Budayakan Jujur dalam Amal
“Wahai
orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu
kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan sesuatu yang
tidak kamu kerjakan.” (QS.61:2-3)
Jujur, rangkaian huruf yang sekilas terdengar
begitu sederhana. Akan tetapi, implementasinya tak sesederhana yang terdengar. Sedari
kecil pun pasti kita telah dididik untuk menetapi kejujuran. Di manapun, baik
di rumah, sekolah maupun tempat mengaji. Mengapa sebegitu pentingnya untuk
jujur?
Sebelum
lebih jauh mengenal kejujuran, saya akan memberi definisi singkat tentang
kejujuran. Secara
bahasa, shiddiq yang berasal dari kata shadaqa, memiliki beberapa arti yaitu
benar, jujur, dapat dipercaya, sesuai apa yang dikatakan dengan apa yang
diamalkan, ikhlas, tulus, keutamaan, kebaikan, dan kesungguhan. Menetapi
kejujuran merupakan salah satu sifat dapat kita teladani dari Nabi Muhammad SAW,
hingga beliau diberi gelar Al-Amin, karena kejujurannya dalam segala hal.
Berkata atau berperilaku jujur,
bagi kita manusia biasa, mungkin cenderung tidak mudah, sebab situasi terkadang
memaksa kita untuk tidak jujur, karena satu dan lain hal. Jujur memang mesti
didahului dengan keimanan kepada Allah, karena ketika kita yakin adanya Allah,
yang Maha Melihat dan Maha Mendengar, baik secara lahir maupun batin, tak kan
mungkin seseorang yang beriman berani berdusta, karena ia tahu bahwa Allah
menyaksikan setiap yang ia perbuat. Selain itu, perlu diketahui ternyata jujur
diklasifikasikan menjadi enam tingkatan oleh Imam Al-Ghazali. Diantaranya,
1. Jujur saat Berucap (Shidqul Hadist),
2. Jujur dari sudut Niat dan Kehendak,
3. Jujur pada keazaman dalam melakukan sesuatu karena
Allah s.w.t,
4. Jujur dalam melaksanakan apa yang diazam
(ditekadkan),
5. Jujur dalam
Amal (Shidqul Amal), dan
6. Jujur dalam setiap maqam, seperti takut, harap,
mengagungkan nikmat Allah s.w.t., zuhud, redha, tawakkal dan kecintaan.
Namun,
yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah jujur terkait amal yang kita lakukan
(shidqul amal). Seseorang yang jujur dalam amal didahului dengan jujur secara
lisan. Bila ia jujur dalam lisan ia juga harus mengatakan kebenaran dengan
perbuatannya. Artinya, ia harus mengatakan sesuatu sesuai dengan apa yang ia
kerjakan.
Kejujuran: budaya
Sebuah
kata mutiara mengatakan biasakanlah mengatakan kebenaran, janganlah senang
membenarkan kebiasaaan. Kebiasaan yang kita lakukan tidak semuanya menuju pada
kebenaran. Kebenaran yang dimaksud tentunya bermuara pada al-quran dan
al-hadist. Oleh karena itu, setiap yang kita hendak lakukan semestinya berpijak
pada apa-apa yang diajarkan dalam dua sumber islam tersebut. Kebenaran amal pun
merupakan salah satu syarat diterimanya amal kita oleh Allah selain karena niat
yang mukhlis lillah. Karena jika amal yang kita lakukan dengan niat ikhlas tapi
tidak benar maka akan sia-sia, bahkan akan lebih banyak bahayanya dibanding
manfaatnya. Seperti tafsiran dari Al-Fudhail bin ‘Iyadh tentang firman Allah
‘Azza wa Jalla:
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
“…untuk menguji siapa di antara kamu yang paling baik
amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)
Beliau berkata,
“Yakni, yang paling ikhlas dan paling benar dan (sesuai tuntunan Allah).
Sesungguhnya amal itu apabila ikhlas tapi
tidak benar maka tidak akan diterima; dan apabila benar tetapi tidak ikhlas
juga tidak akan diterima. Jadi harus ikhlas dan benar. Suatu amalan dikatakan
ikhlas apabila dilakukan karena Allah, dan yang benar itu apabila sesuai Sunnah
Rasulullah.” (Kitab Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam I/36). [1]
Oleh
karena itu, dalam beramal sungguh perlu diperhatikan antara kebenaran dan
niatnya, seperti halnya saat hendak berwudhu. Misalkan si A sebelum wudhu
membaca niat dan sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah pada zamannya.
Sedangkan si A niat tapi ia hanya mengikuti orang yang di sampingnya (tidak
tahu mana yang benar). Tentunya kita tahu bahwa yang benar adalah yang A,
karena ia telah mengerjakan amal sesuai dengan syaratnya (memiliki dasar). Ini
artinya selain kita harus mengerjakan apa yang kita katakan, kita juga harus
mengerjakan amal sesuai kebenaran Alquran dan Alhadist.
Tak
berhenti sampai di situ, kejujuran dalam amal pun perlu dibudayakan, karena
jika tidak dibiasakan dalam keseharian kita, sikap jujur tidak akan mendarah
daging dalam benak kita. Mungkin mulanya kita berbohong untuk suatu hal yang
kecil, tapi selanjutnya kita akan merasa biasa sehingga melakukan kebohongan dan
berfikir bahwa itu hal yang maklum. Karena banyak sekali keutamaan yang akan
didapat saat kita jujur, seperti ketenangan, tidak dihantui rasa takut,
melahirkan keberkahan dan manfaat, serta hal lainnya. Karena itu budayakanlah
untuk jujur, khususnya dalam amal perbuatan kita, sebab kejujuran merupakan
suatu kebaikan dan kebaikan menuju pada surga, yang dimana tempat yang dinanti
oleh setiap manusia, sebab ialah kenikmatan yang kekal dan tiada tara.
Sumber:
Komentar
Posting Komentar