Tragis
Tragis
Tiga bocah itu seolah berlarian ke arahku, hampir-hampir ku tertabrak oleh mereka. Tergambar jelas keceriaan dari wajah lugu ketiga bocah berusia tak lebih dari 10 tahun itu.
“Kiri Bang,” ucapku dengan lantang kepada supir angkot yang ku tumpangi. Mobil yang berisi lima orang penumpang itu berhenti seketika. Ku keluarkan dua lembar uang ribuan dari dalam tas dan kuberikan pada supir angkot itu. Ku turun perlahan sambil memegang tas yang kupangku selama di angkot tadi. Perjalanan kulanjutkan kembali dengan berjalan kaki. Masih dua ratus meter lagi kira-kira untuk bisa sampai ke rumah. Jarang sekali aku bisa menikmati suasana sore seperti ini. Sebab hampir setiap hari ku pulang saat matahari telah kembali ke peraduannya. Hari ini, memang tak seperti biasanya, aku pulang lebih cepat karena hanya ada satu mata kuliah di kelasku dan tak ada kegiatan lain yang harus dikerjakan di kampus. Di sekeliling jalan ku lihat berbagai aktivitas yang tengah dilakukan masyarakat di daerah pinggiran kotaku.
Sesekali tampak kumpulan anak kecil yang bermain di sekitar jalan. Entah kemana orang tua mereka, “Mungkin masih sibuk bekerja di kantor atau sedang bergelut di dapur,” fikirku. Tiba-tiba ada tiga bocah muncul dihadapanku entah dari mana mereka. Tiga bocah itu seolah berlarian ke arahku, hampir-hampir ku tertabrak oleh mereka. Tergambar jelas keceriaan dari wajah lugu ketiga bocah berusia tak lebih dari 10 tahun yang kutemui di sudut jalan seusai pulang dari kampus. Gelak tawa mereka seakan memecah lelah yang rasa-rasanya membebani tubuhku. Ku terus melanjutkan langkah menuju tempat tinggalku di seberang jalan setelah ini. Sesaat terbayang dalam fikiranku ketika masih seusia mereka. Dulu di dekat sini masih ada lapangan yang lumayan besar dan sebagian dipenuhi rerumputan. Sesekali aku dan teman sebayaku memang senang bermain di lapangan itu. Entah bermain bulu tangkis, galasin, atau hanya menikmati permainan yang seperti taman bermain di taman kanak-kanak. Setiap sore ada saja orang yang pergi ke sana, baik anak-anak maupun orang tua yang sekedar menemani anaknya bermain. Sempat pula ku mendapat kawan baru dari tempat itu.
Namun, kini segalanya telah berubah. Sepanjang jalan ini telah dipenuhi rumah-rumah warga, kontrakan dengan pagar menjulang tinggi, serta toko-toko kelontong, dan counter penjualan pulsa. Sepanjang jalan tak kulihat sedikit pekarangan yang dapat digunakan tuk anak-anak bermain dengan teman sebaya mereka. Di ujung jalan ini, terdapat jalan raya yang biasa menjadi lalu lalang kendaraan bermotor. Lain dulu lain sekarang, jalan raya ini dulu tak seramai sekarang, mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, mobil angkutan umum, metromini, hingga truk-truk, dan kontainer sering memadati jalan di masa kini. Berbeda sekali dengan dulu, sering kudapati jalan raya yang sepi sehingga dengan mudahnya dapat pergi ke seberang jalan. Kali ini, aku harus menunggu beberapa saat hingga ku lihat tak banyak kendaraan yang lewat.
Kemudian ku menyebrang jalan dengan beberapa orang yang tadi ku lihat turun dari mobil angkutan umum. Sambil memperhatikan kiri dan kanan, kami berjalan dengan hati-hati dan sesegera mungkin karena di kejauhan ada pengendara sepeda motor yang ngebut. Setelah berhasil menyebrang, ku lihat sepeda motor itu melesat begitu cepat dengan suara yang memekakan telinga. Ku menyusuri jalan selangkah demi selangkah dengan perut yang tak bisa dikompromi. Tak lama kemudian ku lihat ada penjual siomay dan gorengan di tepi jalan yang hendak kulalui. Ku hentikan langkah, menghampiri penjual siomay dan memesan sepiring siomay. Kebetulan, ada tempat duduk yang disediakan, jadi aku bisa beristirahat sejenak.
