Komunikasi dalam Organisasi Multikultural


Oleh: Hilda Nur Wulandari

Seperti inti dari komunikasi yakni interaksi sosial. Demikian menurut buku Etika dan Filsafat Komunikasi. Utamanya memang tak bisa melepas diri dari komunikasi antarmanusia. Setiap hari beraktivitas, adakalanya komunikasi itu diperlukan. Bagaimana tidak, sering kali kita dihadapkan dengan aktivitas yang menuntut kebersamaan. Antara individu dengan individu yang lain mesti saling membantu (dalam kebaikan). Komunikasi pun sering jadi andalan saat kita menghadapi masalah juga ketika ada kesulitan. Dengan berkomunikasi semua seakan lepas, tak lagi membebani diri. Tentunya komunikasi ini mesti dilakukan dengan orang yang tepat, sehingga mumpuni dalam memberi solusi.

Tak hanya itu, komunikasi memberi jalan bagi kita untuk mengenal seseorang lebih dalam. Karena ketika kita berkomunikasi, ada budaya yang mempengaruhi pembicaraan, ada pola pikir yang memberi tahu arah bicaranya, sehingga kita bisa tahu karakter seseorang.  Meski, tak semudah itu memahami orang lain. Saat berkomunikasi, tak jarang kita menemui ketidaksepahaman akan pendapat atau cara bicara orang. Inilah yang disebut pengganggu  (noise) dalam komunikasi yang memunculkan miskomunikasi. Ketidaksepahaman bisa muncul karena berbagai hal, salah satunya berupa culture variable. Hal ini bisa meliputi perbedaan pola pikir, bahasa, peran, waktu, komunikasi nonverbal, dan lainnya.

Ketika ketidaksepahaman terjadi, kita mesti hati-hati dalam menyikapinya. Sebab kalau salah menyikapi, komunikasi cenderung berjalan tidak efektif. Karena bukannya kesepakatan atau tersampainya pesan terhadap lawan bicara. Akan tetapi, membuka gerbang perrmusuhan dan perdebatan yang tidak bermanfaat. Sedikit contoh saat komunikasi tidak berjalan efektif bisa dilihat saat dua orang berbeda pola pikir berinteraksi. Misalkan A adalah orang islam yang terbiasa hidup di tengah perbedaan dan B adalah orang islam yang biasa bergaul dengan orang yang sepaham. Si A berkata,

“Ga apa-apa lah seorang Kristen menikah dengan orang Islam. Kenapa harus dilarang, selama keduanya saling mencintai. Di dunia ini kan yang membedakan hanya baik dan buruknya sifat seseorang. Keduanya pasti sudah memikirkan dan mereka merasa saling cocok.”

Berbeda dengan A, si B berkata,

“Mana bisa begitu, jelas-jelas di hadist, dikatakan menikahlah dengan seseorang karena agamanya. Itu kan menunjukkan kalau mau nikah ya dengan yang satu agama. Kalau kamu berkata demikian berarti kamu menyalahi hadist itu dong. Lagian cinta yang seperti apa yang mereka jalani. Cinta itu kan harus dilandasi karena Allah.”

Si A berkomentar,

“Hak orang dong, dia yang mau nikah kok kamu yang repot. Cinta ya cinta. Ngapain si dikaitin ke agama. Itu kan pilihan dia. Ini juga bukan negara islam. Sah-sah aja kalau mau nikah dengan beda agama. Tinggal ngurus ke KUA, beres.”

B kembali menyanggah,

“Kamu islam bukan sih, kok bisa-bisanya bilang begitu. Itu bisa merusak keyakinan. Setelah mereka menikah, mereka bisa ngejalanin dua keyakinan. Kalau lebaran, yang kristen ikutan lebaran, kalau natal, yang islam ikut natalan. Secara tidak sadar, mereka mengikuti ajaran yang berbeda, yang jelas-jelas tidak bisa dipersamakan.”

A: “Keyakinan itu kan hubungan antara seorang manusia dengan Tuhannya, ya mereka kan suami istri wajar dong kalau saling menghormati. Mungkin itu caranya supaya bisa tetap memahami. Membina hubungan agar rumah tangga tetap harmonis.”

B: “Mau gimana kek. Tetap aja menyalahi ajaran islam. Kalau dia berani seperti itu, sama aja dia menentang Tuhannya dong.”

A: Ajaran islam mengkotak-kotakan dong kalau kamu bilang begitu. Apa-apa diatur. Mau nikah aja diatur-atur. Liat dari segi kemanusiaannya juga lah.”

B: “Justru itu bedanya islam. Islam mengajarkan manusia secara keseluruhan. Malah enak dong kalau segalanya diatur, jadi kita tahu mana yang boleh dilakukan mana yang tidak.”

