Selalu Ada
Malam berlalu begitu cepat. Tiada sempat aku mengingat dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi. Bersama dinginnya angin malam yang serasa menusuk kulit. Sendiri. Semula ingin menaiki mertromini untuk segera sampai di rumah. Namun, menanti agaknya membosankan. Setengah jam berlalu tapi ia tak kunjung datang. Alhasil, ku bulatkan tekad menuju halte Transjakarta UNJ. Dua orang teman yang sedari tadi menemaniku menunggu metro, berpisah denganku menuju kost-an masing-masing. Perjalanan kulanjutkan. Aku menunggu Transjakarta menuju Priok. Semakin larut. Cukup lama rupanya mesti menunggu bus ini. Usai bus datang, aku segera naik, berpindah dari halte menjadi di bus. Duduk manis hingga halte selanjutnya.
Cepat sekali ku mesti sampai di halte transit. Lalu, aku menapaki tangga yang cukup panjang untuk menyebrang ke halte jurusan Priok. Ku kira di tempat ini aku mulai merasa ada yang tak beres. Cukup lama bus datang dan antrian begitu panjangnya. Aku di urutan belakang. Sambil bawa map, ku lihat keadaan sekeliling. "Sudah malam begini, masih banyak saja orang berkeliaran," pikirku. Dan waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam tapi aku belum mendapatkan bus untuk pulang.
Pikiran mulai berlari-lari mencari ide untuk menghilangkan rasa bosan. Aku melihat banyak memori tentang dunia dengan kisahnya yang beraneka ragam. Aku mencari kumpulan data yang tersimpan rapi di dalam otakku. Aku pilih file yang menarik untuk ku saksikan lagi. Ku buka satu per satu, karena agak lupa isinya. Juga melihat waktu terjadinya kisah-kisah lampau itu yang masih teringat. Ku berhenti pada satu file yang menarik sisi hatiku. Perlahan ku baca dan ku lihat bayangan masa lalu itu. Rekaan itu seolah tampak di hadapanku. Ah, ini fatamorgana.
Siapa wajah-wajah riang yang muncul di layar ingatanku. Aku coba tuk mengingatya.
Siapa wajah-wajah riang yang muncul di layar ingatanku. Aku coba tuk mengingatya.
bersambung...
Komentar
Posting Komentar