Menunggu pesananku selesai dibuat, ku pandangi jalan yang biasa ku lewati. Nampak beberapa orang yang baru pulang dari tempat kerjanya kembali ke rumah masing-masing. Tampak pula penjual makanan yang telah habis jualannya mendorong gerobak kosong. Ada juga tukang becak yang sedang membawa dua orang penumpang terus menggenjot pedal becaknya dengan susah payah. Memang perlu usaha yang keras menurutku. Terbayang olehku saat saat dunia kampus telah berakhir dan berganti dengan dunia kerja. Sepertinya usaha yang lebih keras dan rasa lelah yang selalu menemani akan kurasakan nanti.
“Dek, ini pesanannya.” Lamunanku buyar saat penjual siomay mengantarkan sepiring siomay pesananku.
“Terima kasih, Pak,” jawabku cepat dan ku ambil dari tangannya.
Sesaat kemudian, ku dengar suara sirine mobil polisi begitu kencang, sepertinya dari jalan raya yang kulalui tadi. Tak beberapa lama setelah itu, terdengar lagi suara sirine berbeda yang ku rasa itu suara sirine ambulans. Entah apa yang sedang terjadi di sana, membuat ku jadi sedikit penasaran. Ku nikmati potongan siomay dengan sambal kacangnya. Ku coba hiraukan segala yang membuatku penasaran. Kemudian ku lihat seorang wanita menuju penjual siomay yang terlihat ingin memesan.
“Pak, saya beli siomaynya ya tiga ribu di piring, pake sambel kacang dan kecap aja ya,” kata seorang wanita muda berambut setengah pinggang.
Aku tak bisa melihat wajahnya sebab ia membelakangiku. Kemudian ia mencari tempat duduk dan duduk di sebelahku. Setelah ku perhatikan, sepertinya aku pernah mengenalnya. Benar saja. Ia menyapaku terlebih dahulu.
“Tiwi, apa kabar? Masih ingat aku ga?”
Aku diam sejenak, fikiranku melayang pada tiga tahun lalu saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, “Oh, Citra ya?? Aku baik, kamu gimana” balasku sedikit ragu.
“Iya, ternyata kamu masih ingat. Alhamdulillah, aku juga baik. Sedang sibuk apa sekarang?” jawabnya, kemudian tersenyum.
“Kamu terlihat berbeda sekarang. Sibuk kuliah aja di kampus pendidikan di daerah Jakarta Timur. Kamu sendiri?”
“Baru pulang ya?, Kalau aku bekerja di perusahaan tekstil, di bagian pengecekan masuk keluar barang.”
“Iya, baru pulang, karena lapar, mampir dulu di sini, sekedar mengganjal perut,” Oh.. iya, tadi kamu lewat depan kan, kamu tahu apa yang telah terjadi di sana?” tanyaku.
“Iya, tadi aku lewat sana. Ada tabrakan... Waktu aku lihat sudah ada mobil polisi dan ambulans di pinggir jalan. Sempat juga aku terjebak macet akibat kecelakaan yang terjadi. Katanya sih, ada tiga anak kecil yang hendak naik kontainer, tapi yang terakhir tertinggal dan malah tertabrak truk yang ngebut di belakangnya. Aku juga melihat du lembar koran yang menutupi tubuhnya yang sudah tak berbentuk”
Tragis. Aku tersentak mendengarnya.
“Tiga bocah itu berusia berapa kira-kira?” tanyaku penasaran.
“Ya, sekitar sembilan tahun kata beberapa orang yang melihat,” jawabnya.
Sejenak aku teringat dengan tiga bocah yang hampir menabrakku saat melalui jalan di seberang jalan raya beberapa waktu lalu. Aku tak dapat membayangkan jika salah satu dari mereka yang mengalami kejadian itu. Perasaan dan fikiranku jadi tak karuan, sedikit terfikirkan bagaimana wajah dan gelak tawa mereka terhapus dengan kecelakaan tragis yang terjadi begitu singkat. Aku jadi kehilangan nafsu makan. Dua potong siomay di piringku tak ku makan. Aku segera mengembalikan piring pada si bapak penjual siomay. Ku buka tas kecilku dan teguk air mineral yang ku beli di kampus siang tadi.
