Pengalaman Berkesan

Oleh: Hilda Nur Wulandari


Jakarta, 23-25 Desember 2011

Dalam kegetiran hidup saat ini, jarang sekali ku luangkan waktu untuk mempelajari Al-Quran. Padahal telah jelas di dalam Al-Quran, kitab ini dijadikan sebagai pembawa berita gembira, pemberi peringatan, sebagai obat hati, serta dalam sebuah hadist riwayat Muslim disebutkan bahwa “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” 

Hingga, beberapa waktu lalu kesempatan itu datang. Sebuah lembaga keQuranan di kampusku, mengajak seluruh civitas akademika yang muslim untuk berpartisipasi dalam program kerja mereka, Quran Camp namanya.

Akhirnya yang dinanti tiba, 23 Desember 2011, menjadi pijakan awal untukku mengenal para pecinta Al-Quran itu. Bersama beberapa sahabat yang luar biasa, kami bersiap untuk berangkat menuju tempat tujuan. Namun, Allah menurunkan rahmat dengan turunnya hujan. Begitu derasnya hujan saat hendak berangkat ke pesantren El-Tahfidz, Cileungsi. Suasana gelap pun menyelimuti pelataran Masjid Alumni kampus A, Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Jadwal keberangkatan yang mulanya direncanakan pukul 18.30 WIB, diundur menjadi pukul 20.00 WIB, menunggu hujan agak reda. Akan tetapi semua itu, tak mengurungkan niat kami untuk belajar Al-Quran. Ada belasan orang yang ikut saat itu, meski hanya sedikit tak jadi masalah.

Sebelum berangkat, beberapa dari kami membeli nasi goreng, untuk pengganjal perut malam ini. Kemudian, semua bergegas naik ke dalam metromini yang disewa panitia. Di perjalanan, aku dan kawan-kawan menikmati makan malam, melihat sekeliling, yang tampak hanyalah gelap dan beberapa penerangan rumah warga. Cukup jauh rupanya perjalanan saat itu karena tempatnya berada di suatu desa yang jauh dari keramaian. Akhirnya pukul 22.00, sampailah kami di tempat tujuan. Tampak sekeliling hamparan rerumputan dan pohon-pohon yang samar karena gelapnya malam. Di seberang, ada sebuah masjid tak begitu besar yang ternyata di sanalah lokasi pesantren berada.

Kami segera menuju ke sana dan mencari tempat istirahat. Ikhwan (pria) di masjid sedangkan yang akhwat (wanita) di sebuah ruangan yang cukup besar. Malam itu, acara Quran Camp dibuka oleh panitia. Para peserta yang belum membayar iuran acara ini pun dipersilakan membayar sebesar lima puluh ribu rupiah kepada panitia. Mulai malam ini kami diminta menghafal surat-surat yang telah ditentukan. Diantaranya, surat Al-Kahfi, Al-Mulk, Al-Waqi’ah, Ar-Rahman, dan Yasin. “Surat-surat yang cukup panjang,” batinku. “Tapi memang surat-surat yang memiliki keutamaan.” Kami pun dibagi menjadi beberapa kelompok yang satu kelompoknya terdiri dari dua orang. Esok paginya kami sudah mulai bisa menyetorkan hafalan ke ustadzah yang diundang.

Aku begitu terkesima saat melihat kawan-kawan baru di sana begitu antusias menghafal Al-Quran. Segera setelah sholat isya, semua peserta dan panitia mulai menghafal surat yang dipilih masing-masing. Di hari pertama ini, seolah aku merasakan budaya yang lain. Budaya pesantren yang setiap hari menghafal Al-Quran, mengkaji isi kandungannya, dan lain-lain. Setelah cukup lama menghafal, aku mulai mengantuk, waktu pun telah hampir menunjukkan pukul dua belas malam. Aku pun tertidur. Pukul tiga dini hari, kami bergegas bangun untuk menunaikan sholat tahajud. Segeralah kami berwudhu, agar tidak terlewat adzan subuh. Setelah semua selesai berwudhu mulailah kami untuk sholat tahajud berjamaah.

