MUJAHIDAH INTELEKTUAL


Meniti langkah, berjuang, menuju terang.

oleh: Hilda Nur W.

SATU LAGI KISAH YANG PATUT UNTUK DISELAMI. Seorang intelektual muslim lahir di tempat ini. Sebuah perkampungan makmur di pinggiran New York, Amerika Serikat. Di Westchester, 23 Mei 1934 silam, ia tumbuh menjadi wanita yang cerdas. Daerah yang terletak di ujung tenggara negara bagian New York ini berbatasan dengan Putnam County di sebelah utara dan batas selatan dengan New York City. Sedangkan di sisi timur oleh Long Island Sound dan Fairfield County, Connecticut dan sisi barat dengan sungai Hudson.
Margaret Marcus, nama yang diberikan dari keluarga untuknya. Ia bukanlah dari keturunan islam melainkan Yahudi-Jerman. Kakek dan neneknya telah hijrah dari Jerman ke Amerika sekitar tahun 1848-1861, mencari penghidupan ekonomi yang lebih baik. Oleh karena keyahudian keluarganya hanya sekedar nama, ia dibesarkan sesuai lingkungan khas Amerika dan mendapat pendidikan sekular di sekolah negeri setempat seperti kakak perempuannya. Ketertarikan pada islam tumbuh sejak ia berusia 10 tahun. Saat itu, ia sedang menempuh pendidikan di sekolah Jewish Sunday.
Secara kepribadian, semasa remaja, Margaret tidak tertarik pada pesta-pesta, dansa, film, perhiasan, atau kosmetik, sebagaimana remaja sebayanya. Ia beranggapan bahwa merokok adalah kebiasaan vulgar dan kemubaziran. Meskipun kenyataan di masyarakat mengharuskan seseorang untuk minum-minum di dalam pesta dengan tujuan agar diterima secara sosial dan kedua orangtuanya berpendapat bahwa pengumbaran diri sekedarnya dengan anggur tak dapat dipisahkan dari "kenikmatan hidup". Namun, ia belum pernah menyentuh minuman keras. Saat itu ia mulai merasa keterasingan sosial merasuki dirinya.
Dalam usia remaja itu, ia banyak menghabiskan waktu untuk membaca. Berbagai ensklopedi serta kisah dunia Arab dan Islam menjadi bacaannya, seperti The Lance of Kanana karya Harry W. French, Boy of The Desert karya Eunice Tietjiena, Buku Camel Bells: A Boy from Baghdad. Buku-buku inilah yang menginspirasinya membuat novel berjudul Ahmad Khalil: Biografi Seorang Pengungsi Arab-Palestina. Sebuah buku tentang kehidupan seorang anak di desa kecil di kamp pengungsi Palestina yang ia tulis di usia lima belas tahun.
Keinginannya untuk mendalami islam semakin kuat saat ia kuliah di Universitas New York. Dalam mata kuliah “Judaisme in Islam” (Ajaran Yahudi dalam Islam), dosen Margaret, Rabbi Abraham Issac Katsh mencoba memberikan bukti-bukti di balik kedok "perbandingan agama", bahwa segala yang baik dalam Islam itu dipinjam langsung dari perjanjian lama, Talmud dan Midrash. Namun, kuliah ini bukannya mampu meyakinkannya akan keunggulan Yahudi atas agama Islam, tapi malah mengalihkannya kepada pandangan sebaliknya.
Sejak ia mulai meragukan agama Yahudi, mempelajari islam, masuk ke sekolah dengan sistem pendidikan Pergerakan Kebudayaan Etika dengan paham agnostik (humanisme) yang didirikan oleh Dr. Felix Adler, dan masuk sekolah Rabbi Katsh di Universitas New York tahun 1954, tak henti ia mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya. Dalam proses ini, ia menjadi seorang ateis tulen dan meremehkan semua organisasi keagamaan ortodoks sebagai ketahayulan.