A: “Udah si jadi muslim ga usah fanatik banget bisa kan. Perbedaan membuka jalan untuk kita supaya bisa berbagi dan saling melengkapi.”

B: “Lah, untuk hal ini ga bisa ditolerir dong. Orang islam tapi ga ngikutin ajaran islam. Itu tanda orang ga beriman dong?

A: “Mau beriman kek mau ga, urusan masing-masing. Masih tetep punya agama kan.”

B: “Terus buat apa agamanya, kalau ga diamalkan? Apa bedanya dengan orang yang ga beragama?”

Bla...bla...bla...

Dan interaksi ini pun masih saja dilanjutkan. Pada akhirnya pun tidak melahirkan kesepakatan. Karena keduanya bersikeras terhadap pemahaman masing-masing. Alhasil, keduanya bermusuhan karena tidak ada yang bersedia untuk mengalah. Seperti itulah contoh kecil dari komunikasi yang tidak efektif. Ada culture variable yang menyebabkan keduanya tidak saling memahami. Sehingga komunikasi tidak bermanfaat bagi keduanya, bahkan memperburuk keadaan.

Problem seperti ini sering terjadi ketika kita berada di tengah orang-orang yang berbeda budaya atau latar belakang. Sebab persepsi yang terbangun pun ikut berbeda. Jika salah dalam mengambil sikap, tak jarang akan menciptakan kondisi yang buruk  seperti contoh di atas.

Organisasi Multikultural dan Kepercayaan

Istilah multikultural (isme), dalam tataran kekinian sering menjadi acuan bagi ruang-ruang yang didalamnya terdiri dari orang-orang berbeda. Tujuannya sama seperti semboyan bhineka tunggal ika yakni mempersatukan perbedaan. Multikultural (isme) ini merambah pada hampir segala aspek kehidupan pribadi seseorang melalui berbagai sendi-sendi kehidupan.

Tak terkecuali dengan organisasi. Multikultural begitu terasa, terutama pada sebuah aliansi global, karena didalamnya terdapat anggota-anggota lintas budaya. Perbedaannya pun lebih kompleks dibanding aliansi lokal. Manusia-manusia yang ada didalamnya pun dituntut untuk bisa berkomunikasi secara efektif. Sebab miskomunikasi lebih sering terjadi di antara orang-orang berbeda negara. Seperti yang dikatakan oleh Helen Keller dalam bukunya Internasional Business:

Miscommunication is much more likely to occur among people from different countries or racial backgrounds than among those from similar backgrounds.

Salah memberi kode saat berkomunikasi bisa menyebabkan salah tangkap makna pembicaraan. Decoding (penerima pesan) bisa memunculkan feedback yang tidak diinginkan yang pada akhirnya menimbulkan permusuhan atau perpecahan. Lantas, apa yang bisa dilakukan?

Dalam buku International Business, komunikasi yang efektif tergantung pada pengertian informal yang didasari kepercayaan antara komunikator dan komunikan. Secara singkat dapat dikatakan, komunikasi mesti dilandasi kepercayaan. Karena dengan kepercayaan, memunculkan jalan untuk saling memahami di antara perbedaan yang ada.

Untuk itu, mulailah membangun kepercayaan. Tentunya, dengan tidak memanfaatkan kepercayaan orang lain untuk hal negatif. Buatlah seseorang percaya dengan kita, sehingga ketika berkomunikasi orang akan lebih mudah memahami diri kita. Sebuah kepercayaan bisa membuat orang lain tidak segan untuk berbicara, juga pembicaraan tidak saling menjatuhkan. Perbedaan budaya tidak serta merta menimbulkan konflik. Jika ada kepercayaan diantaranya. Masalah perbedaan mesti disikapi dengan terbuka. Jika memang tidak menerima pendapat orang, katakan saja seperti itu, tentunya dengan menggunakan cara yang baik.

Untuk permasalahan pendapat yang tidak sesuai dengan pemahaman diri, terimalah dengan lapang dada. Tidak usah diributkan, karena pendapat satu tidak salah sepenuhnya, dan pendapat lain belum tentu benar seutuhnya. Noise dalam berkomunikasi bisa memberi sikap lebih dewasa dalam menyampaikan pesan. Kemampuan berkomunikasi secara efektif dalam budaya yang berbeda sangat diperlukan, terutama bagi para pemimpin yang mengurusi banyak anggota yang berbeda.

Sumber referensi:
Keller, Hellen. International Business.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Film Sang Murabbi

Urgensi Jama’atul Muslimin tuk Tegakkan Islam

Ta'liful Qulub: Sahabat Dunia Akhirat