Usai shalat tahajud bersama, kini saatnya menunggu sholat subuh. Tak lama, adzan berkumandang. Kemudian, kami sholat subuh berjamaah usai sholat sunah qabliyah subuh. Pagi yang syahdu. Setelah berdoa kepada Allah, kami mulai menghafal AlQuran lagi. Sungguh hari-hari yang luar biasa, dilalui dengan penuh keikhlasan mengharap ridhoNya. Aku mulai menghafal surat Al-Mulk, perlahan demi perlahan. Dari luar, mentari telah menampakkan cahayanya, pertanda hari mulai terang. Setelah mandi, kami sarapan dengan roti dan susu.

Kemudian kami berkumpul di sebuah saung tak jauh dari pesantren. Untuk menuju ke sana kami melewati rawa-rawa dan rerumputan serta mesti mendaki sedikit. Agak licin jalan setapak itu. Sampai di saung, semua peserta dan panitia membentuk lingkaran. Mulailah untuk menjalani agenda selanjutnya, talaqqi (membaca alquran). Masing-masing dari kami membaca satu halaman sesuai surat yang akan dihafal untuk mengetahui bacaan yang benar dan memperbaiki bacaan yang salah.

Setelah salam dan membaca basmallah, kami memulainya. Untuk pertama dimulai dari belakang, Al-Mulk, kemudian Al-Waqi’ah, Ar-Rahman, Yasin, hingga Al-Kahfi. Namun, untuk agenda pagi itu dicukupkan sampai surat Al-Waqi’ah. Pagi itu aku mendapat tambahan ilmu, seperti bagaimana mengucapkan makhrojul huruf yang benar dan mengenal panjang-pendek bacaan dari setiap ayat yang dibaca.

Indah sekali bacaan Al-Quran mereka, sesuai dengan kaidah tajwid pula. MasyaAllah, sungguh senang sekali bisa ikut acara ini. Acara ini sebenarnya cukup bagus untuk diikuti, ketika kita, mahasiswa, seringkali disibukkan dengan kuliah di kelas, belajar berorganisasi, atau sekadar ngerumpi bareng temen. Di sini kita bisa mempelajari ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap muslim yang akan menjaga diri kita di dunia dan di akhirat.

Udara pagi yang agak dingin, berangsur-angsur menghilang tergantikan panas mentari yang mengarah kepada kami. Setelah dikira cukup untuk talaqqi, agenda dilanjutkan dengan perkenalan (ta’aruf). Setelah aku nyeletuk, “Kok ga ada perkenalan, kan belum kenal.” Lantas ada yang mendengar dan menyampaikan ke panitia. Di sini, aku berkenalan satu persatu dengan kawan baru. Di antara mereka adalah pengajar di LSO Quran Institute LDK UNJ, lembaga keQuranan di kampus. Mereka yang mengajarkan tahsin/tajwid kepada orang yang mau belajar dengan sungguh-sungguh.

Setelah agenda di saung, acara dilanjutkan dengan materi dari seorang ustadz tentang tafsir QS. Ar-Rahman. Usai materi, kami kembali bisa setoran hafalan. Banyak sekali diantara mereka yang sudah hafal. “Keren. Aku saja belum kelar-kelar Al-Mulk, semangat-semangat.” Kami menghafal Al-Quran sampai sore tiba. Kami diberi waktu hafalan hingga besok pagi. Aku tiada henti menghafal berulang kali dengan agak kepayahan. “Pokoknya harus bisa,” tekadku. “Padahal aku belum pernah menghafal surat ini, baru saja minggu lalu harus menghafal surat Al-Fajr, tapi minggu ini sudah berganti surat. Bismillah, insyaAllah bisa.”