Titik Balik: Meraih Terang
SEMANGATNYA MEMPELAJARI ISLAM TERUS BERTAMBAH. Berbagai literatur islam mulai secara intensif ia telaah. Ia juga melakukan surat menyurat dengan kaum muda di Arab dan Pakistan. Tujuannya agar memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam tentang arti islam dari orang islam sendiri dan mendapat informasi tentang peristiwa yang sedang terjadi di negara islam.
Di akhir bulan November 1954, ia ingin masuk Islam. Namun, keluarganya berusaha menghalangi. Mereka memperingatkan bahwa Islam akan menyulitkan hidupnya dan membuatnya terasing. Saat itu, keyakinan Margaret akan Islam belum terlalu kuat. Ia tidak tahan terhadap tekanan dari keluarga dan masyarakat. Karena itu, jiwa dan pikirannya terganggu. Ia pun harus Drop Out (DO) dari kuliahnya. Sejak tahun 1957-1959, orang tuanya memasukkannya ke rumah sakit jiwa.
Namun, karena kasih sayang orang tuanya, mereka berjanji akan mengizinkannya masuk islam jika ia benar-benar sembuh. Setelah keluar dari rumah sakit jiwa, di tahun 1959, ia berusaha menemui kaum muslimin di New York dan berdiskusi tentang keislaman. Namun, tak semua intelektual muslim yang ditemui sesuai dengan pemahamannya. Banyak muslim terbaratkan dan tidak bersesuaian pandangan dengannya. Di masa itu, ia juga berusaha menuangkan hasil pemikirannya dalam tulisan di majalah-majalah New York.
Ia juga mempelajari Al-Quran dan meyakini kebenarannya. “Setelah saya pelajari Al-Qur'an lebih dalam, saya mulai sadar mengapa Islam dan hanya agama Islam yang mampu membuat bangsa Arab menjadi bangsa besar. Tanpa Al-Qur'an, bahasa Arab mungkin telah punah. Keberadaan seluruh kesusasteraan dan kebudayaan Arab berhutang banyak kepada Al-Qur'an. Karenanya, kebudayaan Arab dan Islam tidak bisa dipisahkan. Tanpa Islam, kebudayaan Arab tidak akan berarti penting dalam dunia internasional,” demikian tuturnya dalam buku Korespondensi Antara Maulana Maudoodi Dan Maryam Jamilah.
Di penghujung tahun 1960, ia melakukan surat menyurat dengan berbagai pemimpin islam termasuk dengan Maulana Abul A’la al-Maududi, seorang pempin jama’at islami di Pakistan. Melalui korespondensi di bulan Desember 1960 – April 1962 itu, mereka saling bertukar pikiran tentang konsep islam yang sejalan dan berbagai realita yang terjadi.
Akhirnya, pada 24 Mei 1961, ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi mualaf. Ia mendapat sertifikat Peralihan Agama Islam di Missi Islam Amerika, Brooklyn dari Syaikh Daoud Ahmad Faisal dengan nama islam Maryam Jamilah. Setelah ia masuk islam, banyak umat islam yang menyambut positif. Atas dorongan dari Maududi dan izin orang tuanya, ia pindah ke Lahore, Pakistan dan bergabung dengan jama’at islami.
Di tahun berikutnya, ia menikah dengan Mohammad Yusuf Khan, seorang pengurus harian Jama’at Islami. Margaret aktif menulis buku-buku dan artikel antara lain Islam Versus The West, Islam Dan Modernisme, Ahmad Khalil, Islam Dan Orientalisme, Korespondensi Antara Maulana Maudoodi Dan Maryam Jamilah, Sebuah Manifesto Dari Gerakan Islam, Islam Dan Wanita Muslim Hari ini, dan berbagai judul lainnya. Karya-karyanya begitu menginspirasi banyak orang dan segera saja ia menjadi intelektual muslim yang terkenal dan bisa disejajarkan dengan intelektual muslim lainnya.
Namun, perjuangannya harus berakhir di awal November 2012 lalu. Maryam Jamilah menghembuskan nafas terakhir setelah sebelumnya mengalami sakit. Berbagai media online sempat memberitakan hal ini. Walaupun telah tiada, tapi semangat dan pemikirannya akan terus menginspirasi melalui karya-karya yang telah ia goreskan. Kini, sudahkah kita memberikan seluruh pemikiran, jiwa, harta untuk Dien ini? Siapa mujahidah intelektual selanjutnya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Film Sang Murabbi

Ta'liful Qulub: Sahabat Dunia Akhirat

Urgensi Jama’atul Muslimin tuk Tegakkan Islam