Artikel yang kucari Part II

Baitul Hikmah

August 20, 2010 | |

Pada masa keemasannya, Baghdad adalah ibu kota Dinasti Abbasiyah dan pusat dunia Islam. Seniman, teknokrat, ilmuwan, pujangga, filsuf, dan saudagar yang hidup pada masa itu berkontribusi terhadap perkembangan di bidangnya masing-masing, yakni seni, industri, hukum, literatur, navigasi, filsafat, sains, sosiologi, dan teknik, baik yang dikumpulkan dari masa sebelum itu maupun yang dikembangkan setelahnya.

Contohnya, ketika rahasia membuat kertas terkuak dari dua tawanan Cina yang menderita kekalahan di Perang Talas pada 751, bangsa Arab mulai memproduksi kertas besar-besaran. Buku sains yang penting dari zaman Persia, India, dan Yunani Kuno pun ditulis ulang dan dialihbahasakan ke bahasa Arab. Kemudian buku-buku itu disimpan di perpustakaan besar bernama Baitul Hikmah. Terletak di jantung Kota Bagdad, Baitul Hikmah dibangun oleh Khalifah Harun al-Rasyid pada 813 M.

Penerusnya, Al-Ma’mun, mengundang para ilmuwan di seluruh dunia Islam untuk berbagi ide, informasi, dan pengetahuan di perpustakaan ini. Al-Kindi (pencetus kriptograf) dan Al-Khwarizmi (Bapak Matematika) adalah dua dari banyak saintis muslim yang belajar di Baitul Hikmah. Buku dan dokumen berharga dari ilmu pengobatan hingga astronomi tersimpan rapi berdasarkan rak dan katalog di perpustakaan ini.

Howard R. Turner dalam bukunya, Science in Medieval Islam (1997), menulis, “Seniman, ilmuwan, pangeran, dan pustakawan muslim bekerja sama dalam membangun peradaban unik yang mempengaruhi dunia Barat secara langsung maupun tak langsung bertahun-tahun setelahnya.” Baitul Hikmah menjadi pusat pembelajaran, transfer pengetahuan dilakukan langsung dari guru ke murid tanpa institusi khusus. Tak lama kemudian, madrasah mulai tumbuh di kota ini. Wazir Dinasti Abbasiyah, Nizam Al-Mulk, mendirikan Al-Nizamiyya of Baghdad, yang merupakan universitas pertama dan terbesar di abad pertengahan.

Baitul Hikmah hancur lebur ketika Bagdad jatuh ke tangan bangsa Mongol pada 1258. Kala itu, Hulagu Khan, cucu Genghis Khan, menyerang Bagdad. Kota ini jatuh setelah dikepung dan dihujani panah api. Baitul Hikmah diratakan dengan tanah. Konon, warna air Sungai Tigris yang melalui Bagdad, berubah menjadi merah dan hitam. Merah dari darah para ilmuwan dan filsuf yang terbunuh, sedangkan hitam dari tinta buku-buku berharga koleksi Baitul Hikmah yang luntur setelah dibuang ke sungai itu. Jumlah korban saat itu sekitar 90–200 ribu orang.

Beberapa sejarawan malah ada yang memperkirakan hingga 1 juta orang. Khalifah Al-Musta’sim ditangkap dan dipaksa melihat penduduknya dibunuh satu per satu. Beberapa catatan menulis, khalifah akhirnya dibunuh dengan cara digulung dengan permadani untuk dilindas oleh gerombolan kuda. Kejatuhan Bagdad mengakhiri masa keemasan Islam dan memberikan pukulan psikologis bagi dunia Islam. Hingga beberapa abad setelahnya, Bagdad tak kunjung pulih. Meski Hulagu menghancurkan dunia Islam, putranya, Ahmad Tekuder, dan cucunya, Mahmud Ghazan, justru memeluk Islam dan membangun Dinasti Ilkhanid, yang kekuasaannya terbentang dari Khurasan hingga ke Semenanjung Balka.

sumber: http://eramuslim.blogdetik.com/2010/08/20/baitul-hikmah/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Film Sang Murabbi

Urgensi Jama’atul Muslimin tuk Tegakkan Islam

Ta'liful Qulub: Sahabat Dunia Akhirat