Postingan

SEMANGAT MENGHAFAL

Gambar
Oleh: Hilda Nur Wulandari “Kak, saya enggak hafal-hafal ni Kak. Saya tuh susah banget Kak menghafal. Udah ngafalin ni Kak, nanti minggu depan lupa lagi,” cerita seorang adik. SERINGKALI, SEBAGIAN DARI KITA INGIN MENJADI PENGHAFAL AL-QUR’AN tapi selalu saja mengeluh kesulitan ketika berada dalam prosesnya. Ada saja alasan untuk memaklumi diri hingga akhirnya hafalan stagnan, bahkan luntur dari waktu ke waktu. Tak bisa diabaikan memang, menjadi diri yang bisa banyak hal itu tidak mudah. Ada orang yang mudah dalam menghafal, sebagian lebih senang memperbanyak tilawahnya, ada juga yang mudah melakukan bidang lainnya. Utamanya, kita bisa menemukan di mana ahlinya kita, saya pikir itu sudah cukup baik. Ahli di sini spesifiknya lebih kepada amalan syar’i. Mengapa? Seperti halnya para sahabat Rasulullah SAW, yang memiliki amalan andalan berbeda-beda, maka, masing-masing dari kita hendaklah memiliki suatu amalan tertentu sebagai amalan andalan yang bagi kita mudah untuk...

AHLUL QUR’AN

Gambar
Oleh: Hilda Nur Wulandari “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” QS. Al-Qamar: 17 “THOLABUL ‘ILMI FARIDHOTUN ALA KULLI MUSLIMIN WAMUSLIMATIN”, hadist ini pasti sudah sering kita dengar, entah saat menghadiri kajian, membaca artikel islami, atau mendapat tausiyah dari saudara seiman. Hadist yang berarti “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslimin dan muslimat”, menekankan kepada tiap-tiap muslim untuk aktif dalam belajar, lebih spesifiknya belajar ilmu agama/syariat, begitu kata Imam Al-Ghazali. Belajar apa saja yang bisa menyelamatkan diri kita kelak di hari akhir dan kesempatannya hanya ada di dunia ini. Bagi saya, sejak belajar memahami hadist ini, ketertarikan saya pada ilmu pengetahuan islam menjadi amat besar. Setiap ada majelis ilmu yang berkaitan dengan islam (insyaAllah) pasti berusaha saya datangi. Hingga saya sadar bahwa ilmu islam itu amat sangat tak terhingga luasnya. Terkadang bin...

Pelajaran hari ini

Terlalu jauh, apa yang ia pikirkan tentang dirinya selama ini. Ia merasa langkahnya sudah benar dan banyak yang telah ia dapatkan. Namun, ternyata tidak juga. Hari ini ia ingin melihat segalanya dalam perspektif lain. Andai saja sejak dulu ia sadari. Mungkin ia tak pernah tahu apa arti dari sebuah kesalahan. Dan, mungkin saja ia tak kan pernah sampai pada takdir hari ini. Begitu banyak manusia di sekelilingnya yang luar biasa. Hingga merasa ia belum memiliki apa-apa yang bisa dibanggakan. Masih panjang perjalanan yang harus dilalui. Jika harus berhenti, ia pikir bukan saatnya. Dalam hidup, ia belajar bagaimana menyikapi segala sesuatu. Bahwa masalah hanya masalah perspektif dan cara berfikir seseorang. Keyakinan pada Rabbnya menguatkan langkahnya hingga hari ini. Banyak yang harus diperbaiki. Bukan saatnya lagi untuk lari dari kenyataan. Mungkin saja ia bisa berpindah dari satu takdir menuju takdir lain, tapi satu yang ia harapkan, semoga takdirnya adalah yang terbaik bagi Allah. ...

(Re-post) Terapi Musik Dalam Sejarah Peradaban Islam

Gambar
Seni musik yang berkembang begitu pesat di era keemasan Islam, tak hanya sekedar mengandung unsur hiburan. Para musisi Islam legendaris seperti Abu Yusuf Yaqub ibnu Ishaq al-Kindi (801873  M) dan  al-Farabi (872950 M) telah menjadikan musik sebagai alat pengobatan atau terapi. Lalu sebenarnya apa yang disebut dengan terapi musik?  Terapi musik merupakan sebuah proses interpersonal yang dilakukan seorang terapis dengan menggunakan musik untuk membantu memulihkan kesehatan pasiennya.  Sejak kapan peradaban Islam mengembangkan terapi musik?  Dan benarkah musik bisa menjadi alat terapi untuk menyembuhkan penyakit? R. Saoud dalam tulisannya bertajuk The Arab Contribution to the Music of the Western World menyebut  al-Kindi sebagai psikolog Muslim pertama yang mempraktikkan terapi musik. Menurut Saoud, pada abad ke-9 M, al-Kindi sudah menemukan adanya nilai-nilai pengobatan pada musik. ''Dengan terapi musik, al-Kindi mencob...

KISAH

Gambar
Oleh: Hilda Nur Wulandari Kebahagiaan tidak terletak pada cara memulai atau mengakhiri sebuah perjalanan, tapi pada bagaimana menikmati sebuah proses. _Asma Nadia_ P ernahkah kau mendengar cerita tentang Sa’ad bin Abi Waqqash? Seorang pemuda yang teguh pendiriannya. Tegar. Tak pernah mengeluh meski cobaan tak henti menghampiri. Bahkan saat seorang yang ia sayangi, tak sejalan dengan keyakinannya. Ia mencoba bersabar, pantang menyerah memberi pengertian pada ibunya. Syukur, luluh hati ibunya setelah sekian hari ‘mogok makan’.  Ia yakin bahwa segalanya mungkin. Setiap cobaan pasti ada penyelesaian. Tinggal bagaimana kita berusaha mencari dan menemukan. Begitulah kiranya cerita singkat Sa’ad. Semoga kita bisa belajar darinya. Setiap langkah kita di bumi, mustahil tanpa masalah. Tidak perlu menghindar dari masalah, karena di sanalah kita belajar menjadi tangguh. Demikian, jika ada masalah dalam benak kita. Semisal ada masalah, optimislah mampu menyelesaikannya. Jika ki...

Pengalaman Berkesan

Gambar
Oleh: Hilda Nur Wulandari Jakarta, 23-25 Desember 2011 Dalam kegetiran hidup saat ini, jarang sekali ku luangkan waktu untuk mempelajari Al-Quran. Padahal telah jelas di dalam Al-Quran, kitab ini dijadikan sebagai pembawa berita gembira, pemberi peringatan, sebagai obat hati, serta dalam sebuah hadist riwayat Muslim disebutkan bahwa “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.”  Hingga, beberapa waktu lalu kesempatan itu datang. Sebuah lembaga keQuranan di kampusku, mengajak seluruh civitas akademika yang muslim untuk berpartisipasi dalam program kerja mereka, Quran Camp namanya. Akhirnya yang dinanti tiba, 23 Desember 2011, menjadi pijakan awal untukku mengenal para pecinta Al-Quran itu. Bersama beberapa sahabat yang luar biasa, kami bersiap untuk berangkat menuju tempat tujuan. Namun, Allah menurunkan rahmat dengan turunnya hujan. Begitu derasnya hujan saat hendak berangkat ke pesantren El-Tahfidz, Cileungsi. Suasana gelap pun men...