Membina Fikriyah*


Oleh: Hilda Nur Wulandari

Manusia, makhluk yang Allah SWT ciptakan dengan sebaik-baik bentuk (QS. At-Tiin: 4). Di dalam dirinya terdapat aspek akal (fikriyah) yang membedakannya dengan makhluk lain. Akal atau dalam bahasa Arab berarti aql’ dimaknai sebagai pengikatan dan pemahaman terhadap sesuatu. Hal ini berkaitan dengan makna bahwa dengan akal, seseorang berpikir dan memahami sesuatu yang disebut dengan ilmu dan pengetahuan. Akal merupakan alat bagi manusia dalam memikirkan suatu hal. Seiring dengan bertambahnya usia, seorang manusia akan mengalami perkembangan pola pikir.

Dalam perkara fikriyah, Islam tidak menganggap bahwa laki-laki lebih baik dari perempuan atau sebaliknya. Misalnya saja dalam perintah mencari ilmu, keduanya diwajibkan untuk mencari ilmu, terlebih ilmu keislaman. Bilamana hadist yang mengatakan bahwa wanita kurang akalnya bisa kita cermati melalui hadist di bawah ini:

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya: “Wahai wanita yang beriman seluruhnya, bershadaqahlah kalian semua, dan perbanyaklah kalian beristighfar, karena aku telah melihat bahwa mayoritas penghuni neraka adalah dari kalangan kalian”. Maka seorang wanita pun menyela dan bertanya, “Kenapa kami menjadi penghuni neraka yang terbanyak?” Rasulullah bersabda, “Kalian banyak melaknat, dan kufur nikmat kepada suami-suami kalian, dan aku tidak melihat kelompok manusia yang kurangnya akal dan kurangnya agama kecuali dari kalian”.

Bertanya seorang wanita tadi, “Wahai Rasulullah, Apa kurang akalnya dan kurang agamanya perempuan?” Maka bersabdalah Rasulullah, “Adapun kurang akalnya perempuan adalah karena kesaksian dua orang perempuan sama dengan kesaksian seorang laki-laki, dan ini namanya kurang akalnya perempuan, dan kalian tidak shalat dan tidak puasa Ramadhan ketika datang haidh, dan ini pun kurangnya agama kalian, dan kalian mengingkari hak-hak suami kalian”.

Pada hadist di atas, yang dimaksud dengan perbedaan kesaksian antara laki-laki dan perempuan adalah kadar kesaksiannya: bila lupa diingatkan. Bila terkait dengan data empirik dan pengalaman, hal ini sama antara laki-laki atau perempuan. Akan tetapi, perempuan memiliki kekhususan-kekhususan, dimana ia banyak mengalami keadaan yang berbeda-beda “banyak mengalami siklus hidup”, seperti siklus yang berkaitan dengan tubuhnya dan perasaannya, dimana keduanya sangat berpengaruh kepada proses berfikirnya. Ini, bila dikaitkan dengan hadits tersebut yang berbicara tentang hukum-hukum Islam, wanita dihukumi sesuai tabiat dan kehidupan kesehariannya dalam masyarakat islami secara lebih khusus dimana pengalamannya lebih sedikit dibandingkan dengan laki-laki secara umum, apalagi pada momen yang memang wanita jarang berkecimpung didalamnya.

Bicara tentang kecerdasan seorang wanita dari segi akal, banyak diantara para sahabiyah di zaman Rasullah yang berkarakter cerdas dan berilmu yang luas. Seperti halnya istri beliau Aisyah RA yang menjadi ahli hadist usai wafatnya Rasulullah dan menjadi tempat para sahabat menimba ilmu. Demikian pula Khadijah menjadi seorang istri yang mampu menenangkan Rasulullah saat menerima wahyu pertama kali, dan menjadi orang yang mempercayai beliau saat tak ada yang mempercayai. Atau saat beliau meminta pendapat Ummu Salamah saat Perjanjian Hudaibiyah. Begitu mulia peran wanita dalam kehidupan Rasulullah.

Oleh karena itu, seorang wanita muslim perlu meningkatkan kemampuan fikriyahnya dengan tidak mengabaikan aspek ruhiyah dan amaliyahnya. Kualitas fikriyah muslimah amat mempengaruhi kehidupan sekitarnya, seperti keluarga, masyarakat, hingga bangsa dan negara. Pernah dalam sebuah ungkapan dikatakan bahwa “Seorang ibu ibarat sekolah. Apabila kamu siapkan dengan baik. Berarti kamu menyiapkan satu Bangsa yang harum namanya.”

Begitulah, kaum wanita menjadi tolok ukur dari suatu bangsa. Secara fitrah, kita perlu membina kecerdasan fikriyah kita, sebab berpikir merupakan proses yang perlu dilatih agar nalar dapat berkembang. Cara-cara yang dapat dilakukan dalam membina fikriyah antara lain:
1.      Membaca, baik buku keislaman maupun ilmu dan pengetahuan umum.
2.      Menulis, dengannya, kita melatih kemampuan analisis, membantu konsentrasi, dan memelihara ide karena ide sangat cepat hilangnya.
3.      Mengikuti kajian keislaman dan diskusi ilmiah, untuk melatih berpikir kritis dan menambah pengetahuan
4.      Mempelajari ilmu-ilmu keislaman (belajar tajwid, bahasa Arab, dll)
5.      Melatih bakat/keterampilan sehingga menjadi spesialisasi diri, dan
6.      Meningkatkan skill di bidang keakhwatan (memasak, menjahit, dll)

Dengan itu semua, kita dapat meningkatkan wawasan keislaman dan pola pikir islami agar tidak mudah terpengaruh dengan perubahan zaman dengan segala tren yang jauh dari nilai-nilai islam. Selain itu, menambah pengetahuan kita agar lebih peka dengan sekeliling, serta kemampuan kita pun semakin terasah dan bisa bermanfaat bagi kehidupan kita dan lingkungan sekitar. Pun tujuan dari meningkatkan kemampuan berpikir ialah meningkatkan keimanan kita kepada Sang Khalik dan memiliki pola pikir islam.

Dengan memiliki pemahaman yang baik dan benar, kita sebagai muslimah tak hanya puas dengan menjadi sholihah melainkan juga bisa muslihah terhadap orang lain. Dengan pengetahuan pula, kita mengerti bagaimana mengajak orang dalam kebaikan dan mencegah perbuatan munkar, bagaimana menghadapi berbagai permasalahan, dan bagaimana menentukan sikap dalam kondisi dan waktu tertentu.

*Tulisan ini disampaikan saat Kajian Muslimah di BEM Jurusan Bahasa Arab, Fakultas Bahasa dan Seni, UNJ pada hari Jumat, tanggal 19 April 2013.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Quranul Karim
Al-Amiri, Ahmad Al-Barra. 2012. 6 Kecerdasan Seni Menata Hidup (terj.). Jakarta: Tarbawi Press.
Muhith, Nur Faizin. 2010. Perempuan: Ditindas atau Dimuliakan?. Solo: Indiva Media Kreasi.
Munisi, Samiyah. 2010. Bahagianya Jadi Muslimah. “Karena Rasulullah Sangat Memuliakan Wanita”. Klaten: Inas Media.
Fillah, Salim A. 2011. Agar Bidadari Cemburu Padamu. Yogyakarta: Pro-U Media.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Film Sang Murabbi

Urgensi Jama’atul Muslimin tuk Tegakkan Islam

Ta'liful Qulub: Sahabat Dunia Akhirat