafal, murajaah berbeda dengan tilawah. Jadi, diatur saja waktunya. Dalam membaca Al-Quran bukan hanya dilihat dari banyaknya ayat yang dibaca, tapi juga banyaknya waktu yang kita sediakan untuk Al-Quran. Orang yang baca Al-Qurannya cepat, baca 1 juz dalam waktu setengah jam, masih lebih baik orang yang baca 1 juz dalam waktu 1 jam.
Dirangkum oleh: Hilda Nur Wulandari

Komentar
Posting Komentar