Hingga siang tiba, aku baru menghafal satu halaman, tapi karena kata panitia disetor saja walaupun belum semua, aku setor saja sebisanya ke ustadzahnya. Ketika setoran, aku merasa belum begitu lancar juga masih banyak yang salah panjang-pendeknya. Maklum biasanya aku menghafal sambil mendengarkan murottal, tapi karena HP yang kubawa bukan yang biasanya, aku tak bisa mendengarkan karena tidak ada murottalnya. Ketika aku lupa lanjutan ayatnya, ustadzahnya selalu mengingatkan aku sambil mengartikan ayat tersebut dan menggerakkan tangannya sehingga membuatku mudah menghafal. Hal ini mengingatkanku pada seorang anak kecil asal Iran yang telah hafizh quran dan mendapat gelar doktor. Buku yang kubaca beberapa bulan lalu.

Siang hari kami makan siang. Kemudian sholat dhuhur dan menghafal Al-Quran lagi. Sampai sore aku belum hafal. Baru 1 ½ halaman. Sore harinya ada materi dari panitia. Seusainya, aku mulai menghafal lagi. Kemudian hingga malam tiba baru bertambah sedikit. Di malam hari, usai sholat maghrib dan isya, kami talaqqi lagi, surat yang belum selesai tadi pagi sampai surat Yasin. Barulah kami tidur.

Sama seperti kemarin, pukul tiga pagi kami sudah bangun, sholat tahajud menjadi pengisi waktu yang sungguh berharga. Dini hari yang indah. Setelah itu, sambil menunggu adzan subuh, kami menghafal Al-Quran lagi. Tak lama, adzan berkumandang, kami pun segera sholat subuh berjamaah. Usai sholat, panitia meminta kami untuk berkumpul. Kata panitia, waktu menghafal tinggal beberapa jam lagi, sampai pukul tujuh pagi. Setelah mandi, segeralah kami menghafal lagi. Beberapa di antara kami, ada yang telah setoran beberapa surat. “Kok bisa secepat itu ya,” pikirku.

Namun, aku harus tetap semangat. Meskipun kepala rada pening, tetap aku berusaha untuk menghafal, hingga pagi itu mencapai 20 ayat, tapi karena kebut semalam jadi mudah hilang dan karena waktu yang disediakan sudah hampir habis, aku setorkan saja dan benar, aku banya lupa ayat yang telah kuhafal. Alhasil, hanya 15 ayat yang kusetorkan. “Ya sudahlah. Nanti dilanjutin lagi,” gumamku. Setelah setoran, aku menghafal lagi sampai waktu habis. Aku berniat untuk melanjutkan hafalan di rumah nanti seusai acara ini.

Jam sepuluh pagi, ada materi dari seorang perwakilan pesantren. Kemudian dilanjutkan dengan perkenalan panitia sekaligus pengurus QI, LDK UNJ dilanjutkan dengan tanya jawab hingga pukul 11.00 WIB. Setelah itu ada seorang perwakilan dari panitia yang tasmi surat Yasin. Hari ini kami akan pulang ba’da dhuhur. Sambil menunggu metromini, kami makan siang, lalu sholat dhuhur dan packing. Waktu pulang akhirnya tiba. Kami naik satu per satu ke dalam metromini yang disewa panitia. 

Aku bersyukur, bisa berpartisipasi dalam acara ini. Hati-hati yang kering, seolah sejuk kembali oleh percikan cinta Ilahi melalui ayat-ayatNya. Di perjalanan aku berdoa, semoga hafalan-hafalan ini tidak hilang begitu saja dan pengalaman ini benar-benar dapat dilanjutkan dalam kehidupanku. Oleh karena begitu besar keutamaannya. Amin Ya Robb. ^^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Film Sang Murabbi

Urgensi Jama’atul Muslimin tuk Tegakkan Islam

Ta'liful Qulub: Sahabat Dunia Akhirat