“Kenapa kamu Wi?” Citra mengacaukan fikiranku.
“Hmm.. Tidak. Aku hanya sedang tak bersemangat,”jawabku lemas.
Tak terasa, terdengar suara adzan maghrib dari arah masjid yang ada di sudut jalan di depan sana, seolah mengajak para umat muslim menyegerakan ibadah sholat maghrib. Seusai membayar siomay dan menerima uang kembalian, aku berpamitan pada Citra.
“Cit, aku duluan ya.. Kapan-kapan main ke rumah, aku masih tinggal di jalan Cemara kok. Daah..” pamitku sambil melambaikan tangan.
“Ok. Kapan-kapan aku ke sana, hati-hati ya.” Sahutnya dengan membalas lambaian tanganku.
Entah apa yang tengah merasukiku. Mendengar kejadian tragis itu membuat ku jadi tak bersemangat. Seperti inikah nasib bocah kecil yang ingin bersenda gurau dengan kawan sebayanya. Tak ada lagi sedikit tempat di luar rumah yang bisa dijadikan tempat bemain bagi mereka. Pada akhirnya, mereka hanya dapat menonton televisi, bermain playstation atau berjam-jam di warnet entah apa yang dilakukan mereka. Padahal setahuku tayangan di televisi kurang mendidik atau bahkan hanya sedikit yang sesuai dengan usia mereka. Permainan-permainan di playstation atau internet pun dapat membuat mereka ketagihan dan akhirnya lupa waktu. Di mana masih bisa kutemukan tempat bermain yang layak bagi mereka. Ku harap para orang dewasa tak hanya ingin mencari keuntungan dari lahan-lahan kosong yang masih ada di pinggiran kota kecilku ini serta mereka ingat bahwa anak-anak butuh tempat bermain sebagai stimulus perkembangannya kelak.
Tamat.
Tiga bocah itu seolah berlarian ke arahku, hampir-hampir ku tertabrak oleh mereka. Tergambar jelas keceriaan dari wajah lugu ketiga bocah berusia tak lebih dari 10 tahun itu.
“Kiri Bang,” ucapku dengan lantang kepada supir angkot yang ku tumpangi. Mobil yang berisi lima orang penumpang itu berhenti seketika. Ku keluarkan dua lembar uang ribuan dari dalam tas dan kuberikan pada supir angkot itu. Ku turun perlahan sambil memegang tas yang kupangku selama di angkot tadi. Perjalanan kulanjutkan kembali dengan berjalan kaki. Masih dua ratus meter lagi kira-kira untuk bisa sampai ke rumah. Jarang sekali aku bisa menikmati suasana sore seperti ini. Sebab hampir setiap hari ku pulang saat matahari telah kembali ke peraduannya. Hari ini, memang tak seperti biasanya, aku pulang lebih cepat karena hanya ada satu mata kuliah di kelasku dan tak ada kegiatan lain yang harus dikerjakan di kampus. Di sekeliling jalan ku lihat berbagai aktivitas yang tengah dilakukan masyarakat di daerah pinggiran kotaku.
Sesekali tampak kumpulan anak kecil yang bermain di sekitar jalan. Entah kemana orang tua mereka, “Mungkin masih sibuk bekerja di kantor atau sedang bergelut di dapur,” fikirku. Tiba-tiba ada tiga bocah muncul dihadapanku entah dari mana mereka. Tiga bocah itu seolah berlarian ke arahku, hampir-hampir ku tertabrak oleh mereka. Tergambar jelas keceriaan dari wajah lugu ketiga bocah berusia tak lebih dari 10 tahun yang kutemui di sudut jalan seusai pulang dari kampus. Gelak tawa mereka seakan memecah lelah yang rasa-rasanya membebani tubuhku. Ku terus melanjutkan langkah menuju tempat tinggalku di seberang jalan setelah ini. Sesaat terbayang dalam fikiranku ketika masih seusia mereka. Dulu di dekat sini masih ada lapangan yang lumayan besar dan sebagian dipenuhi rerumputan. Sesekali aku dan teman sebayaku memang senang bermain di lapangan itu. Entah bermain bulu tangkis, galasin, atau hanya menikmati permainan yang seperti taman bermain di taman kanak-kanak. Setiap sore ada saja orang yang pergi ke sana, baik anak-anak maupun orang tua yang sekedar menemani anaknya bermain. Sempat pula ku mendapat kawan baru dari tempat itu.
