SEMANGAT MENGHAFAL
Oleh:
Hilda Nur Wulandari
“Kak, saya enggak hafal-hafal ni
Kak. Saya tuh susah banget Kak menghafal. Udah ngafalin ni Kak, nanti minggu
depan lupa lagi,” cerita seorang adik.
SERINGKALI, SEBAGIAN DARI KITA INGIN
MENJADI PENGHAFAL AL-QUR’AN tapi selalu saja mengeluh kesulitan ketika berada dalam
prosesnya. Ada saja alasan untuk memaklumi diri hingga akhirnya hafalan
stagnan, bahkan luntur dari waktu ke waktu. Tak bisa diabaikan memang, menjadi
diri yang bisa banyak hal itu tidak mudah. Ada orang yang mudah dalam
menghafal, sebagian lebih senang memperbanyak tilawahnya, ada juga yang mudah
melakukan bidang lainnya. Utamanya, kita bisa menemukan di mana ahlinya kita,
saya pikir itu sudah cukup baik. Ahli di sini spesifiknya lebih kepada amalan
syar’i.
Mengapa?
Seperti halnya para sahabat Rasulullah
SAW, yang memiliki amalan andalan berbeda-beda, maka, masing-masing dari kita
hendaklah memiliki suatu amalan tertentu sebagai amalan andalan yang bagi kita
mudah untuk dikerjakan secara rutin. Karena amalan sedikit yang dikerjakan
kontinyu sungguh lebih baik dibanding amalan banyak tapi hanya sekali
dilakukan. Akan tetapi, bukan berarti
kita meninggalkan amalan lainnya dan fokus pada apa yang menurut kita mudah.
Oleh karena, belum tentu satu amalan tersebut sudah pasti akan diterima Allah.
Maka, di samping kita memiliki amalan utama, tetap kita kerjakan amalan makruf
lainnya.
Misalnya di sini, menghafal Al-Qur’an.
Kita tahu, menghafal sebagian dari Al-Qur’an adalah fardhu ‘ain bagi setiap
insan beriman. Sedangkan, menghafal keseluruhannya ialah fardhu kifayah. Karena
itu, paling tidak kita memiliki hafalan sebagian dari Al-Qur’an. Oleh karena,
dalam hadist riwayat At-Tirmidzi dikatakan, “Sesungguhnya orang yang di dalam
dadanya tidak ada Al-Qur’an sama sekali, tidak ubahnya seperti rumah yang
rusak.”
Realitanya, masih banyak orang yang
belum memiliki hafalan Al-Qur’an yang benar (tajwidnya). Bahkan, terkadang,
saya menemukan beberapa orang yang beralasan sulit menghafal, dari pekan ke
pekan hafalannya tidak bertambah, bahkan bukannya menambah hafalan malah mengganti
hafalan lama dengan hafalan baru. Fenomena yang pernah juga saya alami ini
membuat saya berpikir, “Bagaimana cara memperbaiki untuk ke depannya?”
MENGHAFALKAN AL-QUR’AN ITU MUDAH, mengutip
Ust. Abdul Aziz Abdur Rauf. Jujur, saya awalnya tak percaya, dengan perkataan
seperti itu. “Gimana caranya? Al-Qur’an
itu kan jumlahnya 30 juz/114
surat/terdiri dari 6236 ayat. Belum lagi, banyak surat dengan surat lainnya
yang memiliki kalimat yang hampir sama.” Namun ternyata, di antara mereka yang
belum berhasil, banyak juga orang yang bisa menghafalkan seluruh ayat Al-Qur’an,
juga paham isi kandungan dari setiap ayat yang dihafalkan. Mulai dari usia
balita, pemuda, orang tua, semua pernah saya dengar/baca bisa selesai
menghafalkan Al-Qur’an. Lalu, apa yang membuat kita ragu untuk menghafal?
Kuncinya, mulai dari sekarang. Kalau
bukan kita lantas siapa lagi? Kitab yang Allah jaga kemurniannya hingga hari
kiamat ini siapa yang akan menghidupkan kalau bukan penganutnya sendiri?
Mulai
Dari Mana dan Bagaimana?
SEBELUM MENGHAFAL AL-QUR’AN hendaknya
perbaiki dahulu bacaan Al-Qur’an kita. Kitab ini diturunkan dengan kaidahnya
(tajwid) maka kita pun harus melafazkan sesuai dengan kaidahnya, seperti kata Imam
Ibnu Al-Jazari, “Membaca Al-Qur’an dengan tajwid itu hukumnya wajib. Siapa yang
tidak membetulkan bacaan Al-Qur’annya berdosa. Karena Allah menurunkannya
dengan tajwid. Dan demikian Al-Qur’an dariNya sampai kepada kita.” Jelas dari
sini kita pahami bahwa membaca Al-Qur’an itu ada ilmunya.
Demikian saat menghafal, ucapannya
harus benar, karena kita tahu, ada dua kesalahan dalam membaca Al-Qur’an,
lahnul jaaly (kesalahan besar/fatal) dan lahnul khofiy (kesalahan ringan).
Lahnul jaaly contohnya saat kita salah mengucap huruf karena makhorijul
hurufnya tidak tepat, ketika hamzah dan ‘ain misalnya, kita baca sama, maka
ketika ini terjadi hukumnya haram dan artinya kita berdosa, sebab salah ucap
berarti mengubah arti. Contoh lainnya terjadi saat mad thabii dibaca lebih/
kurang dari dua harakat. Sedangkan lahnul khofiy, terjadi saat kita kurang
ghunnah (dengung), kurang dalam mengucapkan mad selain mad thabii, atau kurang
tafkhim (tebal)/tarqiq (tipis).
