Artikel yang kucari Part II
Pada masa keemasannya, Baghdad adalah ibu kota Dinasti Abbasiyah dan pusat dunia Islam. Seniman, teknokrat, ilmuwan, pujangga, filsuf, dan saudagar yang
hidup pada masa itu berkontribusi terhadap perkembangan di bidangnya
masing-masing, yakni seni, industri, hukum, literatur, navigasi,
filsafat, sains, sosiologi, dan teknik, baik yang dikumpulkan dari masa
sebelum itu maupun yang dikembangkan setelahnya.
Contohnya, ketika rahasia membuat kertas terkuak dari dua tawanan
Cina yang menderita kekalahan di Perang Talas pada 751, bangsa Arab
mulai memproduksi kertas besar-besaran. Buku sains yang penting dari
zaman Persia, India, dan Yunani Kuno pun ditulis ulang dan
dialihbahasakan ke bahasa Arab. Kemudian buku-buku itu disimpan di
perpustakaan besar bernama Baitul Hikmah. Terletak di jantung Kota Bagdad, Baitul Hikmah dibangun oleh Khalifah Harun al-Rasyid pada 813 M.
Penerusnya, Al-Ma’mun, mengundang para ilmuwan di seluruh dunia Islam
untuk berbagi ide, informasi, dan pengetahuan di perpustakaan ini.
Al-Kindi (pencetus kriptograf) dan Al-Khwarizmi (Bapak Matematika)
adalah dua dari banyak saintis muslim yang belajar di Baitul Hikmah.
Buku dan dokumen berharga dari ilmu pengobatan hingga astronomi
tersimpan rapi berdasarkan rak dan katalog di perpustakaan ini.
Howard R. Turner dalam bukunya, Science in Medieval Islam (1997),
menulis, “Seniman, ilmuwan, pangeran, dan pustakawan muslim bekerja sama
dalam membangun peradaban unik yang mempengaruhi dunia Barat secara
langsung maupun tak langsung bertahun-tahun setelahnya.” Baitul Hikmah
menjadi pusat pembelajaran, transfer pengetahuan dilakukan langsung dari
guru ke murid tanpa institusi khusus. Tak lama kemudian, madrasah mulai
tumbuh di kota ini. Wazir Dinasti Abbasiyah, Nizam Al-Mulk, mendirikan
Al-Nizamiyya of Baghdad, yang merupakan universitas pertama dan terbesar
di abad pertengahan.
Baitul Hikmah hancur lebur ketika Bagdad jatuh ke tangan bangsa
Mongol pada 1258. Kala itu, Hulagu Khan, cucu Genghis Khan, menyerang
Bagdad. Kota ini jatuh setelah dikepung dan dihujani panah api. Baitul Hikmah diratakan dengan tanah. Konon, warna air Sungai Tigris
yang melalui Bagdad, berubah menjadi merah dan hitam. Merah dari darah
para ilmuwan dan filsuf yang terbunuh, sedangkan hitam dari tinta
buku-buku berharga koleksi Baitul Hikmah yang luntur setelah dibuang ke
sungai itu. Jumlah korban saat itu sekitar 90–200 ribu orang.
Beberapa sejarawan malah ada yang memperkirakan hingga 1 juta orang.
Khalifah Al-Musta’sim ditangkap dan dipaksa melihat penduduknya dibunuh
satu per satu. Beberapa catatan menulis, khalifah akhirnya dibunuh
dengan cara digulung dengan permadani untuk dilindas oleh gerombolan
kuda. Kejatuhan Bagdad mengakhiri masa keemasan Islam dan memberikan
pukulan psikologis bagi dunia Islam. Hingga beberapa abad setelahnya,
Bagdad tak kunjung pulih. Meski Hulagu menghancurkan dunia Islam, putranya, Ahmad Tekuder, dan
cucunya, Mahmud Ghazan, justru memeluk Islam dan membangun Dinasti
Ilkhanid, yang kekuasaannya terbentang dari Khurasan hingga ke
Semenanjung Balka.
sumber: http://eramuslim.blogdetik.com/2010/08/20/baitul-hikmah/
Komentar
Posting Komentar