Namun, kini segalanya telah berubah. Sepanjang jalan ini telah dipenuhi rumah-rumah warga, kontrakan dengan pagar menjulang tinggi, serta toko-toko kelontong, dan counter penjualan pulsa. Sepanjang jalan tak kulihat sedikit pekarangan yang dapat digunakan tuk anak-anak bermain dengan teman sebaya mereka. Di ujung jalan ini, terdapat jalan raya yang biasa menjadi lalu lalang kendaraan bermotor. Lain dulu lain sekarang, jalan raya ini dulu tak seramai sekarang, mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, mobil angkutan umum, metromini, hingga truk-truk, dan kontainer sering memadati jalan di masa kini. Berbeda sekali dengan dulu, sering kudapati jalan raya yang sepi sehingga dengan mudahnya dapat pergi ke seberang jalan. Kali ini, aku harus menunggu beberapa saat hingga ku lihat tak banyak kendaraan yang lewat.
Kemudian ku menyebrang jalan dengan beberapa orang yang tadi ku lihat turun dari mobil angkutan umum. Sambil memperhatikan kiri dan kanan, kami berjalan dengan hati-hati dan sesegera mungkin karena di kejauhan ada pengendara sepeda motor yang ngebut. Setelah berhasil menyebrang, ku lihat sepeda motor itu melesat begitu cepat dengan suara yang memekakan telinga. Ku menyusuri jalan selangkah demi selangkah dengan perut yang tak bisa dikompromi. Tak lama kemudian ku lihat ada penjual siomay dan gorengan di tepi jalan yang hendak kulalui. Ku hentikan langkah, menghampiri penjual siomay dan memesan sepiring siomay. Kebetulan, ada tempat duduk yang disediakan, jadi aku bisa beristirahat sejenak.
Menunggu pesananku selesai dibuat, ku pandangi jalan yang biasa ku lewati. Nampak beberapa orang yang baru pulang dari tempat kerjanya kembali ke rumah masing-masing. Tampak pula penjual makanan yang telah habis jualannya mendorong gerobak kosong. Ada juga tukang becak yang sedang membawa dua orang penumpang terus menggenjot pedal becaknya dengan susah payah. Memang perlu usaha yang keras menurutku. Terbayang olehku saat saat dunia kampus telah berakhir dan berganti dengan dunia kerja. Sepertinya usaha yang lebih keras dan rasa lelah yang selalu menemani akan kurasakan nanti.
“Dek, ini pesanannya.” Lamunanku buyar saat penjual siomay mengantarkan sepiring siomay pesananku.
“Terima kasih, Pak,” jawabku cepat dan ku ambil dari tangannya.
Sesaat kemudian, ku dengar suara sirine mobil polisi begitu kencang, sepertinya dari jalan raya yang kulalui tadi. Tak beberapa lama setelah itu, terdengar lagi suara sirine berbeda yang ku rasa itu suara sirine ambulans. Entah apa yang sedang terjadi di sana, membuat ku jadi sedikit penasaran. Ku nikmati potongan siomay dengan sambal kacangnya. Ku coba hiraukan segala yang membuatku penasaran. Kemudian ku lihat seorang wanita menuju penjual siomay yang terlihat ingin memesan.
“Pak, saya beli siomaynya ya tiga ribu di piring, pake sambel kacang dan kecap aja ya,” kata seorang wanita muda berambut setengah pinggang.
Aku tak bisa melihat wajahnya sebab ia membelakangiku. Kemudian ia mencari tempat duduk dan duduk di sebelahku. Setelah ku perhatikan, sepertinya aku pernah mengenalnya. Benar saja. Ia menyapaku terlebih dahulu.
