AHLUL QUR’AN
Oleh: Hilda Nur Wulandari
“Dan sesungguhnya telah Kami
mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil
pelajaran?” QS. Al-Qamar: 17
“THOLABUL ‘ILMI
FARIDHOTUN ALA KULLI MUSLIMIN WAMUSLIMATIN”, hadist ini pasti sudah sering kita
dengar, entah saat menghadiri kajian, membaca artikel islami, atau mendapat
tausiyah dari saudara seiman. Hadist yang berarti “Mencari ilmu itu wajib bagi
setiap muslimin dan muslimat”, menekankan kepada tiap-tiap muslim untuk aktif
dalam belajar, lebih spesifiknya belajar ilmu agama/syariat, begitu kata Imam
Al-Ghazali. Belajar apa saja yang bisa menyelamatkan diri kita kelak di hari
akhir dan kesempatannya hanya ada di dunia ini.
Bagi saya, sejak
belajar memahami hadist ini, ketertarikan saya pada ilmu pengetahuan islam menjadi
amat besar. Setiap ada majelis ilmu yang berkaitan dengan islam (insyaAllah)
pasti berusaha saya datangi. Hingga saya sadar bahwa ilmu islam itu amat sangat
tak terhingga luasnya. Terkadang bingung juga harus mendahulukan yang mana yang
harus dipelajari. Sebab, persoalannya tidak berhenti pada sekadar belajar, tapi
juga harus sampai pada aplikasi dalam laku.
SERING BERJALANNYA WAKTU,
saya sebut sebagai titik balik diri, saya mencoba untuk fokus mempelajari satu
hal, Al-Qur’an. Mungkin lebih tepatnya tentang tajwid Al-Qur’an. Sejak saya
tahu hadist Rasulullah SAW, “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah orang yang
mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”, hadist riwayat Al-Bukhari inilah yang
membuat saya selalu ingin dekat dengan Al-Qur’an. Jika Ust. Abdul Aziz Abdur
Rauf menyatakan bahwa Al-Qur’an ialah kitab yang istimewa, saya sepakat. Dari
semua bacaan yang pernah saya baca, hanya Al-Qur’an yang memiliki keutamaan
dari semua sisinya. Mulai dari ketika dibaca, dipahami isi kandungannya,
dihafalkan, apalagi jika diaplikasikan dalam kehidupan. Semuanya dijamin
langsung dari yang membuat kitab ini, I
say: Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Untuk mengetahui keutamaan-keutamaan
dari mempelajari Al-Qur’an, silakan cari tahu sendiri, karena sumber
referensinya pasti sudah banyak.
BERAWAL DARI MIMPI ingin
menjadi ahlul Qur’an, sepertinya Allah mengarahkan saya untuk menapaki jalan
ini perlahan demi perlahan. Mulai dari pertemuan saya dengan penghafal,
pembelajar, dan lembaga-lembaga Al-Qur’an, mendorong saya untuk memasuki dunia
ini dan menjejaki setiap fasenya. Saya mulai belajar, mengajar, dan menghafal.
Tanpa mengurangi aktivitas yang lain, saya coba mengembangkan kemampuan di
bidang ini terus menerus. Mungkin karena keinginan saya yang kuat untuk bisa
seperti orang-orang yang bacaan Al-Qur’annya benar dan memiliki hafalan yang
kuat, ini yang membuat saya sabar melalui setiap tahapannya, seperti kata Ust.
Yahya Abdul Fattah Az-Zawawi,
“Barang
siapa yang tidak menentukan targetnya, maka dia tidak akan sampai pada akhir
tujuannya. Barang siapa yang tujuannya tidak murni karena Allah Subhanahu
Wa Ta’ala saja (tidak ikhlas), maka dia tidak akan mendapatkan
pertolongan dan dorongan terhadap suatu urusan, juga tidak akan ada yang akan
membuatnya sabar dalam urusan tersebut.”
Bagi saya, fase menghafal Al-Qur’an
bisa dibilang fase yang membutuhkan waktu tidak sedikit, apalagi saya bukanlah
santri Al-Qur’an yang bisa hanya fokus untuk menghafal. Akan tetapi, saya
yakin, Al-Qur’an itu mudah dipahami dan Allah pasti akan memudahkan jalannya
bagi siapa yang dikehendaki. “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an
untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” QS. Al-Qamar: 17.
Maka, saya serahkan saja semuanya kepada Allah SWT, sembari saya azzamkan diri untuk
mengusahakan yang terbaik.
MENJADI AHLUL QUR’AN pun tak cukup. Ini
baru mimpi pertama saya. Jika dalam ilmu ekonomi dijelaskan, manusia adalah
makhluk yang tak pernah puas, itu juga yang agaknya saya rasakan. Suatu saat,
saya ingin mengajak orang lain juga menjadi ahlul Qur’an. “Sebaik-baik manusia adalah
yang bermanfaat bagi yang lainnya”, ya saya ingin memberikan apa saja yang saya
bisa untuk sekitar saya. Salah satunya bisa
saja dengan membuat yayasan Bina Baca Al-Qur’an untuk semua kalangan dan
berbagai jenjang usia (semoga bisa). Studi budaya pernah mengatakan, dalam
setiap budaya akan tercipta peradaban. Maka, melalui sarana ini berharap para
ahlul Qur’an dapat menciptakan peradaban Qur’ani, untuk DienNya, untuk Allah.
Walau memang, tidak bisa dipungkiri,
proses ini masih teramat panjang untuk saya. Kesabaran dan kegigihan semoga
bisa terus ada menemani langkah ini. Mengingat tujuan dan menemukan berbagai
alasan mengapa harus mewujudkan mimpi, menjadi cara saya untuk bisa senantiasa
ingat bahwa mimpi itu bisa dicapai. Tidak lagi pedulikan segala hambatan yang
kadang mengganggu untuk bisa menaiki tangga lebih tinggi. Biarlah ujian itu
tetap ada, saya yakin, selalu ada kemudahan diantara kesulitan itu.
Setiap orang pasti memiliki mimpi
besar dalam hidupnya. Tak sedikit yang mampu berjuang untuk menggapai mimpinya,
tapi banyak juga yang kalah di tengah perjalanan meraih mimpi. Hanya yang ‘uluwwul himmahnya sampai kepada
Allah dan berusaha untuk menggapainya yang akan memperoleh mimpinya. Semoga
saya mampu menggapai mimpi saya bersama ridhoNya dan siapapun yang memiliki
mimpi besar, semoga bisa saling mendoakan.
Komentar
Posting Komentar