Postingan

Sebuah Empiris: Belajar Mendidik

Gambar
Mendidik bagiku merupakan tugas setiap yang terdidik dan ladang amal menyampaikan ilmu yang telah kita dapat. Bermula dari ajakan seorang teman, aku sampai di dunia ini. Di semester lima perkuliahan itu aku diajak mendaftar ke sebuah lembaga bimbingan belajar.  Curriculum Vitae  (CV) dan surat lamaran kerja kukirim ke alamat email lembaga tersebut. Ternyata, lamaranku diterima dan aku diminta datang untuk seleksi selanjutnya yakni tes tertulis dan interview. Alhamdulillah, aku lolos tes tersebut dan mulai mengajar keesokan harinya. Rasa khawatir kesulitan mengajar murid-murid beraneka karakter sempat muncul dalam benak. Namun, keyakinan dan dorongan dari teman pengajar lainnya memicu semangatku untuk mencoba berani.  Di awal aku mengajar, tak jarang aku harus menghadapi berbagai masalah. Ketika aku mengajar di kelas dua hingga empat SD misalnya, hampir setiap pertemuan selalu timbul keributan, berkelahi, tak mau belajar, dll. Akan tetapi, semak...

Personifikasi

Pagi itu, memang tak biasa. Karena memang aku sedang tidak berada di tempat biasa. Terbebas dari kegiatan rutin, mengatur jadwal, dan kesibukan lain yang cukup menyita waktuku. "SELAMAT PAGI," teriakku lantang. Ku kepakkan kedua tanganku, ku hirup udara pagi sedalam-dalamnya. Hening. Lantai keramik itu dingin. Terasa sekali saat aku menyentuh lantai teras rumah. Aku terduduk. Di kejauhan, asri pegunungan tak dapat mengalihkan pandanganku. Namun, tak selama yang kukira, suara gemericik air memecah sunyi. Entah dari mana asalnya dan rasa ingin tahu, melangkahkan kakiku mendekat ke sumber suara. Siapa sangka, keriuhan air itu berasal dari sela-sela akar tanaman. Terus mengalir menuju ke dalam tanah.  "Tanaman yang cantik, teruslah tumbuh dan berkembang. Sebarkan unsur O 2 di sekitarmu. Tempat ini akan selalu sejuk jika kamu bahagia," bisikku di antara tanaman yang tumbuh di taman depan teras. "Dan kamu, air yang jernih, mengalirlah sampai lelah itu lelah men...

Ikhlas: Everything For Allah

Setiap goresan kata menjadi pengingat bagiku akan setiap peristiwa yang telah terjadi. Terlalui sudah satu demi satu ujian hidup yang menyesakkan dada, tak jarang disertai rintikkan air mata. Aku melangkah tak henti. Bersama mimpi-mimpi indah yang selalu ingin terwujud. Tersenyumlah. Tak ada lagi yang perlu ditangisi. Setiap ujian ada hikmahnya. Dan aku akan berusaha tuk temukan. Ya, aku mengerti. Sebuah perjalanan akan menjadi lebih indah ketika dilalui bersama. Tak perlu menjadi kepingan yang berjalan sendiri-sendiri di mana sejumlah ideologi tercipta, saling berdebat, menjatuhkan. Sungguh, itu semua bukan yang utama. Ketakwaan dengan berjamaah itu yang lebih utama. Ketika engkau berjalan sendirian, engkau akan mudah dikalahkan. Maka berjalanlah bersama-sama, hidup bukan untuk saling menunjukkan siapa yang terkuat atau terhebat sehinggga bisa memenangkan pertarungan. Namun, hidup adalah saat engkau dapat menciptakan banyak saudara di mana saja engkau berada. Saat engkau ber...

MUJAHIDAH INTELEKTUAL

Meniti langkah, berjuang, menuju terang. oleh: Hilda Nur W. SATU LAGI KISAH YANG PATUT UNTUK DISELAMI. Seorang intelektual muslim lahir di tempat ini. Sebuah perkampungan makmur di pinggiran New York, Amerika Serikat. Di Westchester, 23 Mei 1934 silam, ia tumbuh menjadi wanita yang cerdas. Daerah yang terletak di ujung tenggara negara bagian New York ini berbatasan dengan Putnam County di sebelah utara dan batas selatan dengan New York City. Sedangkan di sisi timur oleh Long Island Sound dan Fairfield County, Connecticut dan sisi barat dengan sungai Hudson. Margaret Marcus, nama yang diberikan dari keluarga untuknya. Ia bukanlah dari keturunan islam melainkan Yahudi-Jerman. Kakek dan neneknya telah hijrah dari Jerman ke Amerika sekitar tahun 1848-1861, mencari penghidupan ekonomi yang lebih baik. Oleh karena keyahudian keluarganya hanya sekedar nama, ia dibesarkan sesuai lingkungan khas Amerika dan mendapat pendidikan sekular di sekolah negeri setempat seperti kakak pere...

Serdadu Kecil, Kobarkan Semangatmu!!

Gambar
Serdadu-serdadu kecil, teruslah gapai cita. Tunjukkan pada dunia, kalian bisa menjadi yang terbaik. Jakarta (15/11). PULUHAN ANAK BERKUMPUL DI SEBUAH GANG KECIL. Gadis-gadis kecil mengenakan pakaian muslim dengan jilbab beraneka model. Sedangkan laki-laki menggunakan baju koko lengkap dengan peci. Canda tawa menghiasi. Senyum menyungging di pipi. Laksana berangkat perang, mereka tengah menunggu intruksi dari sang komandan. Pagi ini udara cukup berangin. Tak pula hujan, seakan memberi dukungan positif akan kegiatan hari ini. Sang komandan mulai mengatur barisan anak-anak di hadapannya. Para ajudannya turut membantu. Kemudian, terdengar instruksi bahwa semua harus siap berjalan. Anak-anak kecil berbaris rapi layaknya serdadu kecil ingin beraksi. Gang demi gang ditelusuri. Senandung sholawat dan tetabuhan rebana iringi langkah kecil mereka. Semua mata mengarah pada rombongan. Terus beriringan. Keluar di gang terakhir, melewati pinggir jalan raya, hingga, sampailah mereka di Al...