Kemudian, sama seperti mengerjakan
hal lainnya, mulailah menghafal Al-Qur’an dari yang mudah, dari juz yang paling
familiar di telinga kita. Umumnya,
lembaga tahsin-tahfizh Al-Qur’an menyarankan untuk memulai dari juz 30,
kemudian 29, ke juz 28/juz 1, juz 2, dst. Memulai dari yang mudah, bertujuan
agar penghafal lebih semangat ketika menjalani proses. Kian lama, penghafal
akan terbiasa untuk menghafal, diawali dari surat yang memiliki jumlah ayat
sedikit hingga bisa sampai pada surat yang panjang.
Lebih dari itu, bagi yang ingin serius
menghafal Al-Qur’an, lebih baik mencari tahu berbagai macam metode menghafal Al-Qur’an
dan temukan metode yang paling sesuai dengan kondisi dan waktu yang dimiliki.
Tak perlu khawatir jika kita memiliki aktivitas lain, karena banyak orang yang
aktif dakwah, membina, kerja, memiliki anak banyak, dan lainnya, mampu
meluangkan waktu untuk menghafal. Istilah saya “Al-Qur’an itu bukan hanya milik
anak pesantren.” So, pasti bisa
(insyaAllah).
Hal lain yang bisa dilakukan,
buatlah target hafalan, baik per hari, per bulan, per tahun, hingga kapan akan
menyelesaikan hafalan. Kemudian, muahadah kepada Allah dan bersungguh-sungguh
dalam prosesnya. Tentunya hal ini diiringi dengan berdoa kepada Allah, agar
dimudahkan dalam menghafal, mencerna ayat, dan memahaminya.
Rajin
Muraja’ah
SEMAKIN BANYAK SURAT YANG KITA
HAFAL, hendaknya semakin sering pula kita memuraja’ah (mengulang) surat yang
telah selesai dihafal. Hal ini agar ingatan kita terhadap surat tersebut lebih
kuat dan tidak tercampur-campur dengan surat-surat yang memiliki kalimat atau
kata yang hampir sama. Cara memuraja’ah bisa melalui shalat, di buku-buku
tentang menghafal Al-Qur’an seringkali disarankan untuk menghafal ketika dini
hari, saat otak masih fresh, begitu
juga dengan muraja’ah, bisa dilakukan saat shalat tahajud, atau dhuha.
Namun, bagi saya itu relatif. Ada
juga orang yang memiliki waktu lain untuk menghafal dan muraja’ah, entah malam
atau siang. Sesuaikan saja dengan kondisi kita. Cari waktu rehat, yang tidak
ada aktivitas terlalu berat, atau usahakan tidak menghafal saat kondisi lelah
karena kinerja otak sedang tidak maksimal sehingga cenderung sulit untuk
menangkap apa yang sedang kita pelajari. Jadi, bukan waktu sisa yang dipakai
untuk menghafal, tapi benar-benar waktu terbaik yang kita miliki.
Ikuti juga komunitas-komunitas
penghafal Al-Qur’an, agar budaya menghafal lebih terasa. Tujuan lainnya supaya
bisa saling mengingatkan dan memotivasi diri untuk menambah hafalan. Ketika
menghafal, semakin banyak anggota tubuh kita digunakan dalam proses menghafal,
endapan ayat juga akan lebih cepat dicerna. Telinga misalnya dengan
sering-sering mendengar murattal, tangan dengan menulis ayat Al-Qur’an dan saat
menulis juga mata dan otak kita bekerja untuk menyimpan memori. Kontinuitas
proses seperti ini akan mempercepat kerja otak dan lebih memudahkan kita untuk
menjaga hafalan.
BICARA MENGHAFAL AL-QUR’AN, menurut
saya hafalan yang sempurna tidak berhenti pada sekadar hafal secara teks, tapi
juga hafal makna ayat tersebut, dan bisa mewujudkannya melalui akhlak. Karena
seperti itulah Rasulullah SAW, Aisyah RA, istri beliau pernah berkata, “Akhlak
Rasulullah seperti Al-Qur’an. Maka, hendaknya kita bisa ‘ittiba (mengikuti)
Rasul. Sembari menghafal ayat, kita juga membaca terjemahan ayat dan asbabun
nuzulnya, bahkan tafsirnya. Hal ini juga membantu dalam mengingat ayat. Karena
dalam proses tersebut, otak diajak berpikir dan bernalar sehingga memori akan
mengendap dan ingatan menjadi lebih kuat. Saat itu juga, hati kita akan
merasakan hikmah dari ayat-ayat tersebut.
Dengan mengetahui ilmunya, insyaAllah
proses menghafal menjadi lebih efektif. Cari juga keutamaan-keutamaan menghafal
Al-Qur’an dan tentukan alasan yang menjadi pendorong kita untuk menghafal. Hal
ini agar ketika sedang jenuh atau rasa malas mulai datang, bisa segera
dipangkas, dan kembali meluruskan niat. Semoga, di antara banyaknya aktivitas,
masih bisa kita sempatkan waktu untuk menjaga dan menambah hafalan.
Lantas, sudahkah antum menghafal Al-Qur’an hari ini?

Komentar
Posting Komentar