Sejatinya Sebuah Keyakinan

Hari demi hari telah berganti. Kadang iman naik, kadang turun. Selalu, perubahan itu menemani. Sampailah aku di kenyataan ini. Masalah, demikian juga hadir silih berganti. Sulit-mudahnya ada pada pola pikir masing-masing. 

Kadang, khawatir menjadi sebuah keniscayaan saat iman pada Sang Pemberi Takdir tak sepenuhnya ada di relung hati. Tak selamanya, karena saat keyakinan telah sampai pada sebenar-benarnya, rasa khawatir itu sirna. Hanya dengan keyakinan yang penuh, tak perlu ada yang ditakuti, bahkan sekalipun dengan apa yang akan terjadi nanti.

Seperti itulah, kesan pertama saat aku memilih menjadi mukmin. Keyakinan jadi kunci kuatnya aku bertahan, sanggupnya aku melangkah, sabarnya aku berharap. Mungkin berbeda dengan orang lain. Ya, sudahlah, tak perlu jadi masalah. Perbedaan bukan harus memecah kan?

***
Seketika, tahun belakangan ini begitu banyak masalah yang hadir. Mungkin karena begitu terasa, sehingga kelihatan seperti lebih banyak dari biasanya. Entahlah, jika menghadirkan keimanan pilihannya adalah munculnya pengorbanan atau ujian. Sejatinya aku harus siap.

Masalah, ia hanya sebagian perkara yang belum pernah kuhadapi sebelumnya dan tampak menghambat, karena masalah bagiku belum tentu masalah bagi orang lain. Artinya, sudut pandangku tentang perkara ini perlu diubah.

Sebagaimana Rasulullah SAW mencontohkan ketika sedang dilanda kesulitan dalam masalah, beliau berdoa,  "Laa ilaahailallahul adziimul haliim, laa ilaahailallahu rabbul arsyil adziim, laa ilaahailallahu rabbus samaa waati wa rabbul ardhi rabbul arsyil kariim. “Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah. Tiada Tuhan selain Allah Tuhan Arsy yang agung. Tiada Tuhan selain Allah Tuhan langit, Tuhan bumi, Tuhan Arsy yang mulia.” HR. Bukhari-Muslim.

Dialah Allah, Rabb semesta alam yang menakdirkan semua ini terjadi. Maka, yakinlah bahwa takdirNya adalah yang terbaik. Tiada yang bisa mengubah takdir buruk menjadi baik, tak akan pernah hati menjadi lapang ketika tidak ada keyakinan yang bersemayam. Hanya kepadaMu Ya Robb, kami memohon pertolongan atas segala kesulitan dan kekahawatiran ini.

Sejak pertama aku memilih jalanMu, sejak itulah aku berusaha untuk menjadikan diri ini selalu yakin dan menetapi apa yang Engkau pilihkan. Aku hanya ingin melakukan apa yang bisa kulakukan semampuku. Sesulit apapun jalan hidup yang harus kulalui, hanya satu yang kupinta, jangan tinggalkan aku Ya Robb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Film Sang Murabbi

Ta'liful Qulub: Sahabat Dunia Akhirat

Pesan