Problematika Umat Islam Kontemporer

Sejauh mana kini kita melangkah, merangkai mimpi untuk menggapai cita. Sudahkah kita mencoba berlari mengejar ketertinggalan?? Atau masihkah kita terbelenggu dalam ruang yang terkunci rapat. Tanpa pernah mencari cara untuk melihat sedikit celah ruang lain di luar sana. Adakalanya kita harus proaktif, agar siap menghadapi tantangan dunia. Mulailah melatih mental sedini mungkin pada setiap diri agar terhindar atau dapat meminimalisir dari berbagai macam problematika umat islam yang akan kuceritakan setelah ini.

Kini, dunia sekitar begitu cepat mengalami perubahan. Zaman yang tak lagi bisa untuk bersantai-santai terlalu lama, sebab nantinya akan membuat kita semakin tertinggal. Begitu banyak masalah di negeri ini tak kunjung berakhir. Negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini memunculkan banyak pertanyaan. Apa yang mereka pelajari selama ini? Seperti apa mereka belajar? Mengapa harus mempelajari semua itu? Adakah kemaslahatan masih ditegakkan dan keikhlasan mengiringi langkah dalam setiap proses belajar seumur hidup? Lantas mengapa begitu banyak kelemahan yang hinggap pada diri kita?
 

Kelemahan kapasitas intelektual (Al-Jahlu)
Kelemahan pertama yang menjadi problematika umat islam saat ini erat kaitannya dengan kapasitas intelektual. Kebodohan di sini meliputi banyak hal baik terkait dengan pengetahuan islam maupun ilmu pengetahuan sains. Intelektual atau kecerdasan akal amat penting bagi setiap manusia untuk melatih cara berpikir dan memberi solusi atas permasalahan yang terjadi. Masalahnya, jika kemampuan berpikir saja lemah, bagaimana bisa memberi solusi? Rendahnya kemampuan berpikir pun dipengaruhi oleh banyak faktor. Tingkat kegemaran terhadap membaca, belajar, atau mencari tahu misalnya.
 
Dalam kapasitas intelektual dibagi menjadi enam.

1.       Kapasitas Intelektual (Al-Jahlu)
Ada beberapa hal yang menjadi tolok ukur dalam kapasitas intelektual diantaranya:
a.       Lemah dalam pendidikan (Dho’fut Tarbiyah)
b.      Lemah dalam ilmu pengetahuan (Dho’fut Tsaqofah)
c.       Lemah dalam perencanaan (Dho’fut Takhthith)
d.      Lemah dalam pengorganisasian (Dho’fut Tandzim)
e.      Lemah dalam keamanan (Dho’fut Amniyah)
f.        Lemah dalam memobilisasi potensi diri (Dho’fut Tanfizh)

2.       Kapasitas dalam problematika moral (Maradun nafs)
a.       Hilangnya keberanian (adamussaja’ah)
b.      Hilangnya sikap teguh pendirian (adamustsabat)
c.       Hilangnya semangat untuk mengingat Allah (adamudzdzakriyah)
d.      Hilangnya kesabaran (adamushshobr)
e.      Hilangnya makna ikhlas (adamus ikhlas)
f.        Hilangnya komitmen (adamul iltizam)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Film Sang Murabbi

Urgensi Jama’atul Muslimin tuk Tegakkan Islam

Ta'liful Qulub: Sahabat Dunia Akhirat