“Tiwi, apa kabar? Masih ingat aku ga?”
Aku diam sejenak, fikiranku melayang pada tiga tahun lalu saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, “Oh, Citra ya?? Aku baik, kamu gimana” balasku sedikit ragu.
“Iya, ternyata kamu masih ingat. Alhamdulillah, aku juga baik. Sedang sibuk apa sekarang?” jawabnya, kemudian tersenyum.
“Kamu terlihat berbeda sekarang. Sibuk kuliah aja di kampus pendidikan di daerah Jakarta Timur. Kamu sendiri?”
“Baru pulang ya?, Kalau aku bekerja di perusahaan tekstil, di bagian pengecekan masuk keluar barang.”
“Iya, baru pulang, karena lapar, mampir dulu di sini, sekedar mengganjal perut,” Oh.. iya, tadi kamu lewat depan kan, kamu tahu apa yang telah terjadi di sana?” tanyaku.
“Iya, tadi aku lewat sana. Ada tabrakan... Waktu aku lihat sudah ada mobil polisi dan ambulans di pinggir jalan. Sempat juga aku terjebak macet akibat kecelakaan yang terjadi. Katanya sih, ada tiga anak kecil yang hendak naik kontainer, tapi yang terakhir tertinggal dan malah tertabrak truk yang ngebut di belakangnya. Aku juga melihat du lembar koran yang menutupi tubuhnya yang sudah tak berbentuk”
Tragis. Aku tersentak mendengarnya.
“Tiga bocah itu berusia berapa kira-kira?” tanyaku penasaran.
“Ya, sekitar sembilan tahun kata beberapa orang yang melihat,” jawabnya.
Sejenak aku teringat dengan tiga bocah yang hampir menabrakku saat melalui jalan di seberang jalan raya beberapa waktu lalu. Aku tak dapat membayangkan jika salah satu dari mereka yang mengalami kejadian itu. Perasaan dan fikiranku jadi tak karuan, sedikit terfikirkan bagaimana wajah dan gelak tawa mereka terhapus dengan kecelakaan tragis yang terjadi begitu singkat. Aku jadi kehilangan nafsu makan. Dua potong siomay di piringku tak ku makan. Aku segera mengembalikan piring pada si bapak penjual siomay. Ku buka tas kecilku dan teguk air mineral yang ku beli di kampus siang tadi.
“Kenapa kamu Wi?” Citra mengacaukan fikiranku.
“Hmm.. Tidak. Aku hanya sedang tak bersemangat,”jawabku lemas.
Tak terasa, terdengar suara adzan maghrib dari arah masjid yang ada di sudut jalan di depan sana, seolah mengajak para umat muslim menyegerakan ibadah sholat maghrib. Seusai membayar siomay dan menerima uang kembalian, aku berpamitan pada Citra.
“Cit, aku duluan ya.. Kapan-kapan main ke rumah, aku masih tinggal di jalan Cemara kok. Daah..” pamitku sambil melambaikan tangan.
“Ok. Kapan-kapan aku ke sana, hati-hati ya.” Sahutnya dengan membalas lambaian tanganku.
Entah apa yang tengah merasukiku. Mendengar kejadian tragis itu membuat ku jadi tak bersemangat. Seperti inikah nasib bocah kecil yang ingin bersenda gurau dengan kawan sebayanya. Tak ada lagi sedikit tempat di luar rumah yang bisa dijadikan tempat bemain bagi mereka. Pada akhirnya, mereka hanya dapat menonton televisi, bermain playstation atau berjam-jam di warnet entah apa yang dilakukan mereka. Padahal setahuku tayangan di televisi kurang mendidik atau bahkan hanya sedikit yang sesuai dengan usia mereka. Permainan-permainan di playstation atau internet pun dapat membuat mereka ketagihan dan akhirnya lupa waktu. Di mana masih bisa kutemukan tempat bermain yang layak bagi mereka. Ku harap para orang dewasa tak hanya ingin mencari keuntungan dari lahan-lahan kosong yang masih ada di pinggiran kota kecilku ini serta mereka ingat bahwa anak-anak butuh tempat bermain sebagai stimulus perkembangannya kelak.
Tamat.
Komentar
Posting Komentar