Perubahan itu... NISCAYA

Oleh: Hilda Nur Wulandari

Malam membentuk siluet bayanganku di tepi dinding rumah. Saat itu hanya diam yang ingin aku lakukan. Kusadari, langkahku kini telah jauh. Berbeda dari sebelumnya. Ya Allah, kuatkanku di jalan ini. Kau tahu? Keyakinanlah yang mampu sampaikan aku pada titik perjalanan ini.

Ghea merebahkan badan di tempat tidur. Menghela napas setelah seharian beraktivitas di luar sana. “Hufh, alhamdulillah akhirnya bisa istirahat juga,” lirihnya. Ia menggerak-gerakkan tubuhnya yang pegal. “Esok pagi akan menjadi hari yang akan lebih padat dibanding hari ini. Itu artinya aku harus bisa optimalkan istirahat malam ini.” Pukul sebelas lebih sepuluh menit ia membersihkan diri agar bisa beristirahat dengan nyenyak. Setelah itu ia segera tidur.

Alarm Handphone membangunkannya. Tepat pukul tiga pagi ia beranjak dari tempat tidur. Duduk sebentar mengumpulkan nyawa, kemudian mengambil air wudhu. Sholat tahajud amat ia sukai. Dahulu, neneknya sering membangunkan dirinya untuk menunaikan sholat di sepertiga malam. Semenjak dewasa ia jadi terbiasa bangun malam. Hanya karena nenek, ia bertahan di rumah. Setelah kepergian neneknya, ia benar-benar tak betah di rumah. Saat ini, ia tak lagi tinggal bersama keluarga besar, tapi ia tak boleh kehilangan semangat. Tinggal di kost-an membuatnya merasakan kehidupan yang lain. Kemandirianlah yang harus ia lalui.

Satu tahun kini ia tak bertemu kedua orang tuanya. Rasa sakit hati setahun lalu belum bisa hilang dari benaknya. Ia telah mencoba untuk memaafkan segala yang terjadi. Akan tetapi rasanya rasa sakit itu menyisa di hatinya. Kini ia memutar jalan hidupnya hingga 1800 berbeda dari sebelumnya. Ia tak tahu mengapa ia pilih jalan ini. Ia hanya ingin Allah mengarahkan hidupnya. Menjadi telinga saat ia mendengar, menjadi mata saat ia melihat, menjadi kaki saat ia melangkah, menjadi tangan saat ingin menggunakan.

Ya, perubahan itu niscaya. Kini, ia percaya, tak ada yang sia-sia saat ia penuhi syaratnya. Ia mencoba menjadikan pelajaran atas masa lalunya. Tak ingin lagi sedih ada di hati. Azzamnya, suatu saat nanti ia pasti akan kembali ke rumah. Saat ia telah siap.

Hari ini ia berangkat ke kampus. Sesampainya, ia duduk sendiri di pinggir taman jurusannya. Ia ingat kisah itu.

***
“Kamu dibilangin, masih saja melawan. Mau jadi apa kamu.” Aku tak peduli dengan perkataan ibu. Aku melengos saja keluar rumah. Setiap hari, selalu ada saja perkara yang ibu permasalahkan denganku. Sebulan lamanya pertengkaran itu terjadi. Selalu aku menghindar saat ibu mulai memarahiku. Ibu tak pernah setuju aku mengambil jurusan ini. Menurut beliau, tidak cocok untuk seorang perempuan. Namun, aku tetap saja bersikeras.

Belum lagi masalah di rumah selesai, sekolah menjadi penyebab segala perubahan itu. Kelas tiga SMA saat itu menjadi sebuah kenangan menyenangkan sekaligus pilu baginya. Enam manusia yang ia pernah kenal di sekolah dahulu, baru ia ketahui berbeda pandangan dengannya. Ia pikir perbedaan tidak akan memecah. Nyatanya, ia harus relakan kehilangan sahabat terbaiknya. Tepat saat pengumuman kelulusan itu datang.

Lia mencoba membujuknya, “Ghea, kamu tetap dengan pendirianmu? Sudahlah, setelah ini kita harus membuat karya baru. Kamu tak ingin menyukseskannya?

“Aku paham, kamu pasti merasa lain dari kami, tapi tidakkah kamu ingin belajar mencintainya?” Gilang meyakinkan.

“Maaf Li, aku sudah putuskan untuk tidak mengambil jalan itu. Rasanya tak sesuai denganku. Aku sudah cukup banyak mengenal arah hidup itu dan kini aku ingin mencari jalan yang lain. Hatiku mencari yang lain. Maaf ya, jika aku belum bisa menjadi sahabat terbaik untuk kalian.” Sejak saat itulah Ghea tak pernah kembali. Keenam sahabatnya paham. Dirinya tak bisa melanjutkan jalan ini. Namun, kerinduan sering menyelusup di antara mereka.

Setahun silam itu amat menyisakan cerita. Gilang, Bayu, Shela, Aci, Lia, Nana, dan Harry pernah ada dalam hidupnya. “Walau kini sudah berbeda jalan, aku ingin selalu menganggap mereka sahabat,” pikirnya.

“Hei Aghia Ramanita, mengapa melamun?” Tanya sahabatnya, Lita.

“Tak apa. Aku hanya sedang berpikir.”

“Sudahlah Ghea, apatah yang ada dalam benakmu lepaskan. Masih banyak kan mimpi-mimpimu yang ingin kau gapai.”

“Ya, aku tahu. Aku tak boleh menyerah hanya karena masalah itu. Lagi-lagi ia beradu semangat dengan mimpi-mimpinya.”

Ia ingin mengikhlaskan segalanya mulai saat ini. Buku karya Sayyid Quthb yang dibacanya beberapa hari lalu membekas di pikirannya. Ia berjalan terus tanpa menoleh lagi. Ia yakin suatu hari nanti ia akan gapai segala mimpinya. Meski tanpa sahabat-sahabat di masa lalunya. Kini, Allah mempertemukannya dengan yang lain. Mereka yang sejalan dengan mimpinya. Belajar menerima mereka itu yang terpenting. Mimpi-mimpi itu mengarahkannya untuk berada di jalan ini.

Malam membentuk siluet bayangannya di tepi dinding rumah. Saat itu hanya diam yang ingin ia lakukan. Ia sadari, langkahnya kini telah jauh. Berbeda dari sebelumnya. Hanya satu yang terpikirkan. Semoga Allah kuatkan dirinya di jalan ini. Oleh sebab, keyakinanlah yang mampu sampaikan ia pada titik perjalanan ini. Keraguan yang sempat hadir ia harap tak akan lagi kembali. Perbedaan bukan lagi penghalang untuk meraih mimpi indahnya.

Sahabat, adakalanya jalan kita berbeda, tapi tak perlu ada sedih. Ketika saatnya tiba, akan datang perjumpaan itu kelak yang justru jauh lebih indah. Jika Allah menghendaki.

Ia pun yakin keluarganya akan bisa menerima pilihannya suatu saat. Bukti, menjadi hal penting yang akan ia tunjukkan. Usaha yang penuh akan ia lakukan selama waktu masih ada. Tak ada yang tak mungkin. Semua pasti ada jalannya. Jika Allah menghendaki. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Film Sang Murabbi

Urgensi Jama’atul Muslimin tuk Tegakkan Islam

Ta'liful Qulub: Sahabat Dunia Akhirat