Nikmati Hafalan al-Qur’anmu


Oleh: Hilda Nur Wulandari

Menghafal al-Qur’an itu dengan hati bukan dengan otak, sebab hafalan yang menggunakan otak akan membuat lelah. Namun, jika hati yang digunakan, maka akan terasa nikmat dalam menghafal.

Jakarta Timur (Ahad, 5 Februari 2017)
Alhamdulillah ‘ala kulli hal. It’s a time! Sungguh kesempatan yang mungkin tak datang dua kali. Saya bisa berkumpul lagi dengan para penghafal al-Qur’an. Hari ini, Allah mudahkan saya untuk hadir dalam Workshop “Menikmati Hafalan dan Muroja’ah” di Masjid Al-Mudzakaarah, Condet, Jakarta Timur.
Dalam acara ini, saya bertemu dengan Syekh Ahmad al-Khannash dari Suriah. Beliau menjadi salah satu pembicara dalam talkshow di acara ini. Syekh menyampaikan dalam bahasa Arab yang kemudian diterjemahkan oleh seorang penerjemah bahwa ada beberapa kewajiban kita terhadap al-Qur’an. Diantaranya, yang pertama, pembacaan yang bagus. Hendaknya, kita sebagai pewaris al-Qur’an membacanya sebagaimana al-Qur’an itu diturunkan. Bahkan, lebih baik bisa menghafalkannya. Ini juga yang menjadi pesan dari Imam Ibnu Jazari, bahwa:
Membaca al-Qur’an dengan tajwid itu hukumnya wajib
Siapa yang tidak membetulkan bacaan al-Qur’annya berdosa
Karena Allah menurunkannya dengan tajwid
Dan demikianlah al-Qur’an dariNya sampai kepada kita
Kedua, tadabburilah kitab yang Allah turunkan ini. Pahami isi kandungannya agar kita bisa mengambil banyak faedah darinya. Hidupkan ruh ini dengan memahami setiap ayat Allah, agar hati menjadi tenang.
Ketiga, amalkan al-Qur’an. Oleh karena, Ia bisa menjadi hujjah kelak di hari akhir. “Pelajari dan amalkan al-Qur’an, maka ia akan menjadi hujjah, tapi jika dipelajari tanpa diamalkan maka ia akan menuntut orang tersebut,” ungkap Syekh tersebut. Astaghfirullah, ternyata, kewajiban kita tak hanya menghafal sebagian dari ayat al-Qur’an. Setelah dihafal, amalkan ayat yang kita hafal dalam kehidupan kita.
Terakhir, sebarkan al-Qur’an. Artinya, ajarkanlah al-Qur’an kepada orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarkan al-Qur’an.”
Beliau juga menyampaikan beberapa faedah dari berinteraksi dengan al-Qur’an yakni bahwa al-Qur’an menjadikan mudah setiap kesulitan, menjadi penerang dalam kubur, syafaat di dunia dan akhirat, kita bisa naik ke surga yang lebih tinggi, seperti sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) al-Qur’an nanti, ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya! Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).
Hadits ini diriwayatkan oleh imam Abu Daud dalam Sunannya no. 1464 dan imam Tirmidzi dalam sunan at-Tirmidzi, no. 2914, dan Ibnu Hibbân no. 1790 dari jalan ‘Âshim bin Abi  Najûd dari Zurrin dari Abdullah bin ‘Amru secara marfu’
Orang yang senantiasa dekat dengan al-Qur’an, juga tak kan ditinggalkannya (red: al-Qur’an), bahkan bisa membawa manfaat untuk orang-orang di sekitar kita, manfaatnya bisa berpindah untuk saudara kita dan bisa mengubah takdir buruk menjadi baik, bagi orang tua dan saudara-saudara penghafal al-Qur’an akan mendapat kabar gembira yaitu mendapat mahkota yang cahayanya seperti matahari bahkan lebih bagus.
Selain itu, Ustadz Efendi Anwar juga menyampaikan beberapa hal terkait menghafal al-Qur’an. Beliau mengungkapkan bahwa ada lima langkah dalam menghafal al-Qur’an, pertama membaca dengan benar, kedua memahami al-Qur’an, ketiga menghafal dengan buka tutup, keempat membaca dalam sholat, dan terakhir ulangi bacaan agar menikmatinya. (Contohnya bisa dilihat di youtube ya ^^, search: Mozaik menghafal al-Qur’an)
Dalam mengulang bacaan, ulanglah hingga benar-benar yakin bahwa ayatnya sudah hafal, dalam menghafal al-Qur’an juga bisa ditambah dengan amalan khusus yakni sholat khifdzi (sholat menghafal al-Qur’an). Sholat ini termasuk ke dalam hadist hasan. Cara melaksanakan sholat ini dilakukan setiap malam jum’at, terdiri dari empat rakaat. Setiap rakaat setelah membaca surat al-Fatihah, diwajibkan membaca surat khusus. Diantaranya, rakaat pertama membaca surat Yasin, rakaat kedua surat adh-Dhukhon, ketiga surat as-Sajdah, dan rakaat terakhir membaca surat al-Mulk.

Kesan dalam Setiap Sesi Acara
Ada satu kesan yang begitu menyentuh hati saya dalam acara ini. Saat saya bertemu dengan seorang akhwat yang luar biasa. Dia ternyata teman dari sahabat saya di kampus. Beliau membawa kedua anaknya yang masih kecil. Yang satu digandeng dan satunya dalam gendongan. Saat masuk sesi murajaah kelompok, kami dijadikan satu kelompok. Saya benar-benar merasakan dan menyaksikan sendiri bagaimana hafalan al-Qur’an itu begitu nikmat dilantunkan oleh beliau.
Di sesi testimoni, beberapa ustadz dan ustadzah juga memberikan pesan bagi para peserta. Bahwa menghafal al-Qur’an itu harus disertai dengan semangat, memiliki azzam yang kuat, dan tetap istiqomah.
Ustadz Abdur Robb (seorang penghafal al-Qur’an yang menjadi salah satu pemberi testimoni) juga menyampaikan tentang perbedaan muraja’ah hafalan dengan menghafal ulang. “Dikatakan murajaah hafalan, ketika mengulang hafalan yang sudah ada. Sedangkan menghafal ulang adalah mengulang hafalan yang sudah tidak ada. Menikmati hafalan adalah ketika mengulang hafalan, hafalannya lancar,” demikian ungkap beliau.
Selain itu, dalam menghafal al-Qur’an setiap orang pasti memiliki ujian tersendiri. Salah satunya adalah maksiat. Melakukan maksiat, entah dengan mata, lisan, pendengaran, dan lainnya akan menghambat kita dalam menghafal. Inilah perjuangan yang harus dihadapi dalam menghafal al-Qur’an.
The last statement, ustadz Abdur Rob berpesan, menghafal itu fardhu kifayah, sedangkan murajaah adalah fardhu ‘ain. Ketika hafal 30 juz, harus ada rasa rindu pada juz-juz yang sudah dihafal. Jadikan murajaah seperti sambal. Satu hari tanpa muraja’ah terasa ada yang kurang. So, let’s enjoy your life with Qur’an. InshaAllah, you will be happy.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Film Sang Murabbi

Urgensi Jama’atul Muslimin tuk Tegakkan Islam

Ta'liful Qulub: Sahabat Dunia Akhirat